30 da’i yang diterjunkan oleh Kementerian Agama ke apa yang disebut daerah rawan telah digembleng oleh para pembela Ahmadiyah (aliran sesat yang memalsu Islam) diantaranya Azyumardi Azra dan Masdar F Mas’udi. Sedang rombongan 30 da’I itu berasal dari lembaga yang dipimpin Noer Isklandar SQ orang yang pernah terbongkar kerja sesatnya yakni nikah semalam  dengan janda Amir Biki.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Prof Abdul Djamil di sebuah situs resmi Kemenag RI mengatakan: “Usai acara ini, mereka langsung ditempatkan di Bogor, Indramayu, Sukabumi, Kuningan, Cirebon, Pandeglang, Mesuji, Solo, Karanganyar, Sampit, Sampang, hingga Kediri,” ujar Abdul Djamil usai pembukaan Halaqoh Ulama dan Launching dai Rahmatan Lil Alamin Senin (12/11).

Inilah sorotan tajam terhadap penerjunan 30 dai Kementerian Agama yang dinilai membawa faham berbahaya yakni pluralisme agama (kemusyrikan baru) dan liberalisme yang telah diharamkan MUI 2005.

***

Waspada! Dai Binaan BIN & BNPT Bertebaran Jalankan Misi Deradikalisasi

JAKARTA (voa-islam.com) – Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya memandang pengiriman para da’i yang telah mendapat pelatihan dari BIN dan BNPT hasil kerjasama Kemenag jelas merupakan proyek deradikalisiasi.

“Ini jelas-jelas proyek deradikalisasi BNPT yang menggandeng Kemenag. Visi utamanya mengaborsi ideologi yang dianggap radikal, karena asumsinya ideologi radikal menjadi hulu dari terorisme. Nah, kali ini justru spektrumnya diperluas,” ujarnya kepada voa-islam.com, Rabu (14/11/2012).

Menurutnya para da’i binaan BNPT yang ditugaskan mereduksi konflik, memerangi narkoba, perbuatan asusila, tawuran dan lainnya hanyalah teknik kamuflase.

“da’i yang dibina untuk bisa mereduksi beragam konflik dan kekerasan bahkan untuk ikut memerangi perbuatan asusila, korupsi, narkoba, tawuran, dan konflik horizontal, saya melihatnya ini teknik kamuflase BNPT untuk menyamarkan target utamanya atau hasil kompromi dengan visi Kemenag tentang peran da’i dalam spektrum yang lebih luas,” ungkapnya.

…Da’i rahmatan lil ‘alamin, adalah istilah halus dan manipulatif. Hakikatnya adalah para propaganda (komunikan) yang mengusung pemahaman moderat, pluralisme dan liberal

Bahkan penamaan da’i rahmatan lil ‘alamin pada dasarnya adalah istilah manipulative yang hakikatnya mereka mengusung pemahaman pluralisme liberal.

“Da’i rahmatan lil ‘alamin, adalah istilah halus dan manipulatif. Hakikatnya adalah para propaganda (komunikan) yang mengusung pemahaman moderat, pluralisme dan liberal. Ide-ide berbahaya yang dibungkus dengan jargon-jargon Islam, semisal ‘Islam humanis otentik’,” jelasnya.

Lebih tegas lagi Harits Abu Ulya menilai para da’i binaan BNPT tersebut tak memiliki kesadaran politik. Mereka dibuat bodoh dan tidak melihat motif deradikalisasi yang pada dasarnya membahayakan Islam.

“Orang-orang yang terjebak terlibat dalam proyek BNPT-Kemenag terlihat tidak cukup memiliki wa’yu siyasi(kesadaran politik) tentang latar belakang atau konteks proyek ini dilakukan. Mereka terhipnotis BNPT dengan drama ancaman aktual terorisme. Dan mereka dibuat bodoh, bertindak pragmatis tanpa berpikir holistik akar-akar terorisme sebenarnya. Dan tidak melihat dengan jelas, motif dan target proyek deradikalisasi yang diemban oleh BNPT yang membahayakan untuk kebangkitan Islam,” paparnya.

…mereka dibuat bodoh, bertindak pragmatis tanpa berpikir holistik akar-akar terorisme sebenarnya. Dan tidak melihat dengan jelas, motif dan target proyek deradikalisasi yang diemban oleh BNPT yang membahayakan untuk kebangkitan Islam

Melihat BNPT dengan anggaran yang besar terus menjalankan proyek deradikalisasi dan semacamnya, maka selayaknya umat Islam melek khusunya para da’i harus melek politik.

