Total utang Indonesia (gabungan pemerintah & swasta ) ke negeri Tirai Bambu, per Februari 2016, tumbuh melesat sebesar 59,05% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Besar hutang mencapai US$ 13,91 miliar naik dari setahun sebelumnya sebesar US$ 8,75 miliar.

Jika Februari tahun lalu China masih merupakan kreditor nomor lima, maka tahun ini sudah ada di posisi ketiga.

Berikut posisi lima besar kreditor utang Indonesia dan pertumbuhannya secara tahunan per Februari 2016:

1) Singapura (US$ 54,98 miliar), turun 9,43%
2) Jepang (US$ 32,33 miliar), naik 0,69%
3) China (US$ 13,91 miliar), naik 59,05%
4) AS (US$ 10,05 miliar), turun 6,65%
5) Belanda (US$ 9,96 miliar), turun 15,18%

http://ift.tt/1U1VXAs

Saya tidak perlu memberikan analisis macam-macam atas fakta ini.

YANG PASTI, lonjakan prosentase hutang yang begitu menjulang, hanya dalam waktu 1 (satu) Tahun adalah TIDAK MUNGKIN jika tidak dibarengi dengan deal-deal kepentingan strategis lainnya (tidak murni bisnis semata).

Itu kata saya, silahkan jika anda ingin berkata lain.

by Tara Palasara/ shareilmuini.blogspot.co.id

***

Setahun Jokowi, Utang Negara Hampir Dua Kali Lipat 32 Tahun Soeharto

soeharto-joko

Presiden RI (1966-1998) Soeharto dan Presiden Jokowi (kanan)


Rimanews – Selain jago blusukan, Presiden Joko Widodo rupanya juga hebat soal menambah utang. Hingga November 2015, total utang pemerintah pusat tercatat Rp 3.074,82 triliun.

Pada 2014, utang Indonesia mencapai Rp 2.604,93 triliun. Artinya, sampai November 2015, utang Indonesia bertambah Rp 469,89. Padahal, selama 32 tahun memerintah, Presiden Soeharto hanya meninggalkan warisan utang sebesar sebesar 53,8 miliar dolar AS pada 1997.

Jika disetarakan dengan kurs rupiah terhadap dolar pada tahun 1997, utang Pemerintah Soeharto senilai Rp261,2 triliun. Jadi, setahun Jokowi berkuasa, utang pemerintah kita hampir dua kali lipat utang di sepanjang Era Orde Baru (1966-1998).

Meski beban utang demikian besar, pemerintahan Jokowi-JK masih tetap mengandalkan pembiayaan dari pinjaman alias utang untuk menutup defisit anggaran tahun depan. Presiden Jokowi mengakui masih akan memanfaatkan pinjaman atau utang baik dari dalam maupun luar negeri.

Dalam postur draf RAPBN 2016, total pendapatan negara tahun depan ditargetkan Rp 1.848 triliun. Terdiri dari pendapatan dari sektor perpajakan Rp 1.565,8 triliun, pendapatan dari non-perpajakan Rp 280,3 triliun dan penerimaan hibah sebesar Rp 2 triliun.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 2.121,3 triliun. Terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.3391,1 triliun dan transfer daerah serta dana desa sebesar Rp 782,2 triliun.

Sebagai konsekuensi dari rencana tersebut, fiskal tentu mengalami defisit anggaran. Dengan komposisi tersebut, RAPBN 2016 mencatat defisit anggaran Rp 273,2 triliun atau 2,1 terhadap PDB.

Mau tak mau, pemerintah mengandalkan utang untuk pembiayaan defisit anggaran. Menurut pemerintah, besarannya utang dari dalam negeri Rp 272 triliun dan luar negeri Rp 1,2 triliun.

Dengan demikian, utang Indonesia tahun depan diprediksi melampaui angka Rp 3.200 triliun. Angka ini hampir tiga kali lipat dari utang yang ditinggalkan Presiden Abdurrahman Wahid, yakni 1.273,18 triliun di tahun 2002.

