1 Juli dan Polisi

  • Ada hadits, jangan jadi polisi dsb di zaman umara’ sufaha’ (para pemimpin bodoh – munafik, menentang hukum Allah Ta’ala, tidak becus mengelola keuangan…)


Ilustrasi. Foto/trbn/pamswakarsa

Silakan simak ini.

***

Apa Itu Hari Bhayangkara dan Sejarah di Balik Penetapannya?

Penulis Dandy Bayu Bramasta

Editor Sari Hardiyanto

Banyak yang mengira Hari Bhayangkara (1 Juli) adalah ulang tahun atau awal berdirinya Kepolisian RI (Polri).

Bukan, Hari Bhayangkara adalah hari Kepolisian Nasional yang diambil dari momentum turunnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 11 Tahun 1946.

Adapun peraturan tersebut menyatukan kepolisian yang semula terpisah sebagai kepolisian daerah menjadi satu kesatuan nasional.

Kepolisian itu bertanggung jawab secara langsung pada pimpinan tertinggi negara, yaitu presiden.

Sebelum kemerdekaan

Mengutip laman resmi Polri, pada zaman Kerajaan Majapahit, patih Gajah Mada membentuk pasukan pengamanan yang disebut dengan Bhayangkara yang bertugas melindungi raja dan kerajaan.

Berlanjut pada masa kolonial Belanda, pembentukan pasukan keamanan diawali oleh pembentukan pasukan-pasukan jaga yang diambil dari orang-orang pribumi untuk menjaga aset dan kekayaan orang-orang Eropa di Hindia Belanda pada waktu itu.

Pada 1867, sejumlah warga Eropa di Semarang merekrut 78 orang pribumi untuk menjaga keamanan mereka.

Wewenang operasional kepolisian ada pada residen yang dibantu asisten residen. Rechts politie dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (jaksa agung).

Pada masa Hindia-Belanda, terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan), stands politie (polisi kota), cultur politie(polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.

Namun, pribumi tidak diperkenankan menjabat hood agent (bintara), inspekteur van politie, dan commisaris van politie.

Untuk pribumi selama menjadi agen polisi diciptakan jabatan seperti mantri polisi, asisten wedana, dan wedana polisi.

Kepolisian modern Hindia Belanda yang dibentuk antara 1897-1920 adalah merupakan cikal bakal dari terbentuknya Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini.

Lalu, saat masa pendudukan Jepang, wilayah kepolisian Indonesia terbagi dalam beberapa wilayah.

Terbagi menjadi Kepolisian Jawa dan Madura yang berpusat di Jakarta, Kepolisian Sumatera yang berpusat di Bukittinggi, Kepolisian wilayah Indonesia Timur berpusat di Makassar, dan Kepolisian Kalimantan yang berpusat di Banjarmasin.

Berbeda dari zaman Belanda yang hanya mengizinkan jabatan tinggi diisi oleh orang-orang mereka, saat di bawah Jepang, kepolisian dipimpin oleh warga Indonesia.

Akan tetapi, meski menjadi pemimpin, orang pribumi masih didampingi pejabat Jepang yang pada praktiknya lebih memegang kuasa.

Masa kemerdekaan

Tidak lama setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, pemerintah militer Jepang membubarkan PETA dan Gyu-Gun.

Sedangkan polisi tetap bertugas, termasuk waktu Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin, Komandan Polisi di Surabaya, pada tanggal 21 Agustus 1945 memproklamasikan Pasukan Polisi Republik Indonesia.

Hal itu sebagai langkah awal yang dilakukan selain mengadakan pembersihan dan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang kalah perang.

Pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Kepolisian Negara (BKN).

Pada 29 September 1945, Presiden Soekarno melantik RS Soekanto Tjokrodiatmodjo menjadi Kepala Kepolisian Negara (KKN).

Pada awalnya kepolisian berada dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama Djawatan Kepolisian Negara yang hanya bertanggung jawab masalah administrasi, sedangkan masalah operasional bertanggung jawab kepada Jaksa Agung.

Namun, sejak terbitnya PP Nomor 11 Tahun 1946, kepolisian negara bertanggung jawab secara langsung kepada presiden.

