Apa saja kelima faktor, berikut uraiannya:

1. Murah Janji Persentase

Menurutnya, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan Wali Kota Makassar, Danny Pomanto menjanjikan kemenangan luar biasa presentasenya.

Nurdin menjanjikan persentase 60 persen.

“Tapi kerja-kerja politik tak hanya memasang target tapi harus sesuai dengan kerja di lapangan.  Jangan murah menjanjikan, tanpa memperhatikan kondisi politik masyarakat. Justru karena janji muluk-muluk itu menaikkan emosi politik di Sulsel,” katanya.

Sehingga, lawan termotivasi.

Ollenk, sapaan Syamsuddin, mendapatkan banyak pesan WhatsApp.

“Ada pesan, Bang Ollenk, akan saya balikkan target dari tim jokowi di Sulsel,” katanya.

Menurutnya, omongan itu memantik semangat mereka. Lebih bagus target jangan diumbar tapi kerja di lapangan real.

2. Tak ada Kerja Sama

Ollenk menganggap pejabat daerah saling berlomba menonjolkan, mulai dari gubernur, wali kota dan hingga kepala daerah yang berafiliasi dengan partai pengusung Jokowi-Ma’ruf.

Mereka saling berlomba, masing-masing mau mengatakan dirinya pemimpin.

“Dalam pengertian dirinya saja, tanpa bekerja terpadu dengan tokoh politik lain. Mereka memberikan kesan ke nasional bahwa mereka yang kerja dan mereka berharap dapat poin di pusat,” katanya.

Jadi kelemahana kedua, ketiadaan kerja sama, antar pendukung di Sulsel sehingga kalah telak.

3. Urus Partai Sendiri

Partai pengusung Jokowi-Ma’ruf, beberapa bulan ini tak terkonsolidasi secara baik, rapat jarang dan koordinasi dan susah membangun rasa kebersamaan.

“Semua sibuk urus partai dan diri masing-masing, urus Capres dia sudah lupakan. Sehingga, sangat mempengaruhi kerja politik,” katanya.

Menurutnya, untung Jenggala turun memberikan advice sehingga tak sama nasibnya di Banda Aceh dan Sumatera Barat.

Hasil hitung cepat di Banda Aceh, Joko Widodo-Ma’ruf Amin 17,12 persen, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 82,88 persen. Sementara itu, di Sumatera Barat, Joko Widodo-Ma’ruf Amin meraih 9,12 persen, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 90,88 persen.

“Kita bersyukur jenggala center turun, kalau enggak sama di Sumbar dan Aceh, rata-rata 10 persen. Memang kita dihajar. Untung bukan sistem districk vote, kalau tidak maka kita lewat. Isu itu menjadi pembicaraan di Jakarta.

4. Efek Tokoh Nasional tak Signifikan

Pengaruhnya tokoh nasional yang bekerja di Sulsel. Ini ada korelasinya, mau yang sudah menteri atau tokoh politik di sulsel. Sayangnya, masing-masing bekerja sendiri-sendiri, dan tak padu, tak terkoordinir, bisa saja segmentasi sasaran politik double.

Sehingga, pengaruhnya tak melebar ke samping, tak memberikan siginifikansi pengaruh.

“Mereka kadang-kadang pulang kalau ada momentum politik, jadi saya sebagai direktur jenggala memberikan pesan urusan politik bukan kepentingan sesaat, berjalan kerja-kerja politik,” katanya.

Kalau kita bicara kerja-kerja Jusuf Kalla selama, maka itu kerja panjang.

“Bukan lagi saat mau pemilihan, saya mesti kepentingan nasional ketokohan Pak JK. Tanpa itu, tokoh-tokoh ini dinilai karbitan. Karena tak punya basis kuat yang dikerja sekian lama, bisa tampil the Next JK,” katanya.

5. Bukan Lagi JK

Masyarakat sulsel sudah sampai pada cara berpikir, kan bukan lagi Jusuf Kalla lagi sebagai wakil presiden.

“Jadi ngapain kita susah-susah karena JK tak diberi peluang, dan ini cara berpikir orang Sulsel. Walaupun JU sudah berkali-kali menyampaikan bahwa dia mendukung 01. Masyarakat realistis JK bukan sebagai wapres dan buat apa juga,” katanya.

Ditambah lagi, keluarga Jusuf Kalla, Erwin Aksa mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Walapun menurut saya, posisi Erwin di sana sangat rasional dan realistis dengan ukuran persahabatan. Saya bangga, karena Erwin memberikan pesan kuat, bukan cuman secara politik dan tapi budaya juga,” katanya.

“Jika anda berkawan dengan orang Bugis-Makassar, dia akan berjuang mati-matian, kalau anda sudah bersahabat dengan putra Sulsel bukan persoalan Anda menang atau tidak,” katanya.

Ollenk sangat mengapresiasi, ini sebagai simbol kelaki-lakian di tanah rantau.

 “Dan itu diwakili oleh erwin sebagai simbol persahabtan. Kalau bersahabat dengan lelaki Bugis-Makassar, maka dia akan pertaruhkan jiwa dan raganya, dan ini menurut saya, pesan itu kuat,” katanya.

Ia mengatakan, orang Sulsel tak boleh ada menyalahkan Erwin.

“Kalau ada yang salahkan maka dia tak tahu dan tak paham. Kekalahan Jokowi tak memalukan di Sulawesi Selatan, dengan partisipasi Jenggala, kalau di bawah 20 persen suara Jokowi maka saya tak pulang-pulang selama lima tahun, jadi alhamdulillah kita bisa membuat Sulsel tak semalang Aceh dan Sumbar,” katanya.(*)/ tribun-timur.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.086 kali, 1 untuk hari ini)