Wakil Ketua MPR RI merasa keberatan Wahdah Islamiyah dituduh teroris.

***

Sejumlah tokoh ormas Islam sebelum jumpa pers Wahdah Islamiyah di RM Pulau Dua, Senayan, Jakarta.

Hidayatullah.com– Tuduhan sebagai jaringan teroris oleh Metro TV terhadap Wahdah Islamiyah menyulut reaksi dari 30-an tokoh nasional dan ormas Islam. Mereka menyatukan suara mengecam pemberitaan Metro TV dan membela Wahdah Islamiyah.

Persatuan itu terlihat jelas saat Wahdah Islamiyah menggelar jumpa pers di Rumah Makan Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Senin,  (11/01/2016) siang. Dalam acara itu, Wahdah Islamiyah menyatakan sikapnya terkait pemberitaan Metro TV pada 3 Januari lalu.

Di deretan depan kursi narasumber jumpa pers, tampak duduk Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Zaitun Rasmin, diapit Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) dan pengacara Eggi Sudjana. [Baca: Tuduhannya Tidak Benar, Metro TV Dituntut oleh Wahdah Islamiyah]

Masih di deretan situ, terlihat dai kondang Ustadz Yusuf Mansur, Sekjen MIUMI Bachtiar Nasir, Menteri Olahraga era pemerintahan SBY yang juga Ketua Kwarnas Pramuka Adhyaksa Dault, pegiat menghafal al-Qur’an Ustadz Bobby Herwibowo, perwakilan MUI Pusat Amirsyah Tambunan dan Fahmi Salim, serta Direktur Eksekutif INSISTS Adnin Armas selaku moderator.

Di pertengahan acara, Adhyaksa Dault kemudian mempersilakan kursinya diduduki KH Dr Cholil Nafis (Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU) yang datang belakangan. Termasuk yang datang di sela-sela jumpa pers adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah RI asal Sulawesi Selatan AM Iqbal Parewangi, dan ekonom Islam sekaligus Pimpinan Tazkia Group, Syafi’i Antonio.

Tak Ada Bau Teroris

HNW, yang didaulat berbicara setelah Zaitun dan Eggi, menyampaikan pembelaannya terhadap Wahdah Islamiyah sekaligus keberatannya atas tuduhan Metro TV tersebut.

Ia mengaku sangat mengenal Zaitun sejak lama, baik sebelum maupun sesudah kuliah di Madinah,  hingga sepak terjang Zaitun bersama Wahdah Islamiyah selama ini.

“Kegiatan-kegiatannya (hingga) sekarang, seluruhnya, adalah rangkaian tentang Islam yang sama sekali tidak ada bau-bau terorisnya,” ujar HNW di depan puluhan awak media termasuk hidayatullah.com.

Di jajaran kursi jumpa pers bagian belakang Zaitun, tampak dai kondang kelahiran Arab Saudi Syaikh Ali Jaber, Ketua AFKN atau dai asal Nuu Waar (Papua) Fadzlan Garamatan, Ketua KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) Ferry Nur, peneliti Syiah Farid M Okbah, Rahmat Abdurrahman (MIUMI Sulsel), serta sejumlah tokoh lainnya dari SalingSapa.com, pemerhati keluarga, dan pengacara.

Sebagian tokoh dan aktivis lainnya mengambil posisi dekat para wartawan dan para hadirin lainnya. Termasuk di antaranya pengamat terorisme yang juga aktivis Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya.

Adnin Armas mengatakan, kehadiran para tokoh itu sebagai bentuk empati mereka atas Wahdah Islamiyah yang dituduh teroris oleh Metro TV. Sebab, Zaitun sebagai Ketum ormas itu juga bagian dari MUI, MIUMI, dan umat Islam secara umum.

“Kehadiran para tokoh di sini itu sudah menunjukkan… kami di sini juga sangat merasa terluka (atas tuduhan Metro TV itu),” ujarnya.

Yusuf Mansur mengatakan, tidak mungkin jika Wahdah Islamiyah termasuk jaringan teroris. Ia mengaku kenal baik dengan Zaitun terutama 3 tahun belakangan ini, sejak dirinya belajar bahasa Arab dengan Zaitun.

Menurutnya, dampak tuduhan Metro TV dapat menimbulkan ketakutan bagi masyarakat Sulsel khususnya untuk mendidik anak-anak mereka melalui Wahdah Islamiyah.

“Saya belum pernah melihat atau mendengar Zaitun yang mengajak atau menyampaikan ajaran bagaimana pola-pola teroris,” ujar Cholil Nafis.

Senin kemarin usai jumpa pers, Wahdah Islamiyah diagendakan menyampaikan surat tuntutannya kepada pihak Metro TV. Stasiun TV milik Surya Paloh ini dituntut meminta maaf kepada ormas Islam tersebut. Diberitakan sebelumnya, Zaitun Rasmin Mengaku Sedih Harus Menuntut Metro TV*

Rep: Muh. Abdus Syakur

Editor: Cholis Akbar

Sumber: hidayatullah.com/Selasa, 12 Januari 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 12.179 kali, 1 untuk hari ini)