Sabtu, 30 November 2013 (Catatan Lama)

 

 

Alhamdulillah, segala puji milik Allah subhanahu wa ta’ala, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, beserta sahabat, keluarga dan para pengikutnya. Amiin.

Pada tanggal 22 April 2012 yang lalu, FUUI (Forum Ulama Umat Islam Indonesia) mengadakan musyawarah nasional ke-2, dengan agenda : “Merumuskan Langkah Strategis Untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syi’ah”. Dalam acara tersebut hadir kurang lebih 200 perwakilan dari berbagai ormas Islam dan pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara tersebut diawali dengan sambutan dari gubernur jawa barat, Bpk. Ahmad Heriyawan, Lc. Dalam sambutannya, beliau menyatakan sangat mendukung musyawarah tersebut, “Fatwa ulama sudah jelas tentang posisi Syi’ah ini dalam keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah, maka sikap kita juga harus jelas juga,”katanya.

Kemudian acara tersebut berlanjut dengan pandangan umum dari lintas ormas Islam. Ada banyak hal menarik dari pandangan-pandangan tiap perwakilan ormas yang hadir.

Perwakilan dari Persis (Persatuan Islam) menyatakan, bahwa saat ini sudah ada beberapa masjid Persis yang disusupi oleh syi’ah, bahkan ada beberapa masjid yang pengurusnya dipegang oleh orang-orang berpaham syi’ah.

Sementara dari FUUI membeberkan tentang sosok Jalaluddin Rachmat. KH. Athian Ali, ketua FUUI mengatakan bahwa Jalaluddin Rachmat sampai saat ini belum mau berterus terang tentang ke-syi’ahannya. “Pernah dalam sebuah acara, kang Jalal dipaksa berbicara tentang syi’ah, lantas dia mengatakan : syi’ahnya saya berbeda dengan syi’ah dalam makalah ini” kata Ust. Athian.

Dalam acara tersebut hadir pula dari kalangan Habaib. Habib Thohir Al-Kaff yang mewakili kalangan Habaib dalam memberikan pandangan umum mengatakan “Demi Allah, bahaya ahmadiyah tidak ada seujung kuku dibandingkan bahaya syi’ah!”

Dari NU, K.H. Hamid Baidhowi seorang kyai sepuh NU, berkesempatan memberikan pandangan umum tentang syi’ah. Beliau menyatakan keprihatinan akan meluasnya gerakan Syiah di Indonesia. “Parahnya, NU pun sudah mulai digerogoti akidah Syiah,” katanya.

Dalam kesempatan memberikan pandangan umum, beliau juga melancarkan kritik tajam kepada Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj. Menurutnya, tokoh alumnus Lirboyo ini memiliki aqidah yang sesat dan menyesatkan. Kyai Hamid juga menyatakan bahwa Said Aqil juga pernah menghina Nabi Muhammad shaalallahu alaihi wa sallam.

“Panitia jangan khawatir, semua yang saya ucapkan adalah tanggungjawab saya. Saya ini sudah tua, mau mati sekarang juga tidak apa-apa” imbuhnya serius.

Setelah masing-masing ormas memberikan pandangan umumnya, dan semua sepakat akan kesesatan syi’ah, acara dilanjutkan dengan sidang komisi dan sidang pleno. Dalam sidang pleno, dari komisi taktis memberikan satu catatan tentang keberadaan radio di wilayah Jakarta yang terindikasi virus syi’ah, yaitu RASIL (Radio Silaturahmi). 

Setelah pembacaan hasil keputusan masing-masing komisi, pimpinan sidang memberi kesempatan kepada peserta musyawarah untuk memberikan beberapa saran. Kesempatan ini diambil oleh seorang dari FPI, Muhammad Al-Khattath.

Al-Khattath menilai, penyebutan radio RASIL sebagai radio syi’ah perlu ditilik kembali. Menurutnya, dalam radio tersebut, ada juga beberapa pengisi dari kalangan wahabi “dan saya juga pernah diundang oleh rasil!” tandasnya.

