BANGLADESH, muslimdaily.net – Lebih dari 200.000 anak-anak Rohingya, yang telah melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar, menghadapi kesulitan hidup dan mereka memerlukan bantuan mendesak, UNICEF mengatakan pada hari Selasa.

“Ini adalah krisis kemanusiaan yang terus berlanjut dan anak-anak berada di jantung krisis ini,” Jean Lieby, kepala Perlindungan Anak UNICEF Bangladesh, mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Cox’s Bazar Bangladesh di dekat perbatasan Myanmar, demikian pemberitaan worldbulletin.net.

Menurut data awal, Lieby mengatakan, 60 persen pengungsi adalah anak-anak.

“Hal pertama yang Anda lihat di kamp Rohingya yang berbeda ini adalah banyaknya anak-anak. Anda melihat anak-anak yang belum tidur berhari-hari, mereka lemah dan lapar,” katanya.

Pejabat UNICEF ini juga mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap anak-anak yang terpisah dari orang tua atau saudara mereka.

“Kami telah mengidentifikasi 1.128 anak yang terpisah. Namun, kami berharap jumlah ini meningkat dalam beberapa hari mendatang “.

“Seiring bertambahnya kamp setiap hari kita perlu menyediakan air minum yang aman dan sanitasi dasar. Kami ingin mencegah timbulnya penyakit bawaan air, ” tambahnya.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 370.000 orang muslim Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi keamanan baru di mana pasukan keamanan dan milisi sipil membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut Bangladesh, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan militer sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Oktober lalu, setelah serangan terhadap pos-pos perbatasan di distrik Maungdaw Rakhine, pasukan keamanan melancarkan tindakan keras selama lima bulan di mana, menurut kelompok Rohingya, sekitar 400 orang terbunuh.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

***

Sekjen PBB: Hentikan Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya

NEW YORK, muslimdaily.net – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Rabu meminta Myanmar untuk menghentikan tindakan militer dan kekejaman terhadap orang-orang Rohingya di negara bagian Rakhine, dengan mengatakan bahwa kekerasan yang terus berlanjut oleh pasukan keamanan terhadap minoritas Muslim “sama sekali tidak dapat diterima”.

“Situasi kemanusiaan sangat memprihatinkan,” kata Guterres kepada wartawan pada sebuah konferensi pers di markas besar PBB di New York City, demikian lansir worldbulletin.net.

Dia mengatakan telah terdapat laporan serangan yang keji oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil, yang sama sekali tidak dapat diterima.

“Saya meminta pihak berwenang Myanmar untuk menghentikan tindakan militer, mengakhiri kekerasan, menegakkan supremasi hukum, dan mengakui hak untuk mengembalikan semua orang yang harus meninggalkan negara tersebut,” kata Guterres.

Pemimpin de facto Myanmar, negara dengan myoritas penduduk memeluk agama Budha, Aung San Suu Kyi telah membatalkan sebuah rencana untuk menghadiri Majelis Umum PBB yang akan datang karena pemerintahnya menghadapi tekanan internasional karena tindakan keras terhadap Rohingya.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 370.000 orang muslim Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi keamanan baru di mana pasukan keamanan dan milisi sipil membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut Bangladesh, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan militer sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Sumber : muslimdaily.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 303 kali, 1 untuk hari ini)