.

Senin 8 Jamadilawal 1435 / 10 Maret 2014 10:28

  Oleh: Andi Ryansyah Mahasiswa FMIPA UNJ dan Penggagas Komunitas Studi Pemikiran Islam (KUPAS) UNJ

 

Hai orang-orang yang beriman, jika seorang datang kepada kalian membawa berita  yang patut diragukan kebenarannya, maka selidikilah berita itu dengan saksama. Agar kalian tidak melakukan tindakan kebodohan terhadap suatu kaum, sehingga kalian menyesali atas apa yang kalian lakukan itu. “ (Al-Hujurat:6)

1. Di pamflet tertera nama Prof.Dr.Jalaludin Rakhmat, M.Si. sebagai pembicara.  Padahal ia belum bergelar profesor dan doktor.Berdasarkan surat dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Universitas Padjajaran menyatakan bahwa Bapak Jalaludin Rakhmat belum memiliki gelar guru besar di UNPAD dan secara administratif, UNPAD belum menerima ijazah doktor Jalaludin Rakhmat.

jl 10 Keganjilan Acara Kuliah Umum Jurusan Agama UNJ klarifikasi UNPAD Gelar Jalal 10 Keganjilan Acara Kuliah Umum Jurusan Agama UNJ

Kemudian DIKTI mengklarifikasi gelar doktor Jalaludin Rakhmat yang didapat di program Distance Learning Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia(IPWI) Dili tahun 1999, bahwa DIKTI tidak pernah memberikan ijin penyelenggaraan pendidikan S3 Distance Learning di IPWI Dili tersebut.

Surat DIKTI 001 2 10 Keganjilan Acara Kuliah Umum Jurusan Agama UNJ

2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa sesat syi’ah dan MUI pusat telah menyetujui fatwa tersebut. Selain itu, MUI pusat juga  telah menerbitkan buku yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Sedangkan, Jalaludin Rakhmat adalah tokoh utama syi’ah di Indonesia.

3. Jurusan Ilmu Agama Islam (JIAI) yang juga menjadi bagian dari UNJ, sebuah kampus pendidikan yang sepatutnya menjunjung tinggi tujuan pendidikan nasional dalam pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.  Namun malah mengundang Jalaludin Rakhmat sebagai pembicara yang gelar dan agamanya bermasalah.

4. Jalaluddin Rakhmat batal datang, lalu digantikan oleh Ali, seorang syi’ah asal afghanistan yang sedang menempuh studi Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) di UNJ. Jalaluddin Rakhmat digantikan oleh orang syi’ah juga. “Saya syah Afghanistan,” tutur Ali saat mengenalkan diri kepada peserta kuliah umum. JIAI tampaknya sangat ingin menghadirkan orang syiah di kuliah umumnya.

5. Noor Rachmat selaku Kepala JIAI mengatakan bahwa tidak mengenal Jalaluddin Rakhmat dan baru mengenal Ali. Bahkan Noor Rachmat mengatakan bahwa Ali datang ke sini bukan karena diundang, melainkan datang sendiri karena ingin tahu tentang syi’ah di Indonesia. Orang yang baru dikenalnya diberikan panggung menjadi pembicarakuliah umum dengan tema yang tidak main-main yaitu “Mencari Format Islam yang Moderat dan Berwawasan” yang konteksnya di Indonesia.  Tema ini sepatutnya disampaikan oleh pakar yang sangat paham tentang Islam di Indonesia setara ulama.

6. Terjadi kesimpangsiuran mengenai alasan kehadiran Ali sebagai pengganti Jalal. Berbeda dengan keterangan Noor Rachmat, panitia kuliah umum Achmad Hakam MA jutsru mengatakan Ali memang diundang sebagai pembicara. Tema yang dipakai juga janggal, sebelumnya saat mahasiswa FIS melakukan kajian bahaya Syiah pada Rabu (5/3), Noor Rachmat menekankan kehadiran Jalal lebih untuk berbicara kepemimpinan, tapi mengapa Ali justru tampil untuk mempromosikan Syiahnya? Apalagi Kuliah umum JIAI tampak kurang serius karena Ali diundang hanya untuk sharing wawasan, bukan berbagi ilmu. Lebih kuat Indikasinya, Ali diundang karena seorang syiah.

7. Indikasi upaya Syiahisasi UNJ itu semakin kuat dalam kata sambutan Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Andy Haryanto yang mengatakan, “Kita akan membuat roadshow Jalalisasi agar teman-teman di sini tidak antipati dan sensi mendengar kata syi’ah atau Jalal. Pak Noor tolong dilanjutkan Jalalisasinya, Nurcholisisasinya, dan termasuk mungkin Wahabisasinya,” kata Andy Hadiyanto.

