Syaikh al-Musnid al-Muhaddits al-Muqri’ Hamid Akram al-Bukhari -hafizhahullah-


Hendaknya kita menyadari bahwa setelah kematian, tak mungkin kita dikembalikan ke dunia

Syeikh hamid Al bukhary

ilustrasi

Alhamdulillah, atas izin Allah Subhanahu Wata’ala, penulis berkesempatan menimba ilmu bersama Syeikh Hamid Al Bukhari hafizhahullah ta’ala, pengajar di Masjid An Nabawi, Madinah KSA.

Syeikh Hamid dikenal  memiliki qiroat asyrah, lahir di Madinah al Munawwarah juga  mendapatkan sanad kutubusittah dan almuwattho’ Imam Maalik.

Dalam majelisnya, Syeikh Hamid banyak menyampaikan wasiat terkait kebaikan dan kekalnya akhirat. Dibawah ini adalah beberapa cuplikan wasiat dan nasehatnya.

Setelah memuji Allah ta’ala dan bershalawat kepada Rasulullah serta meminta limpahan rahmat dan curahan ilmu dari Allah, Syeikh Hamid memberikan beberapa faidah:

1. Termasuk keutamaan menuntut ilmu sebagaimana hadits yang diriwiyatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah adalah Allah akan menurunkan ketenangan, rahmat, malaikat akan menaungi mereka serta Allah akan memuji-muji mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya.” [JR Abu Daud dalam Sunannya, Kitabul Adab]

2. Kita hidup di dunia sebagai musafir, orang asing yang keluar dari kampung halamannya. Asal kita adalah rumah bapak kita Adam yaitu surga, di mana beliau telah dikeluarkan dari sana karena perbuatan dosanya.

3. Kita juga bagaikan para pegawai yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas, barangsiapa yang melaksanakan tugas tersebut dengan baik maka kita akan mendapatkan balasan atas tugas kita tersebut. Namun sebaliknya, bila kita menyia-nyiakannya maka balasannya pun adalah kerugian.

4. Tujuan kita diadakan di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah.

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.” (QS: Adz Dzariyyat 56)

5. Jika kita sudah mengetahui bahwa kita cuma orang asing, dan beribadah dan semua perbuatan kita akan ditulis oleh para malaikat dan dimintai pertanggung jawaban, oleh karena itu hendaknya kita isi dengan amalan kebaikan dan menjauhi keburukan.

6. Banyak orang yang lupa merasa bahwa mereka akan hidup kekal di dalam dunia, dia tidak peduli mencari harta apakah itu halal atau tidak, dia berusaha mengumpulkan harta seakan-akan dia hidup kekal abadi.

7. Apakah kita akan kekal di dunia ini? Manusia-manusia yang hidup 100 tahun yang lalu, apakah mereka masih eksis sekarang? Dulu mereka makan, minum, bertransaksi jual beli… sekarang di mana mereka? Kehidupan mereka telah berakhir.. Apakah setelah seratus tahun, kita akan tetap hidup di muka bumi ini? Maka hendaknya kita berpikir.

8. Sesungguhnya kita hanya sedang singgah di sebuah tempat persinggahan. Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan kita ke alam barzakh untuk kemudian dibangkitkan. Setelah itu kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita.

9. Dahulu Fir’aun adalah orang yang sombong, menganggap bahwa dia adalah Rabb yang paling tinggi. Di mana dia sekarang? Setiap hari dia diadzab di alam kubur.

وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”” (QS: Al-Mu’min: 45-46)

10. Abu Jahal, Abu Lahab, Sumayyah bin Khalaf yang memusuhi agama Rasulullah dan mati di perang Badar, di mana mereka sekarang? Mereka berada di alam kubur di siksa sampai kelak dibangkitkan pada hari kiamat. Maka perhatikanlah fase-fase kehidupan ini. Setelah ini kita akan menghadapi alam barzakh dan kemudian dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas amalan kita selama hidup.

11. Seseorang yang dijanjikan akan diberikan seluruh kenikmatan dunia lalu dia disuruh merasakan panasnya periuk berisi minyak mendidih apakah kita mau.

