Ilmu kasyaf atau ilmu penyingkap tabir ghaib atau disebut juga oleh orang-orang sufi sebagai ilmu laduni kata mereka ini adalah ilmu yang palig agung, ilmunya ilmu. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui amalan-amalan ataupun dzikir-dzikir khusus. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, dengan para Rasul, dengann malaikat, ataupun dengan wali-wali Allah.

Sebenarnya, cukuplah dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, itu sudah bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang pendusta. Rasul -shalallahu `alaihi wassalam- adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun Nabi -shalallahu `alaihi wassalam- tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا

إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Artinya: “Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Surat Al-Jin: 26-27)

Lah apatah lagi mengaku dapat berbicara langsung dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas, tentu ini adalah kedustaan yang paling dusta, dustanya dusta. Akal sehat dan naluri nurani pasti menolaknya.

Kalau lah memang benar ada suara dari ajakan bathin, atau arwah gentayangan yang tiba-tiba ngemper sebentar untuk memberi wejangan, itulah Syetan.

Allah berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ

تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

Artinya: “Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Surat Asy-Syu’ara: 221-223).

Syetan itu datang bukan untuk membawa wahyu kebenaran, dia mengelabuhi manusia, maka sangat lemahlah manusia yang percaya akan berita-berita yang datang dari mereka, baik berupa ramalan presiden, ramalan banjir, ramalan kiamat, ramalan nasib dll. Tertipulah manusia dalam perangkap syetan yang sok-sokan mengetahui yang ghaib itu. Menyesallah mereka yang mengamini. Sakit hatilah mereka yang akhirnya berkata “kok begini”.

|Abu Uwais Musaddad

|Kotaraya – Palu – Sulawesi Tengah. Jum`at 13 Sya`ban 1440 H/19 April 2019 M.

Via FB Jarot Prasetyo

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.882 kali, 2 untuk hari ini)