Presiden Jokowi (IST)


Belum ada penjelasan pasti, apa dibalik Dibalik Presiden Jokowi Sudah 3 Kali Membatalkan Sepihak Saat Mau Melewati Ataupun Ke Kudus Jawa Tengah.

Dengan kenyataan itu rupanya ada berita yang entah seberapa kebenarannya, tapi kini beredar.

Inilah beritanya dari sebuah situs.

***

Ini Dia Bukti Jokowi tak Pernah Melewati dan Mampir Kudus, Aroma Mistik?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hampir tidak pernah melewati bahkan mampir ke Kudus. Untuk pergi ke Pati ataupun Jepara saja, orang nomor satu di Indonesia tidak pernah karena harus melewati kota yang memiliki dua makam wali yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Berikut ini Presiden Jokowi membatalkan sepihak saat mau melewati ataupun ke Kudus:

  1. Pada 10 Agustus 2016, Jokowi juga membatalkan saat mau mengunjungi Pesantren Mataliul Falah Margoyoso Pati. Pesantren ini dibawah asuhan almarhum KH Sahal Mahfudz ulama yang sangat dihormati kalangan NU.
  2. Pada 29 Januari 2015, Presiden Jokowi tidak menghadiri acara groundbreaking waduk Logung di Kabupaten Kudus. Padahal sebelumnya, Bupati Kudus sudah memastikan Presiden Jokowi akan hadir dalam acara groundbreaking waduk Logung.
  3. Pada 1 Desember 2017, Jokowi tiba-tiba tidak menghadiri acara pembukaan Musabaqoh Qiraatil Kitab (MQB) di Pondok Pesantren Balekambang, Nalumsari, Jepara. Berdasarkan acara, orang nomor satu ini membuka acara MQB di kabupaten Jepara.

https://suaranasional.com .

***

Klenik, Jimat, Tathoyyur Bahkan Dukun Dipercaya oleh Golongan Pengecut

(Jangan-jangan justru mayoritas manusia walau mengaku Muslim berkeyakinan begitu. Karena mayoritas manusia, menurut Al-Qur’an justru tidk mengetahui agama yang lurus.)

Ilustrasi gambaran mayoritas manusia / Abdul Hakim

***

Tampaknya Islami tapi memelihara keyakinan batil   

Tampak rajin shalat, puasa, bahkan berhaji, namun penyakit-penyakit aqidah (keimanan) yang berbahaya tidak disingkirkan, malah kadang dipiara.

Klenik yang dari jenis nujum atau astrologi (percaya kepada pengaruh bintang dikaitkan dengan nasib) dengan aneka ubo rampe (tetek bengek rangkaian) sebagai syarat-syaratnya dengan anggapan agar selamat dari bahaya, mereka taati. Padahal itu kebatilan yang nyata.

Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.” (HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan). https://muslim.or.id

Begitu juga jimat, aji-aji, pelet, aji pengasihan, tangkal-tangkal jampe-jampe/ ruqyah yang tidak syar’i, masih mereka pakai dan percayai. Padahal itu kesyirikan, dosa terbesar.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

            “Sesungguhnya ruqyah, jimat, dan tiwalah (pelet), adalah syirik.” (HR. Abu Daud No. 3383, Ibnu Majah No.3530, Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan  Ibni Majah No. 3530)

Tapi tidak semua (ruqyah) dilarang, dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

كنا نرقي في الجاهلية، فقلنا: يارسول اللّه، كيف ترى في ذلك؟ فقال: “اعرضوا عليَّ رقاكم، لابأس بالرقى ما لم تكن شركاً

“Kami meruqyah pada masa jahiliyah, kami berkata: ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang itu?” Beliau bersabda: “Perlihatkan ruqyahmu padaku, tidak apa-apa selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Abu Daud No.3886, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 1066) http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.com.co/

 Lebih dari itu, masih banyak yang percya kepada tathoyyur, suara burung dan lainnya dianggap sebagai alamat sial atau pun keberuntungan. Bahkan dukun-dukun pun dipercayai. Padahal telah ada ancaman dari Nabi saw:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ

“Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi (dukun) tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.” (HR. Al Bazzar dalam musnadnya).

Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Siapa saja yang menerjangi perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut, berarti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri darinya. Bisa saja perkara yang dilakukan adalah kesyirikan seperti beranggapan sial. Bisa pula kekufuran seperti mempercayai (dukun) tukang ramal dan melakukan sihir. Siapa saja yang ridho dan mengikuti hal-hal tadi, maka ia dihukumi seperti pelakunya karena ia menerima dan mengikuti hal yang batil.” (Fathul Majid, 316) https://muslim.or.id

Ketika gejala yang rusak aqidahnya itu justru mayoritas dari manusia di dunia ini,  masih ada tambah celakanya lagi. Yaitu ketika mereka justru bergerombol dalam satu golongan atau lebih, lalu golongan-golongan yang rusak aqidahnya itu berkomplot menghadapi Islam. Maka yang menda’wahkan Islam secara benar akan dijadikan musuh bersama oleh komplotan dari aneka golongan yang rusak aqidahnya itu.

Ketika komplotan itu tidak berkuasa, maka mereka menjilat kepada penguasa untuk memusuhi Islam. Dan ketika komplotan yang rusak aqidahnya itu memegang kekuasaan, maka berkhianat terhadap amanat kekuasaan yang dipegangnya sambil menghadapi Islam dengan merangkul aneka komplotan yang rusak aqidahnya itu. Jadilah wadyabala syetan yang berupa manusia-manusia yang aqidahnya rusak. Kalau mereka itu Muslim maka terkena penyakit hati. Hingga seruan apapun yang menegaskan kebenaran maka akan memukul mereka hingga tambah sakit hatinya.

Saking sakitnya hati orang-orang munafik, hingga digambarkan dengan jelas dalam Al-Qur’an:

{يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ }  [سورة الـمنافقون,٤]

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) [Al Munafiqun4]

Itulah celaan Allah Ta’ala terhadap orang-orang munafik, mereka sangat-sangat pengecut, hingga tiap ada suara keras dikira pasti ditujukan kepada mereka, saking kepengecutannya, menurut Tafsir Zaadul Masir oleh Ibnul Jauzi. Padahal mereka juga hanya budak dari orang-orang kafir. Bagaimana pula bila dari pihak Islam bersuara keras, sedang dari kafir juga sudah tidak percaya kepada munafiqin itu karena sudah dianggap tidak ada gunanya lagi? Ya lari ke dukun lagi lah… hingga tidak ada habis-habisnya kesesatannya… na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.org) 

(Dibaca 2.723 kali, 1 untuk hari ini)