12. Cukup bagi kita ketika menyadari adzab kubur membuat seseorang yang berakal akan menghentikan maksiatnya.

13. Kita baru berada di fase pertama, nanti akan kita akan dimasukkan ke dalam alam kubur yang adzabnya sangat pedih.

14. Adzab kubur sudah demikian pedih, akan tetapi mereka akan melupakan adzab kubur ketika merasakan adzab neraka karena demikian kerasnya adzab neraka.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

“Mereka berkata, “Aduhai, celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-(Nya).” (QS: Yaasin: 52)

15. Dan adzab tersebut akan sangat lama, Keadaan satu hari di akhirat lamanya 50.000 tahun. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al Maarij.

فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS: Al Ma’arij: 4).

Bayangkan demikian lamanya siksaan yang akan dirasakan naudzubillah.

16. Ketika kita menyadari bahwa ini semua menanti kita, maka seorang yang berakal akan menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat kekekalan.

17. Di dunia ini kita hidup hanya sebentar, di alam barzakh lebih lama, dan di akhirat kelak akan lebih lama… Apakah kita akan tinggal di akhirat sribu tahun? Jutaan tahun? Tidak… kita akan hidup kekal abadi di akhirat.. Maka hendaknya kita berpikir.

18. Jika engkau diberikan wilayah seluas seribu mil, maka kau akan merasa kaya. Maka di surga kita paling minim akan mendapatkan seluas bumi dan sepuluh kali kali lipatnya.

19. Ketika engkau mencari nafkah di safarmu, di mana engkau akan merasakan kenikmatan dari nafkahmu? Ketika safar atau ketika engkau kembali ke rumahmu? Tentu engkau akan menikmatinya setelah engkau pulang. Maka demikianlah kehidupan dunia ini.

20. Dikisahkan dari Abu Thalhah Al Anshari yang memiliki kebun di depan masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat sumur yang airnya sangat lezat, kebun tersebut disebut Bairuha.

Ketika turun firman Allah subhanahu wata’ala

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ( آل عمران : 92 )

” Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari apa apa dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. ” (QS: Ali Imran : 92 )

Maka ketika ayat ini turun, datanglah Abu Thalhah kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kebun Bairuha dan aku infakkan untuk Allah subhanahu wata’ala, karena ini adalah harta yang paling aku cintai”.

Maka Rasulullah berkata: “Sungguh bairuha ini adalah harta yang sangat mahal wahai Abu Thalhah”

Maka Rasulullah mengatakan, “Bakhin bakhin.. ini adalah perniagaan yang sangat menguntungkan wahai Abu Thalhah.”

Abu Thalhah tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan, mempersiapkan akhirat beliau.

21. Syeikh kemudian menyebutkan kisah kedua yaitu kisah Abu Dahda radhiyallahu anhu. Dikisahkan ada seorang lelaki (anak yatim) berkata: “Wahai Rasulullah, si fulan memiliki pohon kurma yang tumbuh di kebunku yang aku usahakan. Tolong, perintahkan dia agar memberikannya padaku sehingga aku dapat menyempurnakan kebunku itu.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada si fulan): “Berikan saja pohonmu, dan aku menjamin bagimu pohon kurma di surga.” Sayangnya dia menolak. Lalu Abu Dahdah mendatangi pemilik pohon itu dan berkata, “Tukarlah pohon kurmamu dengan (seluruh) kebunku”, dan akhirnya orang itu bersetuju. Di dalam kebun Abu Dahda terdapat ratusan pohon kurma.

Maka Abu Dahdah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, telah aku tukar pohon kurmanya dengan kebunku.”

Kemudian Abu Dahdah mendatangi isterinya dengan berkata, “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun, aku telah menukarnya dengan pohon kurma di surga.”

Ummu Dahdah lalu berkata: “Sungguh beruntung perniagaan ini.”

Rasulullah lantas bersabda: “Dan sekarang berikan pohon kurmamu kepadanya (anak yatim) kerana aku telah memberikan (jaminan) pohon kurma surga padamu.”

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh banyak sekali pohon kurma yang Abu Dahdah nikmati di surga kelak.” Rasulullah mengucapkannya berulang kali.”

Tidak lama setelah itu Abu Dahda pun meninggal dunia dalam keadaan dia telah membawa amalan shadaqahnya dan dipersaksikan oleh Rasulullah dengan Surga.*

22. Harusnya kita dalam menjalani kehidupan kita mempersiapkan kehidupan kita yang abadi kelak di akhirat. Jangan kita abaikan sampai kelak menjadi penyesalan.

Allah berfirman..

{فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [السجدة: 14]

“Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS: As Sajdah:14)

23. Orang yang disiksa di akhirat, maka mereka menginginkan kematian setelah disiksa dengan adzab yang pedih.

Allah mengisahkan keadaan mereka,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

“Mereka berseru: “Hai Malik (penjaga neraka) biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. (QS: Az-Zukhruf: 77)

24. Perhatikan kisah orang yang mendapatkan kenikmatan surga dan adzab yang pedih di dalam neraka!

Disebutkan di dalam hadits bahwa pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.”

Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

25. Hendaknya kita menyadari bahwa setelah kematian, tak mungkin kita dikembalikan ke dunia. Allah berfirman..

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Semoga kita dimasukkan ke dalam surgaNya  Allah subhanahu wata’ala. Aamiin.*/Abu Zaidan al-aroby

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Sumber : hidayatullah.com –  Ahad, 17 Juli 2016

***

الجامع الصحيح للسنن والمسانيد (16/ 295)

أَبُو الدَّحْدَاحِ – رضي الله عنه –

(حب) , عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِفُلَانٍ نَخْلَةً، وَأَنَا أُقَيِّمُ حَائِطِي بِهَا (1) فَأمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِي حَتَّى أُقَيِّمَ حَائِطِي بِهَا، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: ” أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ “، فَأَبَى، فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَقَالَ: بِعْنِي نَخْلَتَكَ بِحَائِطِي , فَفَعَلَ، فَأَتَى النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدِ ابْتَعْتُ النَّخْلَةَ بِحَائِطِي، فَاجْعَلْهَا لَهُ , فَقَدْ أَعْطَيْتُكَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: ” كَمْ مِنْ عِذْقٍ (2) دَوَّاحٍ (3) لَأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ – قَالَهَا مِرَارًا – ” , قَالَ: فَأَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ: يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ، اخْرُجِي مِنَ الْحَائِطِ، فَإِنِّي قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ، فَقَالَتْ: رَبِحَ [الْبَيْعُ] (4). (5)

__________

(1) قَالَ صَاحِبُ النِّهَايَةِ: الْحَائِطُ: الْبُسْتَانُ مِنْ النَّخْلِ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ حَائِطٌ , وَهُوَ الْجِدَارُ

(2) الْعِذْقِ بِكَسْرِ الْعَيْن , هُوَ الْعُرْجُون بِمَا فِيهِ. فتح الباري (ج 2 / ص 138)

(3) الدَّوّاح: هو العظيم، الشديد العلو، وكل شجرة عظيمة: دوحة.

(4) (حم) 12504 , وقال الشيخ شعيب الأرنؤوط: إسناده صحيح.

(5) (حب) 7159، (حم) 12504، (م) 965 , صَحِيح الْجَامِع: 4574 , 3489، صحيح موارد الظمآن: 1927

***

Mengenal Ulama…

Biografi singkat Syaikh al-Musnid al-Muhaddits al-Muqri’ Hamid Akram al-Bukhari -hafizhahullah-

Nama beliau adalah Abu Abdirrahim Hamid bin Ahmad bin Akram bin Sayyid Mahmud bin Ali al-Bukhari al-Madani.

Syaikh Hamid merupakan ulama keturunan Bukhara Uzbekistan, negeri Imam Al-Bukhory -rahimahullah-
Kakek beliau Akram hijrah dari negeri Bukhora menuju negeri Haramain pada awal-awal tahun 1350 H.

Syaikh Hamid lahir di Madinah pada 18 Rajab 1387 H. Sejak usia 4 tahun, kakeknya -dari jalur Ibu memasukkannya ke sekolah penghafal qur’an yang di khususkan untuk warga keturunan Uzbek, nama sekolahnya adalah al-Qari Abbas al-Bukhari yang tak jauh dari masjid Nabawi.

Di sanalah beliau belajar huruf hijaiyah dan belajar membaca dengan mengacu pada kaidah Baghdadiyah. Beliau menghafal Al-Qur’an di sekolah yang sama di bawah bimbingan Syaikh Islam Ahmad Hafizh hingga menamatkannya pada tahun 1397 H.

Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikan formal di sekolah dasar Ubay bin Ka’ab, pada saat itu usia beliau 10 tahun. Di sanalah beliau menimba ilmu langsung dari kakeknya -dari jalur Ibu- Syaikh Abdurrahim, dialah yang memiliki andil besar dalam tumbuh kembang pendidikan Hamid kecil, tentu setelah bimbingan dari Allah Ta’ala.