Tanggal 1 Juli inilah yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Bhayangkara hingga saat ini.

kompas.com, Kompas.com – 01/07/2020, 08:36 WIB

***

 

Akan Datang Zaman, Ada Pemimpin Sufaha’ Mengutamakan Orang-orang Jahat Dicitrakan sebagai Orang Baik

  • Ada hadits, jangan jadi polisi dsb di zaman umara’ sufaha’ (para pemimpin bodoh – munafik, menentang hukum Allah Ta’ala, tidak becus mengelola keuangan…)


  • “… Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi penasehatnya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”
    (Hadits Riwayat Abu ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan berkata Haitami: para rijalnya shahih, dan di hasankan oleh Al Bani).


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ يُقَدِّمُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيَظْهَرُونَ بِخِيَارِهِمْ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ، فَلَا يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا» . رواه أبو يعلى وابن حبان في صحيحه، وقال الهيثمي: رجاله رجال الصحيح خلا عبد الرحمن بن مسعود وهو ثقة اهـ. وحسنه الألباني
.

“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah Sufaha, lebih mengutamakan orang – orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan shalat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi penasehatnya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”

(Hadits Riwayat Abu ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan berkata Haitami: para rijalnya shahih, dan di hasankan oleh Al Bani).

Silakan simak artikel dari satu situs berikut ini.

***

 JADILAH LEBIH SHALIH SAAT ZAMAN SEMAKIN MEMBURUK

Di akhir masa umat Islam harus menjadi sholih dalam menghadapi zaman

 Assalamualaikum semua,
Selamat pagi sahabat cahaya Qur’an, semoga masih bersemangat dalam menuntut ilmu.. langsung saja kepembahasan kita kali ini :

Gambaran umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana kondisi suatu kaum dari zaman ke zaman.

Zaman Yang Semakin Memburuk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

أخرجه البخاري في صحيحه من حديث الزبير بن عدي

“Tidaklah datang kepada kalian suatu masa kecuali setelahnya lebih buruk dari sebelumnya, sehingga engkau akan bertemu dengan Allah (Rab Kalian).” (HR. Bukhari)

Hadits di atas sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh umat Islam saat ini.

Penguasa Penindas.

….ثم تكون ملكا عاضا فيكون ماشاء
الله أن يكون……

“Kemudian akan ada kerajaan (penguasa) yang penindas yang berlangsung sampai masa yang dikehendaki Allah SUBHANAHU WA TA’ALA .” (HR. Baihaqii, dishahihkan oleh Al Albani dalam silsilah Al Hadits Shohihah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan para penyelenggara negara yang telah menyengsarakan rakyatnya. Hadits dari ‘Aisyah RA, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

“Ya Allah, barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dia, dan barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka, perlakukanllah dia dengan baik pula.” (HR. Muslim No. 1828, Ahmad No. 24622, Ibnu Hibban No. 553, Abu ‘Uwanah No. 7025, dll)

  
 

Penguasa Yang Penipu.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara” Ditanyakan : “Apakah Ar-Ruwaibidhah ?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu MAjah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari,13/84).

  
 

Penjaga Keamanan Yang Tidak Taat Kepada Allah subhanahu wa ta’ala .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  
 

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ“.

“Akan datang di akhir zaman adanya petugas keamanan yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka.”

(HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat _At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir,_2/192).

  
 

Membenci Arab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 يا سلمان لا تبغضنى فتفارق دينك. قلت يارسول الله كيف ابغضك وبك هدانا الله. قال تبغض العرب فتبغضني

“Wahai Salman. Janganlah kamu membenciku. Hal itu akan berdampak engkau akan terlepas dari Agamamu. Salman bertanya : Bagaimana aku membencimu. Padahal kami mendapat Hidayah karena keberadaanmu ? Engkau membenci Arab maka engkau telah membenciku.”

(HR. At Tirmidzi No. 3927, katanya: Hasan. Ahmad No. 23731, Al Hakim dalam _Al Mustadrak_ No. 6995, katanya : shahih. Sebagian Ulama yang lain menilai hadits ini doif).

  
 

Penguasa Yang Sufaha.
 

«لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ يُقَدِّمُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيَظْهَرُونَ بِخِيَارِهِمْ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ، فَلَا يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا»
“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah Sufaha, lebih mengutamakan orang – orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan shalat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi menterinya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”

(Hadits Shohih menurut ibnu Hibban. Dan Hasan Menurut Al Albani).