Sumber: nasional.rimanews.com/Dhuha Hadiansyah/ 24 DES 2015

***

Simak, Inilah Warisan Utang Para Presiden Kita Dari Soekarno Hingga SBY

presiden indonesia

Jakarta – Indonesia adalah sebuah negeri yang sedang berkembang. Pembangunan pun dilakukan ke seluruh pelosok negeri. Ya, hal tersebut pun tidak terlepas dari sosok para pemimpin negeri ini. Namun, tahukah Anda jika beberapa pemimpin negeri ini lengser dengan meninggalkan utang dengan jumlah yang luar biasa?

Kondisi tersebut telah terjadi sejak masa Presiden Soekarno. Hingga mantan Presiden SBY lengser dan digantikan Jokowi pun, utang tersebut masih belum lunas.

Diawali dengan Presiden Soekarno. Beliau lengser dari jabatan dengan meninggalkan utang mencapai USD 6,3 miliar. Jumlah utang tersebut pun diturunkan kepada presiden pengganti. Yakni, Soeharto.

Sebagaimana diketahui, pada zaman orde baru, beberapa pembangunan pun terjadi. Namun, muncul kasus korupsi saat Presiden Soeharto menjabat. Dengan dalih pembangunan, utang Indonesia pun semakin membengkak. Ya, totalnya pun sangat fantastis. Yakni, mencapai sekitar USD 151 miliar. Jumlah itu meningkat USD 144,7 miliar dari jumlah sebelumnya.

Setelah demo besar-besaran di era 1998, akhirnya Presiden Soeharto digantikan dengan B.J. Habibie. Meski hanya menjabat dalam waktu singkat, yakni 17 bulan, beliau mampu membayar utang negara. Memang, jumlahnya tidak banyak. Namun, hal tersebut cukup membantu.

Sebagaimana pantauan Harian Indo pada Selasa (24/5/2016), Habibie dapat membayar utang negara sebesar USD 3 miliar. Nah, totalnya pun berkurang dari USD 151 miliar menjadi USD 148 miliar.

Kemudian, tren positif pun berlanjut di era Gus Dur. Beliau menggantikan Habibie melalui pilpres. Presiden yang satu ini pun melakukan hal sama dengan presiden sebelumnya. Memang, totalnya tidak sampai bisa melunasi seluruh utang negara. Setidaknya, jumlahnya kali ini cukup besar. Yakni, sekitar USD 9 miliar. Artinya, utang negara hingga Gus Dur lengser turun menjadi USD 139 miliar. Penurunan yang cukup fantastis, mengingat beliau hanya menjabat 21 bulan.

Megawati pun diangkat menjadi presiden menggantikan Gus Dur. Di era presiden perempuan kali pertama ini, Indonesia kembali menambah utang. Namun, jumlahnya tidak sebanyak yang dilakukan Presiden Soeharto. Mulai menjabat hingga Lengser, Megawati hanya menambah hutang USD 2 miliar. Jadi, total utang Indonesia mencapai USD 141 miliar.

Nah, angka utang yang lebih fantastis sebenarnya bukan ditorehkan mantan Presiden Soeharto. Ya, utang terbesar terjadi selama masa pemerintahan Presiden SBY. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Yakni, mencapai USD 150 miliar. Artinya, total utang negeri ini mencapai USD 291 miliar.

Jika dibandingkan dengan pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun dengan utang USD 144,7, tentu yang dilakukan SBY lebih parah. Bayangkan saja, dalam tempo 10 tahun menjabat (dua periode), dia menambah utang USD 150 miliar.

Sebagaimana diketahui, di era presiden SBY, Anda tentu mengetahui proyek Hambalang yang tidak rampung karena dugaan korupsi. Selain itu, sang pemimpin pun pernah berkoar minta gajinya dinaikkan. Nah, kini apakah Anda curiga uang tersebut dikorupsi?

Kini negeri ini diperintah oleh Presiden Jokowi. Dia memimpin negeri ini dengan warisan utang dari para pendahulunya. Jumlahnya pun sangat fantastis. Yakni, USD 291 miliar. Nah mampukah Presiden Jokowi mencicil atau bahkan melunasi utang tersebut? Kita nantikan saja. (Tita Yanuantari – harianindo.com)

Sumber: harianindo.com/ 24/05/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 18.616 kali, 2 untuk hari ini)