Setelah menamatkan pendidikan dasar beliau mengikuti pendidikan menengah pertama di Sekolah Imam Nafi’, yang kemudian dilanjutkan dengan jenjang SMA Tahfizh Imam Ashim. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Madinah pada fakultas Hadits, hingga menyelesaikan program magister di kampus yang sama.

Di samping kesibukan menjalani kuliah, beliau juga menimba berbagai disiplin ilmu kepada banyak ulama di luar kampus. Beliau dikenal memiliki banyak guru sehingga membuatnya menerima banyak sanad qira’at, baik Alqur’an, hadits dan kitab-kitab lainnya.

Di dunia periwayatan beliau dikenal  sebagai Musnid (seorang yang memiliki banyak sanad) dan juga Muqri’ (orang menguasai berbagi qira’at) yang diburu para penuntut ilmu di seantero dunia.

Beliau sering mengadakan rihlah ke luar negeri untuk menuntut lmu dari para ulama. Tercatat lebih dari 300 ulama baik dari Mekkah, Madinah, Yaman, Syam, Maroko, India, Pakistan, dll yang pernah menjadi guru beliau.

Di antara guru beliau yang masyhur di bidang qira’at adalah Syaikh al-Muqri’ Muhammad bin Abdul Hamid al-Sakandari, qari’ dengan sanad yang tinggi dari jalur al-Thayyibah. Kepadanya, beliau mengkhatamkan Alqur’an dengan qira’at ‘asyr dan juga membaca beberapa matan.

Beliau juga meriwayatkan kutubsittah dan muwatto’ dengan sama’i dan ijazah kepada beberapa musnid dunia. Diantaranya kepada mereka yang memiliki sanad paling tinggi di dunia saat ini.

Guru beliau di bidang fikih adalah ahli fiqih madzhab hambali masa kini yaitu al-Faqih al-Qadhi ِAbdullah bin Abdul Aziz bin Aqil -rahimahullah-. Selain itu beliau juga berguru kepada fuqoha madzhab fikih lainnya selain madzhab hambali yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Di antara ulama besar yang majelisnya pernah dihadiri olehnya adalah:

-Syaikh Bin Baz
-Syaikh Ibn Utsaimin
-Syaikh Athiyah Salim.

Beliau juga membaca kepada sejumlah ulama tersohor dunia semisal Abul Hasan al-Nadwi, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri -rahimahumullah-.

Syaikh Hamid sering diundang sebagai pemateri pada banyak dauroh ilmiyyah baik dalam maupun luar Saudi Arabia. Kebanyakan dauroh-dauroh tersebut diselenggarakan untuk menyimak khataman kitab-kitab hadits. Demikian juga beliau juga melayani ratusan pentuntut ilmu yang ingin membaca kepadanya, baik kitab hadits maupun  qira’at. Selain itu beliau juga didapuk sebagai salah satu pengajar di Masjid Nabawi.

Di mata para ulama dan penuntut ilmu  Syaikh Hamid Akram dikenal sebagai seorang ulama yang mumpuni diberbagai disiplin ilmu, di antaranya fikih, hadits dan qira’at. Beliau juga dikenal dengan bahasanya yang lugas dan penyampaiannya yang menarik lagi mudah dipahami sehingga para murid tidak merasa bosan saat menyimak faidah demi faidah yang mengalir dari lisannya.
Syaikh juga dikenal memiliki akhlak yang yang luar biasa, senantiasa memuliakan para ulama dan penuntut ilmu. Selalu membangun komunikasi yang baik dengan semua orang, gemar membantu dan memudahkan hajat para penuntut ilmu. Beliau juga sering menjamu para ulama luar negeri saat datang untuk menyelenggarakan haji dan umroh.

Di antara karya beliau adalah
-Ijabatun Nasik ila Ahkami Manasik, -Laqt Durar minal Asanidil Gharar,
-Almujtaba min Laqt Durar, dan
-Tahqiq Syarh Syatibiyah Mula al-Qari, dll.

Kabar gembira untuk para musnidiin dan pemburu sanad.
Insyaallah pada pertengahan July (13-24) mendatang beliau akan mengunjungi Indonesia dan akan memberikan ta’liq terhadap kitab Muwattha dan As-Syamail Al-Muhammadiyah.
Tiketnya sudah siap..

Ikuti terus informasi kedatangan beliau melalui akun ini.

Baarakallahu fiikum…

Sumber tulisan: BBG Al Ilmu/situssunnah.com – 25 Mei 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.267 kali, 1 untuk hari ini)