.

 

 

Tanggal 14 Februari yang dikenal sebagai hari kasih sayang, ternyata di beberapa negara dilarang perayaannya. Selain beralasan perayaan tersebut tak sesuai dengan budaya serta agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk negara tersebut, valentine juga dikhawatirkan akan memicu timbulnya berbagai maksiat akibat pergaulan antar lawan jenis yang kebablasan.

Negara-negara apa saja itu? Berikut informasinya:

  1. Arab Saudi. Di negara ini bahkan beberapa hari sebelum valentine telah dilakukan pelarangan pada toko-toko untuk menjual berbagai pernik dan aksesoris yang berwarna merah atau pink dengan tema valentine. Pejabat polisi syari’ah di Arab Saudi akan menyita benda-benda tersebut jika kebetulan ditemui dalam pemeriksaan yang mereka lakukan. Bahkan bunga mawar merah pun tak diperbolehkan dijual pada saat mendekati, hingga berlalunya valentine.
  2. Iran. Di negara ini, semua simbol valentine, produk dengan gambar hati, mawar merah, dan lainnya yang mempromosikan valentine dilarang beredar. Jika ada yang melanggar, maka hukuman akan dijatuhkan. Ini adalah tindakan dalam upaya membendung makin banyaknya generasi muda Iran yang turut memperingati hari kasih sayang ala Barat tersebut.
  3. Uzbekistan. Sebagai ganti perayaan valentine, warga Uzbekistan diminta untuk memperingati hari ulang tahun kaisar Moghul Babur. Kebetulan kaisar Moghul lahir di tanggal yang sama yaitu 14 Februari.
  4. Kirgizstan. Hari valentine dianggap merupakan pengaruh buruk bagi moralitas generasi muda, sehingga dilarang di negara ini. Kepala departemen pendidikan negara ini bahkan memerintahkan kepala sekolah yang ada untuk melarang beredarnya berbagai kartu ucapan valentine di sekolah.
  5. Malaysia. Negara tetangga kita ini juga banyak melakukan kampanye pelarangan dan penjelasan mengenai haramnya memperingati valentine di berbagai sekolah di negara tersebut. (Merdeka)

Posted on Feb 14 2014 – 12:06pm by Chichi

***

Merayakan Hari Valentine, Kasih Sayang Atau Zina?

Posted on Feb 12 2014 – 6:08pm by Chichi

 

Sejarah valentine

Awalnya bermula dari sebuah upacara ritual di Romawi Kuno pada tahun 496 M, yang dimasukkan menjadi ritual agama nasrani oleh seorang Paus Gelasius I. Ia menamainya dengan Valentine’s Day untuk menghormati seorang santo bernama St Valentine yang secara kebetulan meninggal dunia di tanggal 14 Februari (dilansir olehThe Encyclopedia Britania, vol. 12).

Jadi awalnya tradisi tersebut adalah tradisi ritual Romawi kuno yang jelas sekali bukan sesuatu yang disarankan oleh agama Islam untuk menirunya. Perhatikan saja, sumber sejarahnya sendiri pun dikeluarkan oleh kalangan Barat, yaitu Ensiklopedia Britania. Lalu tradisi tersebut dijadikan ritual agama Nasrani yang juga tak ada tuntunan bagi umat Islam untuk turut ramai merayakan.

Kasih sayang atau zina?

Lebih parah lagi, hari Valentine yang dibungkus dengan kedok merayakan kasih sayang itu kini makin absurd alias tak jelas. Mulai dari memberikan coklat sebagai simbol kasih sayang, hingga menyatakan cinta pada lawan jenis yang ditaksir dan melakukan berbagai hal yang menjurus pada perzinahan akan banyak dilakukan oleh remaja-remaja yang belum paham makna dibalik perayaan tersebut.

Mereka menafsirkan hari kasih sayang sebagai saat untuk memperoleh pembuktian kasih sayang dari pasangannya dengan boleh melakukan hubungan zina alias hubungan haram dan terlarang di saat itu. Sudah banyak penelitian menyebutkan bahwa di hari valentine, angka penjualan kondom sebagai alat kontrasepsi akan meningkat tajam. Untuk apalagi jika tidak digunakan sebagai sarana berzina?

Padahal makna kasih sayang sendiri, terlepas dari perayaan hari valentine atau tidak, akan sangat bertolak belakang dengan perbuatan negatif dan zina yang dilakukan oleh sebagian remaja kala itu.

Jika benar-benar hendak memberikan kasih sayang, maka seharusnya mereka menjaga kesucian pasangannya dengan baik. Bukan malah merusak anak orang dan merusak juga masa depannya, bukan?

Nah, ungkapan kasih sayang tak harus menunggu tanggal 14 Februari alias hari valentine saja. Ungkapan kasih sayang pun tak perlu meniru budaya Barat yang belum tentu pantas untuk kepribadian dan agama kita. Bersikap penuh kasih sayang pada sesama, keluarga, dan sahabat tentu lebih mulia dilakukan setiap hari. Setuju, kan?

Sumber: iberita.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.297 kali, 1 untuk hari ini)