Ada Disertasi Menghalalkan Zina, Dibedahlah Buku “Ada Pemurtadan di IAIN’


Buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ dibedah di Masjid Al-Mustaqim Muntilan Magelang Jawa Tengah oleh penulisnya, Hartono Ahmad Jaiz, Ahad 29/9 2019.

Panitia menyelenggarakan itu karena baru saja ada
berita santer sebagai berikut:

Heboh Disertasi di UIN Jogja, Seks di Luar Nikah Tak Melanggar Syariat Islam’
Posted on 31 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

RMco.id  Rakyat Merdeka – Disertasi Abdul Aziz, mahasiswa program doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, menggemparkan dunia.

Dalam disertasinya, dia menyebutkan hubungan seks di luar pernikahan tidak melanggar syariat Islam. Mendengar hal ini, publik pun heboh. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dunia.

Warganet ikut-ikutan heboh. Abdul Aziz merupakan dosen Fakultas Syariah UIN Surakarta. Dia mengambil S3 di Pascasarjana UIN Yogyakarta.

https://www.nahimunkar.org/jangan-dikira-penyesatan-di-uin-iain-stain-dll-perguruan-tinggi-islam-di-indonesia-itu-hanya-kebetulan/

Penulis buku itu (Hartono Ahmad Jaiz) menjelaskan, sampai terjadi adanya disertasi seperti itu karena kurikulumnya diubah oleh Harun Nasution tahun 1985 untuk seluruh perguruan tinggi Islam se-Indonesia, dari Ahlussunnah diubah jadi aliran sesat Mu’tazilah. Alasannya, karena kalau tetap memakai kurikulum Ahlussunnah maka tidak akan maju, karena masih percaya taqdir. (Padahal percaya taqdir itu merupakan salah satu rukun iman yang tercantum dalam Hadits shahih yang dikenal dengan Hadits Jibril). Maka diganti kurikulum (aliran sesat) Mu’tazilah yang menurut harun Nasution rasional (yang tidak percaya taqdir) agar bisa maju. (Itu hasil wawancara langsung penulis buku, Hartono Ahmad Jaiz, dengan Harun Nasution direktur Pasca Sarjana IAIN Jakarta 1887).

Perlu diketahui, Mu’tazilah itu menganggap Al-Qur’an itu Makhluq. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah. Akibatnya, ada dosen IAIN/ UIN Surabaya yang sengaja menulis lafal Allah (lafal dari Al-Qur’an), lalu diinjak pakai sepatunya di depan para mahasiswa. Kasus hamper sama dilakukan pula oleh dosen STAIN Jember. https://www.nahimunkar.org/dihukum-mati-karena-merobek-dan-menginjak-al-quran-di-arab-saudi/

Di samping itu, Al-Qur’an dianggap sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi), akibat dari menggunakan metode hermeunetik dari Yunani yang diadopsi Yahudi dan Nasrani, lalu dipakai pula di kalangan Islam dipelopori Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir). Maka Nasr Hamid Abu Zayd divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, namun justru lari ke Belanda dan menjadi guru besar ulumul Qur’an, dan di antara muridnya adalah Nurkholish Setiawan dosen IAIN/ UIN Jogja. Kini dia jadi pejabat aneh di Kementerian Agama, yaitu Sekjen dan Irjen sekaligus. https://www.nahimunkar.org/sekjen-sekaligus-irjen-kemenag-yang-dipanggil-kpk-itu-murid-wong-murtad-tingkat-internasional/

Anehnya, Nasr Hamid Abu Zayd yang murtadnya murni itu justru diundang Kemenag untuk menatar dosen-dosen IAIN / UIN/ STAIN se-Indonesia mengenai peningkatan Pendidikan (pemurtadan?), maka diprotes oleh MUI Riau 2007 dan akhirnya dibatalkan. https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/

Tidak hanya itu. Dalam upaya memurtadkan umat Islam lewat Pendidikan tinggi Islam di Indonesia (UIN/IAIN/ STAIN dll) penguasa menggalakkan pengiriman dosen-dosen ke Barat untuk belajar atas nama study Islam sejak 1975 zaman menag Mukti Ali, dan paling gencar zaman Menag Munawir Sjadzali 1983-1993. Padahal Barat dalam apa yang disebut study Islam itu menganggap Islam hanyalah sub budaya Timur, dan itupun tidak sebesar Hindu dan Konghuchu.

Ditambah lagi, cara memahami Islam bukan pakai pendekatan ilmu2 Syar’i/ Islami, namun pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu menganggap bahwa agama itu hanya fenomena social. Jadi hanya diskriptif, apa yang terjadi di masyarakat (semuanya sah). Maka akibatnya, semua aliran sesat pun nilainya sama dengan yang tidak sesat. Bahkan agama selain Islam pun akan masuk surga. Itu sebenar-benarnya pemurtadan, dengan faham yang disebut sepilis (sekulersime, pluralism agama, dan liberalism agama yang telah diharamkan MUI 2005).

Harun Nasution pengubah kurikulum tersebut juga menyebut orang bukan Islam pun masuk surga.

(lihat Harun Nasution dan Nurcholish Madjid dalam Kasus Penyelewengan Tauhid Berkedok Ayat tentang Ahli Kitab
https://www.nahimunkar.org/harun-nasution-dan-nurcholish-madjid-dalam-kasus-penyelewengan-tauhid-berkedok-ayat-tentang-ahli-kitab/
).

Itulah bahaya pemurtadan secara sistematis lewat perguruan tinggi Islam se-Indonesia yang diuraikan penulis buku, dan itu merupakan inti dari bahaya yang diuraikan dalam buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ tersebut, yang menyeret Umat Islam tinggal Namanya saja Islam, tapi isinya adalah kemusyrikan baru berupa merelatifkan benarnya Islam relative sama benarnya dengan agama-agama lain. Itu jelas pemurtadan namun diberi nama sekulerisme, pluralism agama, liberalism (sepilis yang telah diharamkan MUI tahun 2005), namun justru tetap diterapkan hingga kini. Bahkan akibatnya sudah sangat jauh, sampai ada disertasi untuk doctor yang menghalalkan zina segala.

Na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 505 kali, 1 untuk hari ini)