Al-Khattath mengimbuhkan, “jangan sampai kita salah tangkap orang seperti densus 88, bukan teroris dibilang teroris. Nah kita jangan sampai mengulang kesalahan yang sama, bukan syi’ah dibilang syi’ah” pungkasnya.

Tidak lama setelah Al-Khattath menyampaikan saran dan usulannya, seorang pakar aliran sesat Ust. Hartono Ahmad Jaiz turut memberi saran. Ust. Hartono menegaskan bahwa radio RASIL memang benar-benar telah terindikasi terkena virus syi’ah.

“Dalam radio tersebut ada tokoh syi’ah yang menjadi pengisi tetapnya, yaitu Zen Al-Hadi dari Yayasan Fathimah condet, dan ustadz Husein Alatas” ujarnya.

Sosok Husin Alatas sendiri, masih terjadi simpang siur dikalangan masyarakat tentang kesyi’ahannya. Namun Ust. Hartono memberikan beberapa bukti yang menguatkan pernyataanya “Husin Alatas pernah menyatakan bahwa hadits muslim itu hadits yang menjijikkan, dan bukhori – muslim itu derajatnya hanya pengumpul riwayat, bukan penentu shohih tidaknya sebuah hadits. Yang berhak menentukan shohih tidaknya sebuah hadits adalah para ulama yang rabbani” papar Ust Hartono mengulangi perkataan Husin Alatas.*

Kemudian Ust Hartono melanjutkan, “namun Husin Alatas tidak menyebutkan siapa ulama rabbani tersebut, mungkin maksud dia ya dirinya sendiri” candanya yang diiringi tawa dari para hadirin.

Ust. Hartono menandaskan, “bukan berarti kalo salah satu dari kita pernah diundang oleh RASIL, lantas RASIL menjadi bersih dari syi’ah!”.

Diposkan oleh aminullahyasin 

  • Sekretaris Yayasan Himpunan Alumni Pesantren Islam Al-Irsyad (HAPIA) Tengaran
  • Pemimpin Redaksi Buletin Da’wah “Gema Islam”

=================================

Ada satu hadits riwayat Bukhari yang dikatakan menjijikkan oleh Husen Al-Atas di Radio Rasil

*Artikel berjudul “Radio Rasil Pro Syiah?” bisa dibaca lengkap di situs nahimunkar.com, tepatnya di https://www.nahimunkar.org/10988/radio-silaturahim-pro-syiah/ Dalam artikel tersebut, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, mengkritisi siaran Rasil yang bermoto “Untuk Islam Yang Satu” khususnya Tausiah Sore, dengan nara sumber Ustadz Zen Al-Hady, yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang adzan magrib, di edisi 02 Februari 2011.

Dalam tulisan tersebut, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menangkap kesamaan pandangan Ustadz Zen Al-Hady, dengan pendukung syi’ah sebelumnya, seperti Said Agil Siradj, Umar Shihab, yang mengatakan syi’ah sudah ada sejak dulu, dan mereka bagian dari Islam karena orang Syi’ah diizinkan ber-Haji ke tanah suci. Alasan lainnya, Republik Syi’ah Iran merupakan anggota OKI dan anggota Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia).

Banyak lagi yang diungkapkan oleh Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, mengomentari Ustadz Zen Al Hady, yang menurutnya ingin membentuk sebuah opini yang bagus, namun klise. Kesimpulannya menyesatkan!

Dari sinilah Ustadz Hartono Ahmad Jaiz merasakan bahwa Radio Silaturahim (Rasil) pro syi’ah. Dan menurutnya hal ini bukan hanya didasarkan pada pernyataan ustadz Zen Al-Hady saja, tetapi selama ini di Rasil ada sosok narasumber bernama ustadz Husin Alatas yang oleh umat Islam diidentifikasi sebagai salah satu misionaris Syi’ah.