8. Selama kuliah umum berlangsung, Ali malah mempromosikan Syiah. Dikatakannya Syiah dan Sunni itu sama-sama Islam, kitab suci syiah juga Al Qur’an, kiblat dan masjidnya sama, rukun Islam dan iman syi’ah sama dengan sunni, syi’ah tidak benci Abu Bakar dan Umar, 70% sunni dan 30% syi’ah di Afghanistan tidak konflik.

Jelas ini pernyataan penuh dengan kedustaan, karena MUI sebagai lembaga ulama tertinggi di Indonesia sudah melakukan studi mendalam terhadap kitab-kitab Syiah yang menerangkan perbedaan Rukun Syiah dengan Rukun Islam. (Lihat: Buku Panduan MUI, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah, 2013). Tentu kecurigaan kami mulai muncul, apakah Ali sedang bertaqiyyah untuk memuluskan jalan Syiah masuk ke UNJ?

Lalu, pernyataan Ali bahwa kehidupan Syiah dan Sunni baik-baik saja, tentu ini patut dipertanyakan. Karena informasi konflik antara Sunni dan Syiah di Afghanistan terus terjadi hingga kini. Sebagai negeri dengan mayoritas umat Islam, tentu warga Afghanistan sangat menjaga prinsip Ahlussunah. Namun upaya, kelompok Syiah di Afghanistan secara terbuka mengkampanyekan ajarannya secara terbuka (Asyura di Jalan-jalan kota Kabul) menimbulkan konflik dengan Ahlussunah.

Iran sebagai negeri Pusat Syiah melakukan cara-cara kekerasan untuk melakukan perlawanan terhadap kelompok Ahlussunah seperti Taliban. Juni 2010, misalnya, seperti dilansir Islam Memo, Iran turut mempersenjatai kelompok Syiah untuk menyerang kelompok Ahlussunah.

Iran khawatir tegaknya Syariat Islam di Afghanistan bakal menjadi ancaman terbaru bagi Iran. Kalau memang mengaku sebagai negara “Republik Islam”, kenapa Iran justru menghalangi tegaknya Syariat di negara tetangganya. (Lihat: Muhammad Pizaro, Zionis dan Syiah  Bersatu Hantam Islam, Aqwam Media: 2014)

9. Ketika sesi tanya jawab, Andy Hadiyanto bertanya kepada Ali, Apa rukun Islam dan Imanmu? Ali menjawab rukun Islamnya shalat, syahadat, puasa, zakat,dan haji, sedangkan rukun imannya dijawab ada 6 tanpa bisa menyebutkan satu per satu bunyinya secara lengkap. Merespon jawaban Ali, PD III FIS menilai buku MUI yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” ini fitnah sebab rukun Islam dan Iman syi’ah sama dengan sunni.

Andy Hadiyanto terlalu terburu-buru dan  mudah sekali percaya dengan ucapan seorang syi’ah yang tidak meyakinkan bahkan sampai-sampai menjadikan ucapan Ali sebagai ukuran bahwa buku yang ditulis MUI adalah fitnah. Apakah Andy Hadiyanto sudah melakukan audiensi dengan MUI?

10. Syamsul Arifin,dosen JIAI yang juga menjadi pembicara kuliah umum mengatakan bahwa syi’ah bukan bangsat, telur busuk,dan lain sebagainya karena syi’ah itu kepercayaan masing-masing. Kemudian ia menceritakan testimoninya bersama Kang Jalal.  Dulu ia pernah belajar dengan Kang Jalal di yayasan Al’Araf. ”Enak, KangJalal banyak amalannya, Kang Jalal bisa baca kitab, kita shalat sunnah, Kang Jalal juga shalat sunnah, kita do’a rabbana atina, Kang Jalal juga do’a rabbana atina, walaupun saya bukan syi’ah tapi asyik-asyik saja karena tidak diancam sama Kang Jalal, Kang Jalal adalah seorang Cendekiawan, ”tuturnya.

Ternyata Syamsul Arifin adalah pengagum Jalaludin Rakhmat. Kemudian juga secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa syi’ah tidak sesat dan Jalaludin Rakhmat tidak masalah dan layak menjadi pembicara kuliah umum. Kalau untuk sekedar baca kitab, masih banyak ulama yang layak untuk dikagumi, ketimbang Jalal yang masalah gelar saja sudah tidak jujur.

Wallahua’lam. (nahimunkar.com)

(Dibaca 2.729 kali, 1 untuk hari ini)