Tidak ada istilah “isi” dan “kulit” dalam Islam, karena semua yang terkandung didalamnya adalah “isi”.

Dalam masyarakat kita sering ada olok-olokan “ngaji kulit” bagi seseorang yang menuntut ilmu Alquran dan hadist, menurut si pengolok-olok ngaji model ini tekstual, hanya memahami ayat atau hadist dari apa yang tertuang(tersurat), padahal menurut mereka ngaji yang benar lebih banyak makna yang tersirat. Dengan demikian mereka menganggap seseorang yang hanya berpegang teguh pada Alquran dan Hadist niscaya akan tersesat. Tentu ini anggapan bathil karena bertentangan dengan perkataan Rasulullah yang menyerukan agar umat muslim berpegang teguh pada Alquran dan As sunnah agar tidak tersesat, sedangkan menyelisihi keduanya adalah jalan kesesatan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Dikutip dr dauroh Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Siswo Kusyudhanto ke DAKWAH TAUHID DAN SUNNAH

***

Di kalangan liberal kemudian diciptakan apa yang mereka sebut Islam Substantiv. Istilah itu mereka bikin untuk menolak syari’at. Mereka takut kalau sampai syari’at Islam diterapkan.  Anehnya, mereka tidak pernah menyatakan diri “jangan terapkan sebutan muslim untuk diri saya”. Padahal ketika mereka menolak diterapkannya syari’at Islam itu semestinya termasuk sebutan muslim terhadap diri mereka juga harus ditolak untuk diterapkan.

Gerombolan mudzabdzab semacam itu sangat tercela. Apabila mereka tidak bertobat, maka diancam, tempatnya di akherat kelak di kerak neraka paling bawah. (lihat Qs A-Nisaa’/4: 143-145).

Anehnya, di Indonesia justru faham gerombolan yang berbahaya dan tercela itu digencarkan di perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Dan itu telah dijelaskan dalam buku “Ada Pemurtadan di IAIN”, maksudnya perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 558 kali, 1 untuk hari ini)