Menurut Ustadz Hartono, indikasi syi’ah yang bisa ditemukan pada diri Ustad Husen Alatas antara lain ketika Ustadz Husen Alatas menjawab sebuah pertanyaan dari pendengar yang dibacakan pembawa acara Rasil AM720, yang terjadi pada Selasa malam (sekitar jam 23:00 wib) tanggal 25 Oktober 2011 (28 Dzulqa’dah 1432H), ia menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan syahwat paham sesat Syi’ah yang cenderung meremehkan Imam Bukhari dan Muslim yang diakui otoritasnya oleh ummat Islam di dunia sebagai perawi hadits shahih.

Ustadz Husen Alatas kala itu pernah mengatakan salah satu hadits riwayat Muslim dengan tudingan sebagai hadits palsu. Yaitu, hadits yang isinya antara lain mengatakan bahwa “orang tua Nabi di neraka”. Juga, ada satu hadits riwayat Bukhari yang dikatakannya menjijikkan. Yaitu, salah satu hadits yang mengatakan bahwa “Fathimah datang ke Nabi Muhammad dan berkata agar Nabi bersikap adil kepada istri-istrinya sebagaimana kepada Aisyah, dan ketika Fathimah datang kepada Nabi Muhammad, beliau sedang berada di pangkuan Aisyah”.

Bahkan, ustadz Husen Alatas seperti tidak mengakui eksistensi dan otoritas Imam Bukhari dan Muslim dengan seolah-olah memposisikan keduanya sebagai bukan termasuk ulama yang berhak menilai shahih tidaknya hadits. Karena menurut Husen Alatas, Bukhari dan Muslim hanya mengumpulkan riwayat. Sedang yang menentukan shahih atau tidaknya hadits adalah ulama rabbaniyyin berdasarkan Al-Qur’an dan akal. Husen Alatas mereduksi otoritas Imam Bukhari dan Muslim hanya sebagai pengumpul riwayat (hadits). Ini salah satu ciri khas watak penganut paham sesat Syi’ah yang senantiasa menentang hadits Bukhari dan Muslim.

Contoh lain yang mempertegas kaitan ustadz Husen Alatas dengan Syi’ah adalah sebagaimana diungkap dalam buku berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia yang terbit sejak 2002, bahwa ustadz Husen Alatas cukup aktif menghadiri acara-acara yang diselenggarakan kalangan syi’ah di gedung Darul Aitam, Tanah Abang,  Jakarta Pusat.

Sementara itu, mengenai Ustadz Zen Al-Hady, yang juga pernah menjadi nara sumber di Rasil AM 720, masyarakat sudah lama mengenali beliau sebagai misionaris Syi’ah, antara lain melalui kedudukannya sebagai Dewan Pembina di Yayasan Fathimah yang bermarkas di Jalan Batu Ampar III No.14, Condet, Jakarta Timur 13520. Yayasan Fathimah adalah salah satu dari sekian puluh Yayasan Syi’ah yang bertebaran di Indonesia.

Dengan keberadaan Ustadz Zen Al-Hady, dan Ustadz Husen Alatas yang track recordnya telah dikenali sebagai misionaris faham sesat syi’ah, dan jika keduanya dijadikan nara sumber oleh Rasil AM 720, maka munculah pertanyaan apakah Radio Silaturrahim Pro Syi’ah?

Apakah ini juga sebagai bentuk bagian dari jalan untuk mengadu domba Umat, dan menjadikan keragu-raguan antar muslim khususnya Muslim Indonesia? Wallahu’alam bis showab! (M Fachry/arrahmah.com) Sabtu, 19 Rabiul Awwal 1433 H / 11 Februari 2012 22:46

https://www.nahimunkar.org/kenapa-media-syiah-berbahaya-inilah-contohnya/

 

(nahimunkar.com)