Islamedia – Dua saksi ahli yang akan memberikan pembela kepada Basuki Tjahaja Purnama batal hadir pada gelar perkara hari selasa(15/11/2016), keduanya adalah Syaikh Amr Wardani yang tiba-tiba dipanggil untuk kembali pulang ke Mesir dan satunya Prof Sarlito Wirawan Sarwono dipanggil oleh Allah SWT atau meninggal dunia.

Syeikh Amr Wardani yang sebelumnya dikabarkan akan menjadi saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Selasa (15/11/2016). Namun, tiba-tiba mendadak kembali ke Mesir dan meninggalkan Indonesia, Senin (14/11/2016).

Petinggi Lembaga Fatwa Darul Ifta Mesir itu diduga pulang lantaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) melayangkan protes kepada Dubes Mesir untuk Indonesia dan Syeikh Al Azhar terkait rencana Syeikh Mushthofa menjadi saksi meringankan Ahok.

Sementara Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof DR Sarlito Wirawan  batal mejadi Saksi Ahli pada kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dikarenakan meninggal dunia.

Badan Reserse Kriminal Mabes Polri beberapa hari yang lalu telah mengumumkan bahwa Sarlito diminta untuk menjadi saksi dalam kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok yang akan dilaksanakan pada selasa(15/11/2016).

Tiba-tiba kondisi kesehatan Sarlito menurun, ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono meninggal dunia di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin tanggal 14 November 2016 sekitar pukul 22.18 WIB. [islamedia.id]

***

Beberapa Hari Sebelum Meninggal, Sarlito Bela Ahok dengan Menulis :”Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela”

sarlito-dan-ahok

Islamedia – Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof DR Sarlito Wirawan dikenal sebagai sosok yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama dan pernah mengatakan bahwa “Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela”.

Pernyataan Sarlito ini disampaikan melalui tulisanya berjudul “Mungkinkah Menistakan Agama?” yang di publikasikan oleh selasar.com, kamis (3/11/2016). Tulisan tersebut Sarlito tulis sebagai bentuk respon ketidak setujuanya dengan Aksi Bela Islam 4 November 2016 esok harinya kala itu.

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan, orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam” tulis Prof Sarlito.

Sarlito mengawali tulisanya dengan paragraf awal : “Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela agama?”. Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?

Dalam tulisanya ini Sarlito juga secara jelas membela Ahok pada kasus penistaan Al-Qur’an Surat Al Maidah di Kepulauan Seribu. Sarlito secara jelas menuliskan bahwa maksud Ahok bukan untuk menistakan Al-Qur’an.

11 Hari sejak tulisan tersebut dipublikasikan, tiba-tiba kondisi kesehatan Sarlito menurun, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin tanggal 14 November 2016 sekitar pukul 22.18 WIB.[islamedia.id]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.103 kali, 1 untuk hari ini)