Terjadi perbedaan pendapat antara TNI dan Polri terkait Senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) yang diimpor Brimob.

Senjata asal Bulgaria ini diimpor oleh PT. Mustika Duta Mas. Rencananya akan didistribusikan ke Korps Brimob Polri dengan menggunakan Pesawat Charter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024.

Sejak kedatangannya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng pada 29 September lalu, telah mengundang banyak perdebatan mengenai kemampuan atau spesifikasi SAGL tersebut.

Berikut sejumlah fakta perbedaan pandangan antara TNI dan Polri mengenai SAGL:

1. Kakor Brimob Irjen Pol Murad Ismail mengatakan SAGL Kaliber 40 x 46 mm merupakan senjata yang tidak dapat membunuh tapi hanya memberi efek kejut.

2. Masih menurut Kakor Brimob, SAGL Kaliber 40 x 46 mm tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan sesuatu seperti tembok ataupun anti tank.

3. Dijelaskan pula senjata tersebut dapat menggunakan peluru karet, peluru hampa, peluru gas air mata, peluru asap, dan ada juga peluru yang menimbulkan ledakan.

4. Polri menyatakan senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46mm sebanyak 280 pucuk di Soekarno Hatta, sebenarnya sudah ketiga kalinya diadakan. Antaralain pada 2015, 2016, dan sekarang 2017.

5. Namun menurut TNI, sampai saat ini pihaknya tidak memiliki amunisi seperti yang diimpor Mabes Polri yakni 5.932 amunisi untuk arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter.

6. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Wuryanto mengatakan amunisi tersebut memiliki dua keistimewaan.

7. Kata TNI, setelah meledak, peluru itu kemudian meledak untuk kali kedua dan menimbulkan pecahan tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan.

“Granat ini bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan jenis itu,” kata Wuryanto saat memberikan keterangan pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (10/10/2017).

8. Masih berdasarkan Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, amunisi yang dikemas dalam 71 koli itu mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak mencapai 400 meter.

9. Selain itu belum ada aturan sebagai payung hukum agar amunisi tajam tersebut bisa dimiliki selain institusi militer.

10. Inpres No 9 tahun 1976 tentang Pengawasan Senjata Api memuat aturan bahwa senjata untuk nonmiliter di bawah 5,56 militer.

Sementara untuk standar militer adalah di atas 5 milimeter.

Penyimpanan amunisi tajam itu semata-mata untuk menegakkan aturan hingga ada aturan yang baru.

11. Ia jelaskan pula, amunisi yang diimpor dari Bulgaria untuk korps Brimob itu aman selama penyimpanan karena gudang penyimpanan TNI sudah sesuai standar.(buletinsatu/tribun)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.664 kali, 1 untuk hari ini)