Buku Sunnah-Sunnah Setelah Kematian, penulis Zainal Abidin bin Syamsudin, penerbit Pustaka Imam Bonjol. Isi 116 Halaman, softcover, ukuran 12,5 x 17,5 cm. / store.yufid.com

Sunnah-Sunnah Setelah Kematian

Sudah menjadi tradisi masyarakat awam masyarakat Islam Indonesia, pasca kematian mengadakan berbagai ritual keagamaan seperti tahlilan, selamatan, khataman al-Qur’an dan pengiriman hadiah pahala kepada arwah yang telah meninggal dunia, dengan harapan sang mayit berbahagia di alam kubur dan untuk menghibur keluarga mayit, mengusir suasana duka, meringankan perasaan sedih atau menunjukan empati yang mendalam.

Apa yang mereka lakukan tentu bertujuan baik menurut mereka, namun dalam urusan agama untuk menetapkan kebaikan dan kebenaran suatu tindakan tidak bisa diukur dengan kebiasaan yang sudah memasyarakat, akan tetapi ditimbang dengan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ para sahabat, sebagaimana Firman Allah SWT:

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putuskannya (terserah) kepada Allah.” (QS: Asy-Syura [42]:10)

Tidak semua orang boleh menarik kesimpulan dari pemahaman atas suatu nash agama untuk membenarkan praktik ritual keagamaan. Para ulamalah yang paling pantas memahami dan menganalisa nash-nash agama baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, sedang kan kalangan awam harus mau merujuk kepada para ulama dalam memahami nash-nash agama, sebagaimana Firman Allah ta’ala,

“dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri, di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri),” (An-Nisa:83).

Oleh karena itu, dalam buku ini dipaparkan tentang sunnah-sunnah sebelum dan sesudah kematian sebagai bekal ilmu bagi kita yang masih hidup, sekaligus pedoman ahli waris yang ingin mempersembahkan kebaikan kepada sang mayit.

Sumber: pustakaimambonjol.com/ October 25, 2013

***

Ada golongan yang gerah

 Dalam berita suatu media ada golongan pecinta amalan tertentu merasa gerah terhadap buku itu namun mereka tidak mengemukakan dalil. Di antara yang mereka anggap menggerahkan mereka adalah di buku itu dikemukakan amalan-amalan seperti peringatan tujuh hari, 40 hari, 100 hari hingga 1.000 hari merupakan tradisi peninggalan umat Hindu jaman dulu dan para Fir’aun Mesir yang tidak layak diikuti umat Islam.

Upaya meluruskan amalan lewat buku seperti itu sebenarnya  justru perlu disyukuri oleh Umat Islam. Bukankah Allah telah menjanjikan untuk tidak termasuk manusia yang rugi bila jadi orang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran? (lihat QS Al-‘Ashr).

Selayaknya orang-orang yang gerah terhadap isi buku itu berfikir ulang baik-baik. Dikhawatirkan akan menyesal kelak di akherat, ketika sekarang hanya ikut-ikutan tradisi yang ternyata tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mau mengharapkan syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila di dunia ini justru merasa gerah dan ramai-ramai protes ketika ditunjuki jalan yang sesuai dengan yang dituntunkan oleh beliau?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.825 kali, 1 untuk hari ini)