Sekilas Mengenal Said Aqiel Siradj:

(1). Pada priode 1995-an majalah Aula memuat foto Said Aqiel berkhothbah di dalam gereja Surabya dg background patung Yesus di atas kepala Said Aqiel.

(2). Buku karangan Said Aqiel, berjudul Ahlussunmah Wal Jamaah Sebuah Kritik Histori, sengaja membelokkan devinisi dan sejarah hakikat Ahlussunnah, hal 6, 7, 15, 21, 23, 27, 40, 41 bertentangan dg pendapat ulama salaf seperti Imam Ibnu Sirin dalam Muqaddimah kitab Shahih Muslim hal 34 (vol 1). Pendapat Imam Yahya bin Said Al-anshari dalam Shahih Bukhari hal 1.475 (vol 4), dan para Imam lainnya.

(3). Said Aqiel pidato di banyak tempat, membela kepentingan kaum Nasrani, dia mengatakan Islam dan Kristen adalah saudara misan.

(4). Markaz Pejuang Islam mempunyai kaset Said Aqiel yg berisi pidato pembelaan penuh terhadap aqidah Syiah Imamiyah.

(5). Karangan Said Aqiel, buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial pada hal. 82 menuduh Imam Syafi\`i adalah Sunni secara politis, tetapi merupakan simpatisan Syiah. Dalam buku ini juga banyak pembelokan arti tasawuf dari pemahaman ulama Salaf, disesuaikan misi dan pemikiran Said Aqiel.

(6). Perjuangan Said Aqiel dalam Seminar di IAIN Surabaya menghasilkan Khong hucu menjadi agama resmi di Indonesia.

(7) Dalam Muqaddimah Buku PMII Landasan dan Arah dg judul MENGEMBALIKAN ASWAJA SEBAGAI MANHAJUL FIKRI, hal 3, Said Ageil mengatakan : Selama ini, yang kita ketahui tentang Ahlus Sunnah wal Jama`ah adalah madzhab yang dalam aqidah, mengikuti salah satu dari Imam al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, dalam `ubudiyah (praktek peribadatan) mengikuti salah satu imam empat, yaitu Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad as-Syafi`i dan Ahmad bin Hanbal, dan dalam bertashawuf mengikuti salah satu dua imam, yakni Abu Qasim al-Junaidi al-Baghdadi dan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Itu yang ditulis oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy`ari dalam qanun asasi dan di setiap muktamar NU, juga disampaikan oleh Rais Aam sebagai sambutan pokok. Kalau kita mempelajari Ahlus Sunnah dengan sebenarnya, batasan seperti itu, agak membuat kita risih. Katakan saja, cukup memalukan, karena kesederhanaannya itu. Sebab, pengertian tersebut merupakan definisi yang -maaf, bukan saya tidak menghargai Kiai Hasyim Asy`ari dan ulama-ulama sesepuh kita yang lain- sangat manipulatif dan bersifat ikhtikar (monopoli).

Pada hal 5, Said Aqiel mengatakan : Terpilihnya Abu Bakar merupakan satu kesalahan yang dampak buruknya dijaga Allah demi kejayaan Islam.

Pada hal 6, Said Aqiel mengatakan : Dengan demikian kemampuan Rasulullah meredam fanatisme kabilah sebenarnya tidak tuntas. Hasil yang dicapai Rasulullah dalam menekan sukuisme belum maksimal.

Pada hal 8, Said Aqiel mengatakan: Di masa-masa awal pemerintahan, kira-kira enam tahun pertama kekhalifahan Utsman keadaan wajar-wajar saja. Semuanya berjalan dengan baik. Kemenangan terjadi di mana-mana, katakanlah sukses. Namun di masa-masa akhir, ketika usianya mulai lanjut, Utsman mulai PIKUN.

Pada hal 9: Said Aqiel mengatakan : Di sini, Utsman mulai menyemai bibit perpecahan.

(8). Umat Islam sempat menjadi resah dan bertanya-tanya, tentang tampilnya Said Aqiel di atas mimbar gereja Aloyius Gonzaga Surabaya pada hari Sabtu malam tgl 28 Feb 1998, yang beritanya dimuat esok harinya Minggu 29 Feb 1998 oleh beberapa media cetak termasuk Majalah Aula milik NU, dengan memampang gambar photo Said Aqiel sedang berkhutbah, dengan background gambar Yesus disalib, tepat di atasnya.

(9). Pernyataan Said Aqiel, di Harian Surya, Minggu tanggal 6 Sept 1998, dalam artikel bertema “Kristen Ortodoks Diperkenalkan di Surabaya”, Said menyatakan satu statemen: “Tidak ada kebenaran yang mutlak, selain dzat Allah”.

Yang menjadi pertanyaan terhadap statemen ini adalah, apakah Said Aqiel meragukan kebenaran Rasulullah SAW yang disifati al-Qur`an dalam surat an-Najm ayat 3-4 yang artinya (Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya).-(Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Tentunya sah-sah saja jika ada orang yang meragukan keimanan Said Aqiel terhadap ayat ini. Karena baik al-Qur`an maupun sabda beliau SAW adalah mutlak kebenarannya. Sebab datangnya dari Allah SWT. Adapun adanya pembagian hadits menjadi mutawatir, shahih hasan dan dhaif, tiada lain dipengaruhi keadaan perawi-perawinya, bukan tinjauan terhadap hakekat “sabda Nabi” yang mutlak kebenarannya. Padahal ajaran Kristen Ortodoks ini juga mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW.