“Saya lihat, dengan anggaran cukup besar dari APBN dan hibah, BNPT akan terus menjalankan proyek semacamnya. Dengan mental proyek bekerja menari diatas fitnah terhadap Islam dan umatnya. Karena umat Islam yang memperjuangkan formalisasi syariat dalam bingkai negara dicap secara politik sebagai ancaman dan harus diaborsi dengan beragam cara dan upaya. Untuk itu, umat khususnya da’i yang hanif harus melek politik,”

Terakhir ia juga mengimbau agar umat Islam khusunya para aktivis agar mewaspadai sepak terjang para da’i binaan BNPT tersebut. Sebab selain menjalankan misi deradikalisasi dan mengusung liberalisme, kemungkinan besar mereka adalah human intelijen yang bertopeng da’i.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 30 orang da’i yang tergabung dalam Majelis Silaturahmi Kiai dan Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia (MKSP3I) mendapat pelatihan dari BIN, BNPT dan Puslitbang Kemenag selama dua hari (12-14 November) di  Hotel Millenium Jakarta.

Pelatihan ini akan ditindaklanjuti dengan mengirimkan para da’i ke berbagai tempat yang rawan masuk “ajaran radikal”. Demikian dikatakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Prof Abdul Djamil di sebuah situs resmi Kemenag RI. [Ahmed Widad] Rabu, 14 Nov 2012

***

Program Deradikalisasi Dinilai Upaya Berangus Wacana Penerapan Syariah

Jum’at, 16 November 2012

Hidayatullah.com–Direktur Lembaga Kajian Politik dan Syariat Islam (LKPSI), Fauzan al Anshary menilai proyek deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Bimas Islam Depag memasuki fase akar rumput untuk membasmi pemikiran ideologis Islam yakni perjuangan penerapan syariat di Indonesia.

“Saya pernah bertemu Dirjen Bimas Islam untuk menawarkn diklat hudud gratis di seluruh Indonesia tapi mereka menolak. Jelas mereka ingin mematikan keinginan umat Islam menjalankan ajaranya secara utuh,” cetusnya kepada hidayatullah.com, Kamis (15/11/2012).

Selain itu, menurut Fauzan, dirinya mengaku sempat menjadi korban beberapa takmir masjid yang diakuinya telah ditekan kalangan tertentu untuk membatalkan dai-dai atau khatib yang mengajak menerapkan syariat Islam.

“Saya pun sudah jadi korban sejumlah masjid yang takmirnya ditekan supaya mencoret nama-nama dai yang mendakwahkan syariat Islam atau jihad. Anda bisa membuktikan sendiri masjid-masjid yang saat ini alergi dengan syariat, apalagi istilah jihad,” sambungnya.

Menurut Fauzan, persoalan ini tidaklah sederhana, bahkan cukup menghawatirkan umat Islam.

Sebab ajaran dalam islam itu utuh dan tidak boleh dipilih seenaknya.  Sebab jika ajaran-ajaran penting seperti perlunya penerapan syariat secara kaffah dan jihad dilarang, apa lagi sampai hilang di kalangan umat, bukan tidak mungkin suatu hari nasib Muslimin Indonesia seperti Rohingya.

“Nanti kalau semua sudah takut bicara syariat dan jihad, umat  tinggal dibantai seperti tragedi Rohingya.”

Rep: Ainuddin Chalik

Red: Cholis Akbar

***

Pemberangusan da’i atau khathib yang berbicara sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah dimulai dari Ibukota. Hingga ada da’I dari lembaga terkemuka di Indonesia yang berkhutbah dengan mengutip QS Ali Imran: 19, innaddiina ‘indallahil Islam, langsung setelah itu dicoret dari daftar khathib. Sang khathib mengaku, kala berkhutbah itu ada orang yang  di tangannyalah aliran sesat perlu dicoret atau tidak. Ternyata tidak pernah terdengar adanya aliran sesat yang dia coret, tapi justru yang mengalami pencoretan adalah da’I yang menyampaikan ayat Allah Ta’ala. Pantesan kemudian terdengar ada yang dapat gelar dari orang kafir dan nyuruh bangga lagi kepada orang lain. Na’udzubillaahi min dzaalik!  Cenderung kepada kekafiran saja ancaman siksanya sangat dahsyat, apalagi bangga.

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاتَّخَذُوكَ خَلِيلا (٧٣)

73. Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلا (٧٤)

74. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

إِذًا لأذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (٧٥)

75. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. (QS Al-Israa’/ 17: 73-75).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.660 kali, 1 untuk hari ini)