ilustrasi

.

 

  • Pasangan suami istri Brigjen Polisi Purn Mangisi Situmorang dan Mutiara Situmorang serta dua orang Butet, dan Ani dilaporkan telah melanggar Undang-Undang Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak, serta melakukan penculikan dan pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 UU RI No 21 tahun 2007, Pasal 80 UU RI No 23 tahun 2002 serta Pasal 328 dan 289 KUHP.
  • Mereka dinilai berb uat kekejaman dan kezaliman, tidak berperikemanusiaan.

.

Jakarta, GATRAnews – Polres Bogor disinyalir melokalisir kasus lain yang diduga dilakukan pasangan suami istri, Brigjen Polisi Purn Mangisi Situmorang dan Mutiara Situmorang, terhadap ke-16 Pembantu Rumah Tangga (PRT) di rumah mewahnya.

Atas dasar itu, Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Bogor Raya (LBH KBR) beserta ke-16 PRT melaporkan jenderal purnawirawan Polri dan istrinya itu, ke Bareskrim Polri, Rabu (19/3), agar mengusut kasus ini secara tuntas, tanpa melihat Mangisi sebagai purnawirawan perwira tinggi Polri.

“Kenapa kami laporkan ke Mabes, karena kami ingin mengungkap lebih dalam lagi motif penyekapan ini untuk apa. Di Polres tidak mengungkap pelaku lain, kami mencurigai sengaja dilokalisir,” tandas Direktur Eksekutif LBH KBR, Sugeng Teguh Santoso, usai mendampingi 6 PRT yang mewakili 16 PRT melapor ke Bareskrim Polri.

Menurutnya, Polres Bogor hanya menjadikan ke-16 orang PRT ini sebagai saksi penyekapan terhadap Yuliana yang dilakukan keluarga jenderal tersebut. Padahal, di balik itu juga ada peran dua calo yang merekrut para PRT yang kemudian mengirimnya ke rumah mewah milik Mangisi dan Mutiara itu.

Atas dasar itu, tandas Sugeng, selain melaporkan Mangisi dan Mutiara, pihaknya juga melaporkan Butet dan Ani yang diduga sebagai calo perekrut para PRT itu melalui laporan polisi nomor TBL/160/III/2014/Bareskrim.

Keempatanya dilaporkan atas duagaan tindak pidana trafficking, pelcehan seksual, perlindungan anak, dan kekerasan yang dialami 16 korban lain. Butet dan Ani merekrut para PRT di Termina Pulogadung, Jakarta Timur. Orang yang direkrut keduanya terutama yang terlihat bingung mencari kerja sesampainya di Jakarta.

Tak hanya orang yang terlihat kebingungan dan mencari kerja, seorang anak berusia 12 tahun berinisial F yang tengah bermain di terminal ini pun dibawa keduanya hingga dinyatakan hilang selama empat bulan oleh keluarganya dengan dugaan penculikan.

Setelah berada di rumah pasangan Situmorang ini, mereka tak diizinkan menghubungi keluarganya. Akses terhadap alat komunikasi pun tidak diberikan. Mereka juga mengalami penyekapan dan tindak kekerasan. Tiap kali melakukan kesalahan, para PRT ini juga mendapat hukuman dengan tidak diberikan makan.

“Ada satu korban namanya I, dia dinilai berbuat salah kemudian ditelanjangi. Kemudian ada korban lain disuruh menyentil-nyentil payudaranya, yang menyuruh itu Mutiara. Kemudian disuruh tidur di lantai tanpa diberi pakaian atau selimut,” ungkap Sugeng.

Kelakuan yang bisa dibilang tak berperikemanusian tesebut bukan hanyai itu. Mereka juga tidak mendapat gaji meskipun mereka melakukan pekerjaan sebagai PRT. Bahkan seorang PRT berinisial RS sempat dimita uang sebesar Rp 14 juta oleh majikannya.

Uang sebesar Rp 14 juta itu diminta sebagai ganti rugi atas biaya persalinannya karena saat tiba di rumah mewah milik pensiunan jenderal polisi ini, RS tengah dalam kondisi hamil. RS sempat meminta izin pulang untuk melahirkan.

“Saya juga sempat minta pulang, tapi saya tidak boleh. Katanya kalau saya mau pulang, saya harus ganti rugi Rp 2,5 juta. Kalau saya tidak mengganti rugi saya akan dilaporkan. Terus saya minta laporkan saja ke polisi, saya langsung dijambak, dipukuli, waktu itu saya dalam keadaan hamil, perut saya diremas-remas, saya disumpahi anak saya cacat,” ungkap RS.

Anggota LBH KBR, Syamsul Alam Agus menimpali, para PRT ini diperintah untuk mengerjakan pekerjaan yang tak masuk akal. Dia mencontohkan, seorang PRT diperintahkan mencuci pakaian, sebelum kering, sudah diperintah untuk dicuci lagi.

“Saya tidak tahu apakah ada gangguan psikologis pada pelaku, itu tugas Polisi untuk menyelidikinya,” tandas Syamsul.

Atas perlakuan itu, Mangisi, Mutiara, Butet, dan Ani dilaporkan telah melanggar Undang-Undang Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak, serta melakukan penculikan dan pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 UU RI No 21 tahun 2007, Pasal 80 UU RI No 23 tahun 2002 serta Pasal 328 dan 289 KUHP. (IS)

Created on Thursday, 20 March 2014 00:06 Published Date

***

Binasanya Orang Sebelum Islam Dulu, Pencuri “Terhormat” Dibiarkan

Dalam hadits shahih ada riwayat terkenal:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

(( إنَّمَا أهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيِهمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا )) . متفق عَلَيْهِ . رياض الصالحين (2/ 277)

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena bila ada orang terpandang diantara mereka yang mencuri, mereka membiarkannya; dan bila orang lemah yang mencuri, maka mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, andaikata Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” [Hadits Riwayat Al-Bukahri, Ahadits Al-Anbiya 3475. Muslim, Al-Hudud 1688].

(nahimunkar.com)

(Dibaca 408 kali, 1 untuk hari ini)