 Sufaha asal artinya orang-orang yang kurang waras. Al Qur’an menyebut 3 golongan manusia sebagai sufaha :

  • Orang –orang munafiqin (QS. Al Baqarah : 3)
  • Orang-orang yang menentang hukum Allah subhanahu wa ta’ala (Yahudi) (QS. Al baqarah : 142)
  • Orang –orang yang tidak mampu mengelola keuangan pribadi (apa lagi negara) (QS. An Nisa : 5)

  
 

Zina dan Riba Merajalela.

Dari Ibnu ‘Abbas RA bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ

“Jika Zina dan Riba sudah muncul di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan azab yang ditetapkan Allah.”

(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5416. Al Hakim: Shahihul isnad. Syaikh Al Albani menshahihkan dlam Shahihul Jami’ No. 679).

  
 

Jumlah Ulama Semakin Sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  
 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidaklah menghapuskan ilmu begitu saja dari manusia. Tapi dihapuskannya dengan mewafatkan ulama, sampai Ulama tidak tersisa. Manusia pun mengambil tokoh – tokoh bodoh, lalu mereka ditanya, dan berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan .” ( HR. Al Bukhari )

  
 

Kondisi Umat Tidak Berkualitas.

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

Dari Tsauban ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hampir – hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (Umat Islam ), Layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk. “Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, Namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah Akan mencabut dari dada dada musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn?” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn ?” beliau menjawab : “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud No. 3745. Syaikh Bin Baaz mengatakan: hasan. Lihat _Majmu’ Al Fatawa,_ 5/106).

Subhanallah, betapa gambaran yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sangat identik dengan realita yang sedang dialami oleh Umat Islam saat ini. Tentu sebagai muslim kita merasa gelisah, sering muncul perasaan khawatir yang sangat dengan kondisi negeri kita saat ini. Kendati demikian, SEBAGAI MUKMIN KITA TETAP TIDAK BOLEH BERPUTUS ASA.

Karena harapan kebangkitan Umat Islam tetap masih ada, selama masih ada kelompok yang baik atau pribadi yang shalih, yaitu :

Para Ulama dan umat bersatu dengan tekad bersama-sama berjuang dalam menegakkan Kalimatullah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama !” (QS. An Nisa : 71)

Para Pemuda Muslim yang siap untuk bangkit dan memiliki semangat bagai Pemuda As –Habul Kahfi.

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesunggunya mereka adalah pemuda – pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi : 13)

Umat Islam sadar bahwa dirinya harus meningkatkan taqwa-nya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berusaha untuk istiqomah di jalan taqwa itu. Dari Tsauban RA, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada segolongan (thaifah) umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang memusuhi mereka, sampai Allah datangkan urusannya (Kiamat), dan mereka tetap demikian.” (HR. Muslim No. 1920, At Tirmidzi No. 2229, Ibnu Majah No.6).

  
 

Ulama dan Umat memiliki keberanian menasihati pemimpin yang dzalim.

Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  
 

“Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah mengutarakan perkataan yang benar di hadapan pemimpin yang zalim.” (HR. At Tirmidzi No. 2329, katanya: hasan).

  
 

Mari kita renungkan nasihat saat kita berada dalam situasi sulit seperti ini:

  
 

Agar kalian semua tahu dan menyadari betul, bahwa tidak ada tempat bersandar kecuali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Dan agar jangan pernah kalian menanti dukungan dan kemenangan kepada seorangpun kecuali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Oleh karenanya ikhwah sekalian, merengeklah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam doa-doa kalian.

Dan bersungguh-sungguhlah dalam beramal !

Masyaallah, sungguh nasihat yang begitu tepat bagi kaum muslimin negeri ini. Wahai saudaraku, marilah kita segera bertaubat dan merengek-rengek kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita segera terlepas dari kezaliman penguasa dan fitnah media sebagaimana yang kita alami saat ini.

  
 

Demikianlah penjelasan dari kami . semoga kita para kaum muslimin bisa mengambil pelajaran, Wallahu’alam bisshawab ..

  
 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

cahayaquran.org, Oktober 22, 2019 Cahayaquransidoarjo
Posted on 11 Oktober 2020

by Nahimunkar.org

 
 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 357 kali, 1 untuk hari ini)