2 Miliar Muslim Dunia Tersinggung Karikatur Charlie Hebdo, Indonesia Dan AS Kecam Presiden Prancis


Umat Muslim Pakistan menggelar aksi protes mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait karikatur yang menghujat Nabi Muhammad SAW serta menyerukan aksi boikot produk Prancis di Karachi, Selasa (27/10)./ IHRAM.CO.ID

***

Sebanyak 2 Miliar muslim diseluruh dunia tersinggungdan merasa terusik pasca penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo.

Pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang menganggap tindakan tersebut adalah bagian dari kebebasan berpendapatmengundang reaksi dunia.

Bahkan Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Luar Negeri (Kemlu) RI secara resmi mengeluarkan kecaman terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Jumat 30 Oktober 2020.

Kecaman tersebut diumumkan Usai melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo, Kamis 29 Oktober 2020.

Seperti diketahui Menlu AS Pompeo kemarin menemui Menlu RI Retno Marsudi di Gedung Pancasila, Jakarta. Usai pertemuan kedua menteri, Pompeo langsung menemui Presiden Jokowi di Istana Bogor.

Setelah pertemuan tersebut, Pemerintah Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi terkait pernyataan Presiden Prancis, hari ini.

“Indonesia mengecam pernyataan Presiden Prancis yang tidak menghormati Islam dan komunitas Muslim di seluruh dunia. Pernyataan itu menyinggung lebih dari 2 miliar Muslim di seluruh dunia dan memicu perpecahan berbagai agama di dunia,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jumat 30 Oktober 2020.

Kemlu juga menegaskan bahwa kebebasan berekspresi seharusnya tak menodai kehormatan, kesucian, dan simbol agama. Artikel ini telah tayang sebelumnya di Galamedianews.com dengan judul Usai Bertemu Pompeo, Indonesia Resmi Kecam Presiden Prancis: Lebih dari 2 Miliar Muslim Terusik

“Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia mendesak masyarakat global untuk mengedepankan persatuan dan toleransi beragama, terutama di tengah pandemi yang sedang berlangsung,” tulis Kemlu melalui situs resminya.

Presiden Prancis itu menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa ia tak melarang Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Ia juga mengatakan Islam adalah “agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.”

Macron melontarkan pernyataan ini sebagai respons atas pemenggalan guru yang membahas karikatur Nabi di Charlie Hebdo, Samuel Paty (47), di Eragny, oleh pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18).

“Sekularisme adalah pengikat persatuan Prancis. Jangan biarkan kita masuk ke dalam perangkap yang disiapkan oleh kelompok ekstremis, yang bertujuan melakukan stigmatisasi terhadap seluruh Muslim,” ujar Macron.

Menteri Agama RI, Fachrul Razi pun berekasi keras atas pernyataan Macron tersebut. Ia menilai perkataan Macron melukai perasaan umat karena menghina simbol agama Islam.

Menurutnya, kebebasan berpendapat tidak boleh melampaui batas sehingga mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama apa pun.

“Menghina simbol agama adalah tindakan kriminal. Pelakunya harus bertanggung jawab atas perbuatannya dan ditindak sesuai ketentuan hukum,” kata Menag, Kamis 29 Oktober.

Ia pun sangat mendukung sikap Kementerian Luar Negeri RI yang memanggil Duta Besar Prancis serta menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Macron yang dinilai menghina Islam.

***(Dicky Aditya/Galamedianews.com)

Tim Bagikan Berita 03

bagikanberita.pikiran-rakyat.com- 30 Oktober 2020, 15:54 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 525 kali, 1 untuk hari ini)