.

  • Ibarat sebuah pertempuran di medan jihad, di antara bom dan peluru yang mematikan, maka serangan pembunuhan oleh Densus 88 yang menyasar para aktifis Islam adalah bom nuklir yang sangat berbahaya di antara persenjataan barat yang lain di belantara perang pemikiran dan politik negeri-negeri kaum Muslimin. Karena ujung dari bom nuklir itu adalah “Genocide komunitas Islam ala Densus 88″. Pemusnahan terhadap berbagai komunitas Islam yang berkeinginan kembalinya Islam secara kaffah dan syamil.

Pilihan persoalan ekstra judicial killing oleh Densus 88 menjadi persoalan paling krusial atas pertimbangan antara lain :

Pertama, banyak pembunuhan atas kaum muslimin terduga teroris termasuk yang salah sasaran tanpa melalui proses pengadilan adalah wujud bengis, arogansi dan kesewenang-wenangan penguasa.

Kedua, landasan filosofis pembunuhan terduga teroris di atas kerangka arahan propagandha internasional di bawah pimpinan kafir muharibban fi’lan Amerika Serikat (AS) atas nama war on terorism adalah sejatinya war on Islam. Ini artinya genderang perang internasional yang dikumandangkan oleh AS bersama sekutu-sekutunya dan antek-anteknya di negeri kaum Muslimin terhadap dunia Islam. Dan Indonesia memilih bersama pemerintah AS untuk memerangi Islam yang menjadi agama mayoritas di negeri sendiri. Dengan kata lain pemerintah Indonesia tengah memerangi mayoritas masyarakatnya sendiri.

Ketiga, yang dilakukan oleh Densus 88 tidak berdiri sendiri. Di back up secara sistematis oleh legal of frame yang kuat. Diantaranya UU Terorisme, UU Pendanaan Terorisme, RUU Kamnas, UU Ormas, UU Intelijen dan lain-lain. Mengkombinasikan pendekatan soft power dan hard power. Soft power oleh BNPT. Dan Hard Power oleh Densus 88. Dan semua itu diwujudkan untuk menghadang bahkan menghapuskan impian dan aspirasi kaum muslimin yang menjadi mayoritas masyarakat negeri ini untuk menjalankan agamanya sendiri Islam secara kaffah dan syamilah.

Keempat, ada aktor-aktor palangis di belakang Densus 88 seperti Petrus Golosse yang bisa jadi terinspirasi dengan semangat perang salib menebarkan strategi adu domba di berbagai kelompok/kalangan di tengah kaum Muslimin. Aktor-aktor intelektual itu yang menggerakkan Densus 88 dengan menggunakan beberapa perwira di tubuh Mabes Polri yang bisa diperdaya dan dikendalikan demi pemusnahan sistemik para aktifis Islam. Genocide ala Densus 88. Dan pembunuhan terduga teroris menjadi batu loncatan untuk memusnahkan berbagai organisasi/gerakan Islam mainstream yang menginginkan kejayaan Islam kembali. Cepat atau lambat. Dilakukan secara rasional dan bertahap. Sekalipun kejayaan Islam itu mendatangkan rahmah bagi seluruh manusia. Baik Muslim maupun non Muslim. Islam yang diterapkan dalam bingkai negara telah terbukti secara konseptual, empirik dan historis. Tetapi itu tidak berlaku bagi musuh-musuh Islam yang senantiasa melakukan skenario dan tipu daya untuk menghancurkan Islam dan umat Islam.

Kelima, pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 terhadap terduga teroris yang selalu diidentifikasi kepada para aktifis Islam selalu membawa serta pembuktian buku-buku ajaran jihad. Jihad sebagai ajaran agung Islam diaborsi melalui stigma negatif. Al Jihad dalam pengertian perang perlawanan terhadap kafir muharibban fi’lan hendak dihapuskan. Semangat yang ada pada musuh-musuh Islam dicangkokkan kepada para perwira-perwira polisi yang mau dijadikan antek-antek barat. Itu semua terjadi karena ketergantungan yang tinggi secara politik, ekonomi, sosial dan budaya termasuk di hampir semua aspek kehidupan. Tanpa menyadari bahwa saat ini barat di ambang kejatuhan dan bahkan kehancuran. Kacamata yang dipakai untuk melihat problem dunia Islam adalah kacamata barat yang penuh keraguan dan kebencian terhadap Islam.

Akhirnya pilihan persoalan pembunuhan oleh Densus 88 terhadap terduga teroris sebagai persoalan paling krusial adalah pilihan menentukan sasaran serangan balik paling berbahaya di antara berbagai persoalan yang menyerang umat Islam dan Islam. Di antara bertebarannya serangan persoalan yang dihadapi kaum muslimin berbagai bidang yang multidimensional. Dibutuhkan momentum persoalan untuk melakukan serangan balik yang paling tidak melumpuhkan serangan paling berbahaya kaum kafir muharibban fi’lan melalui antek-anteknya di negeri ini. Karena ini sangat berkaitan dengan masa depan keberadaan perjuangan Islam di negeri ini. Ibarat sebuah pertempuran di medan jihad, di antara bom dan peluru yang mematikan maka serangan pembunuhan oleh Densus 88 yang menyasar para aktifis Islam adalah bom nuklir yang sangat berbahaya di antara persenjataan barat yang lain di belantara perang pemikiran dan politik negeri-negeri kaum Muslimin. Karena ujung dari bom nuklir itu adalah “Genocidekomunitas Islam ala Densus 88″. Pemusnahan terhadap berbagai komunitas Islam yang berkeinginan kembalinya Islam secara kaffah dan syamil.

Maka penting menyadari bersama perlunya menyusun sebuah konstruksi perjuangan Islam berbagai gerakan/elemen umat Islam dari berbagai latar belakang manhaj, peran, baik di dalam parlemen maupun di luar parlemen. Sebuah konstruksi perjuangan yang bisa menghapuskan ancaman senjata paling berbahaya yang digunakan oleh kaum kafir muharibban fi’lan di bawah pimpinan AS laknatulloh. Melalui segera memperkarakan institusi antek-antek barat Densus 88. Dan membubarkannya. Termasuk melakukan judicial review dan menghapuskan legal of frame yang penuh dengan prejudice terhadap Islam dan umat Islam. Memformulasikan secara utuh bahwa biang persoalan global internasional adalah politik kesewenang-wenangan barat di bawah komando AS terhadap dunia Islam. Pembubaran Densus 88 hendaknya sebagai momentum ganti rezim dan sistem kufur yang berkuasa saat ini. Penguasa yang korup, represif dan menelantarkan rakyat. Ingatlah apa yang disampaikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’alla di dalam Al Qur’an Surat Al-Anfal ayat 60 : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang  kamu menggentarkan  musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu  tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya”. Wallahu a’lam bis showab. (arrahmah.com) dipetik dari bagian akhir artikel Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia) berjudul Ekstra judicial killing oleh Densus 88 sebuah titik balik perlawanan umat, diposting di arrahmah.com,

  1. Z. MuttaqinSenin, 26 Rabiul Awwal 1435 H / 27 Januari 2014 22:14

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.259 kali, 1 untuk hari ini)