? Rifaqun Ashfiyaa’ bin Aunur rofiq bin ghufron bin hamdani. LC

Isteri taat kepada suami sangat penting untuk mewujudkan kerukunan rumah tangga, bukankah diantara sebab terjadi perceraian karena isteri tidak taat kepada suami, atau istri ingin mengatur suami?.

Wahai isteri, insya Allah suamimu adalah pria yang kamu senangi , jika kamu ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah suamimu adalah pemimpimu, silahkan baca surat An-nisa’ ayat no:34 Taati dia selama tidak memerintah yang haram, sampaikan udzurmu bila kamu tidak mampu, jika kamu bersabar mentaati perintahnya Allah azza wa jalla akan membalasnya dengan surga.

Bukankah Rasulullah shollohu alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Abdur rahman bin Auf rodliallhu anhu :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ »

Apabila wanita itu shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhon, dan taat kepada sauminya, dikatakan kepadanya, silahkan kamu masuk sorga melewati pintu yang kamu sukai [1]”

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bersumber dari Abu Hurairah rodliallhu anhu Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh rodliallohu anhu Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا »

Seandainya aku menyuruh orang agar sujud kepada orang tentu aku menyuruh isteri agar sujud kepada suaminya [2]”

Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullahberkata: Apabila wanita sudah menikah, maka suaminya lebih berhak dari pada ayahnya, isteri lebih wajib mentaati suami dari pada ayahnya [3]

Imam Bukhari didalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah rodliallhu anhu Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ »

“tidak boleh berpuasa (sunnah ) sedangkan suaminya dirumah kecuali dengan izinnya [4]”

Karena sangat mulianya taat kepada suami, isteri yang hendak beribadah puasa sunnah pun harus izin kepada suami bila suami di rumah. Inilah fungsi suami sebagai pemimpin, dia harus ditaati agar isteri tetap mulia

Suami akan merasakan bahagia juga bila isteri memenuhi kebutuhan suaminya, karena memenuhi seruan suami, isteri mendapatkan pahala juga, sebalikanya jika isteri menolak, padahal tidak ada udzur syar’i, malaikat melaknatnya sampai suami padam marahnya. Imam Muslim meriwayatkan hadits bersumber dari Abu Hurairah rodliallhu anhu Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ »

“Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan melaknatinya sampai pagi. [5]”

Isteri hendaknya betah dirumah, agar dia bahagia, hendaknya tidak keluar kecuali atas izin suaminya. Ibnu Rajjab rahimahullah berkata: ulama’ sunnah bersepakat bahwa wanita tidak boleh keluar pergi ke masjid bila suami tidak mengizininya [6]

Syaikh bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata: “menurut asal, wanita tempat tinggalnya dirumah, karena Allah azza wa jalla menyifati mereka tinggal dirumah silahkan baca surat al-Ahzab :33. Inilah ketetapan Allah azza wa jalla untuk kebahagiaan wanita, sedangkan mereka boleh keluar apabila dalam keadaan terpaksa , oleh karena itu ketika dibolehkan keluar hendaknya tidak bersolek diri seperti wanita jahiliyah dan hendaknya tidak tercium bau aromanya . [7]”

Isteri hendaknya pandai menghibur suaminya

Imam Nasai rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Huroirah rodliallhu anhu dia berkata : Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam pernah ditanya: wahai Rasulullah siapakah wanita yang paling baik, lalu beliau menjawab :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Wanita yang menyenangkan suaminya bila melihatnya, mentaati perintah suaminya, dan tidak menyelisihinya pada jiwa dan harta dengan sesuatu yang dibenci[8]”

Isteri hendaknya bersabar ketika suami mengalami kesulitan mencari rizki, hendaknya menjadi isteri yang qonaah , karena apabila wanita menikah tujuannya ingin mencari pahala, insya Allah surga imbalannya. Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“dan jika kamu sekalian (isteri ) menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.[9]”

Bersabarlah ketika suami marah, dan mencari penyebabnya, mungkin isteri yang salah, karena tutur kata yang buruk, kurang sopan atau tidak mengurusi anak. Jauhkan dirimu dari sifat yang kurang adab . Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam tatkala ditanya oleh wanita; mengapa wanita banyak masuk neraka? Beliau r menjawab :

تَكْفُرْنَ العشيرَوتكثرن اللعن

“Karena kamu mengingkari kebaikan suami, dan kamu sering mencaci suami[10]”

Jadilah wanita yang dermawan, hilangkan sifat bakhil dan kikir, sifat tamak dan rakus dunia, sehingga dirimu menjadi ahli surga.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori bersumber dari Aisyah rodliallohu anha Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ فَلَهَا أَجْرُهَا وَلِلزَّوْجِ بِمَا اكْتَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ

“Jika seorang wanita (isteri) berinfaq dari makanan rumahnya dan bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala dan bagi suaminya (pahala) dari yang diusahakannya dan juga bagi seorang penjaga harta/bendahara akan mendapatkan pahala seperti itu”.[11]

Wahai saudariku! jika ini semua kamu kerjakan dengan baik, kami yakin kebahagianmu bukan hanya di dunia, kamu menjadi wanita mulia, keturuanmu pun insya Allah menjadi anak yang shalih dan shalihah, tempat kembalimu surga insya Allah.

[1] (HR. Abu Nuem fil Huliyah . dishohihkan oleh Albany al-Misyakat 2/239 no:3254)
[2]HR Tirmidzi 5/1 Dishahihkan oleh Imam Albani
[3] HR Bukhori Bab shoumil mar’ah .Taudhihul ahkam 3/199
[4] HR Bukhori Bab shoumil mar’ah .Taudhihul ahkam 3/199
[5] Shahih Muslim No.2594
[6] Fathul Bari li ibni Rajjab 6/140 dan ini adalah pendapat Imam Syafii, Ibnul mubarok, Imam Ahmad dan lainnya
[7] Maalimus Tsaqofatil Islamiyah :274
[8] HR Nasai 6/28 , dishohihkan oleh Al-Bany , lihat silsilahshohih no 1838 4/337
[9] QS. Al-Ahzab (33) :29
[10] HR Shahih Ibnu Hibban 8/111
[11] HR Bukhori No. Hadist: 1350

Copas dari fb ust Abu Ubaidah As Sidawi

Via fb Aslam Umar Bamajbur

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.603 kali, 1 untuk hari ini)