Ilustrasi : Kisah Muslim


Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Kebenaran dan kesombongan merupakan dua hal yang tidak bisa disatupadukan atau sulit dipertemukan. Kebenaran sulit diterima bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada kesombongan. Hal ini sebagaimana dikatakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa orang yang sombong bukanlah orang yang berpakaian bagus atau berpenampilan mewah tetapi orang yang datang kebenaran kepadanya dan kemudian menolaknya. Dalam sejarah Islam, ada contoh menarik kisah tiga tokoh Quraisy yang menolak kebenaran yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi mereka secara diam-diam mendengarkan apa dibaca Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka secara sembunyi-sembunyi mendekat untuk mendengarkan suara Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di malam hari.

Al-Qur’an dan Gejolak Hati Orang Kafir

Secara terbuka, tiga orang berpengaruh Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal, dan Al-Akhnas ibnu Syuraiq menolak apa yang disampaikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tetapi dalam hati-hati mereka, tertancap kekaguman yang luar biasa. Suatu malam, tiga orang ini mendatangi Nabi untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Ketiganya tidak mengetahui keberadaan satu sama lain. Mereka mendengarkan bacaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai dari malam hari hingga subuh. Ketika hari telah subuh, mereka bubar. Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu, dan satu sama lain berkata : “Apa yang kamu dapatkan ?” Kemudian masing-masing mengemukakan apa yang mereka pahami. Kemudian mereka berjanji  tidak akan mendengarkannya lagi. Hal akan berdampak buruk bila diketahui pemuda Quraisy, sehingga tertarik pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pada malam kedua, masing-masing dari mereka datang lagi dengan dugaan kedua temannya pasti tidak akan datang lagi mengingat adanya perjanjian sebelumnya. Setelah di pagi hari, mereka bubar dan pulangnya saling bertemu dan saling mencela. Hal ini berulang kembali pada malam ketiga, dimana mereka datang lagi dan bertemu lagi saat bubar.

Akhnas berinisiatif untuk mendatangi rumah Abu Sufyan dan bertanya : “Hai Abu Handhalah (panggilan Abu Sufyan), ceritakan kesanmu setelah mendengar bacaan Muhammad. ” Dia menjawab : “Hai Abu Tsa’labah (panggilan Akhnas), Demi Allah sesungguhnya, aku telah mendengar banyak hal yang kuketahui dan kuketahui pula makna yang dimaksud darinya, tetapi aku mendengar banyak hal yang tidak kumengerti maknanya dan apa yang dimaksud olehnya.” Al-Akhnas berkata mengiyakan : “Aku pun berani sumpah seperti kamu, bahwa aku mempunyai pemahaman yang sama denganmu.”

Lalu Al-Akhnas keluar rumah Abu Sufyan dan langsung menuju rumah Abu Jahal. Setelah masuk dia berkata : “Hai Abul Hakam (panggilan Abu Jahal), Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah kamu dengar dari bacaan Muhammad.” Abu Jahal menjawab : “Sama seperti yang kamu dengar. Kami bersaing  dengan Bani Abdu Manaf dalam hal kedudukan yang terhormat. Mereka memberi makan, maka kami pun memberi makan. Mereka membantu mengadakan angkutan, maka kami pun berbuat yang sama. Mereka memberi, kamipun memberi. Hingga manakala kami berlutut di atas kendaraan dalam keadaan lemah dan tersandera, mereka mengatakan bahwa dari kalangan kami ada seorang Nabi yang memperoleh wahyu dari langit. Maka bilamana kami menjumpai ini, demi Allah, kami tidak kan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan percaya kepadanya.” Maka Akhnas bangkit meninggalkannya.

Gengsi Sosial dan Penolakan Kebenaran

3 tokoh Quraisy itu sebenarnya mengetahui kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun karena kesombongan dan gengsi yang bercokol di dada-dada mereka, maka cahaya Islam itu ditolaknya. Apa yang dikatakan oleh ketiga orang itu muaranya sama bahwa Al-Qur’an bukan perkataan manusia, tetapi berasal dari Allah Sang pencipta dan Pemelihara alam semesta.

Faktor kesombongan dan ta’assublah yang menjelaskan kenapa mereka menolak risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Abu Jahal jelas mengatakan tidak akan mempercayai apa yang disampaikan Muhammad selama-lamanya. Andaikata Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu berasal dari sukunya pasti akan dipercaya risalahnya. Dia sadar bahwa wahyu itu bukan perkataan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetapi karena nasab Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan dari golongannya, maka Al-Qur’an harus ditolaknya.

Disinilah pentingnya memahami bahwa petunjuk itu sangat bergantung pada keterbukaan dan kelapangan dada ketika menghadapi sesuatu. Ketika dada ini lapang maka hidayah akan mudah masuk. Sebaliknya, ketika dada sesak karena kesombongan yang bercokol, maka akan terhalanglah petunjuk Allah.

Pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagian besar adalah orang-orang biasa dan bahkan orang yang tidak memiliki kedudukan atau harta yang melimpah, tetapi dada-dada mereka siap menerima cahaya kebenaran. Sebaliknya para pembesar yang memiliki kedudukan agung dan berharta banyak tetap mempertahankan gengsi sosialnya, dan dengan kesombongan melepas dan menolak cahaya kebenaran dari Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sang Nabi dan Rasul yang mulia.

Surabaya, 3 Nopember 2018

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 931 kali, 1 untuk hari ini)