(10). Tulisan Ir. Salahuddin Wahid cucu pendiri NU yang dimuat dalam kitab “Musykilat dalam NU” diterbitkan oleh Forum Nahdiyyin untuk Kajian Strategis – Jakarta, hal 39 dengan judul “Departemen Agama Tak Diperlakukan?” sebagaimana berikut: Pada 16 Juli 1998, Tim 5 PBNU telah mengadakan dialog interaktif 2 dengan tema “Membangun Kebhinekaan dalam Kesatuan Bangsa” Wakil Katib Aam PBNU, Dr. Said Aqiel Siradj, salah satu seorang kepercayaan Gus Dur, saat itu menjadi salah seorang pembicara yang menarik perhatian peserta dialog, karena terkadang mengemukakan pandangan kritis, sensasional bahkan kontroversial.

Misalnya, ketika ada seorang peserta yang mengusulkan Said Aqiel menjadi Menteri Agama kalau nanti partainya menang, Said Aqiel menanggapi bahwa bila hal itu terjadi, langkah pertama yang dia lakukan adalah membubarkan Departemen Agama (Depag). Saya (Salahuddin, pen) menganggap lontaran pendapat itu hanyalah upaya Said Aqiel untuk menarik perhatian atau mencari sensasi.

Tapi seorang kawan mengatakan bahwa itu bukan pertama kali dilontarkan Said Aqiel, bahkan beberapa kawan lain mengangggapnya sebagai pelecehan terhadap ulama. Banyak warga NU sendiri merasa tersinggung mendengar ucapan itu.

Kalau saya (Salahuddin, pen) tidak keliru, Gus Dur juga pernah melontarkan gagasan serupa. Saya tidak tahu apakah Said Aqiel mengikuti pendapat Gus Dur ataukah itu gagasan sendiri. Yang jelas, kalangan non Islam dan nasionalis-sekuler sangat senang apabila Depag dibubarkan.

Sekali lagi saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang sifatnya kebetulan ataukah ada sesuatu dibaliknya. Pertanyaan itu wajar diajukan kalau kita mengacu kepada visi politik Said Aqiel yang menyatakan akan bergabung dengan koalisi Mega Gus Dur. Kalau gagasan Said Aqiel dkk, memang sebuah sikap politik yang didasari kesamaan pandangan dengan kelompok nasionalisme-sekuler, kita perlu mengingatkan Said Aqiel dkk.

Apakah hal ini sudah dipertimbangkan masak-masak akibatnya? Kalau hanya bersifat kegenitan untuk memperoleh sensasi, sebaiknya itu tidak diteruskan, karena akan membingungkan masyarakat termasuk warga NU.

(11). Said Aqiel sebagai tokoh muslim ikut gencar memperjuangkan pengagamaan Khong Hu Cu dan pengesahan perkawinan dengan cara mereka, tentunya tanpa melihat dan mempertimbangkan Kaidah Fiqhiyah: Ridla dengan kemaksiatan hukumnya maksiat dan ridla dengan kekafiran hukumnya kafir.

Usaha Said Aqiel tersebut diekspos oleh Harian Surya Minggu 16 Nov 1997 sbb:

Dr Said Aqiel Siradj dalam seminar nasional “Khong Hu Cu Disoroti” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (15/11) mengatakan: “Di Indonesia Islam sudah paling besar, mayoritas, terwakili, Mau nuntut apalagi. Tinggal dulur-dulur, misan-misan (saudara-saudara) kita yang masih belum punya hak ini yang harus kita perjuangkan, kenapa dibedakan,” kata Said berapi-api di Wisma Bahagia IAIN Sunan Ampel. Namun Said mengingatkan, memperjuangkan Khong Hu Cu harus dengan penuh kebijakan, bukan dengan cara radikal. Agar NU satu suara memperjuangkan ini, dia akan melakukan pendekatan pada ulama sepuh NU.

KOMENTAR : Di atas, adalah secuplik dari sekian banyak pernyataan Said Aqiel Siradj yang perlu dicermati oleh umat Islam. Untuk selanjutnya, terserah masing-masing pembaca untuk menilainya.

Imam Ghazali mengatakan : Jika ada seorang tokoh yang menjadi panutan, sedangkan orang tersebut berbuat maksiat (baik maksiat fisik maupun aqidah), dan dikhawatirkan para pengikutnya mencontoh perilaku maksiat tokoh itu, maka bolehlah mengungkap perilaku kemaksiatannya di depan publik, dengan tujuan agar masyarakat tahu dan tidak ikut terjerumus ke dalam kemaksiatan yang sama dengan perilaku tokoh idolanya tersebut.

Metode dakwah semaca ini, bukan termasuk kategori mencaci maki.

Penulis: Pejuang Islam [ 17/8/2010 ]

Sumber : Pejuang Islam – Karya Ilmiah Ustadz Luthfi Bashori  http (pejuangislam.com)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.317 kali, 1 untuk hari ini)