Kondisi para pengungsi korban gempa dan tsunami di Palu. (Gambar dari video: Twitter)

Seorang da’I yang jadi relawan di Palu menulis status mengenai  adanya kesadaran langsung dari para korban bahwa musibah yang terjadi ini adalah azab sebagai dampak dari dosa dan maksiat, khususnya dosa kesyirikan.

Inilah moment yang tepat sekali untuk menuntun mereka ke jalan yang benar.

Inilah status yang dimaksud.

***

Ayo Kibarkan Dakwah Tauhid dimanapun anda berada, dan di kampung-kampung kita.

“Ada hal membahagiakan bagi kami tim relawan Peduli Muslim ketika hari ini assessment ke beberapa titik pengungsian di wilayah Kab. Sigi Biromaru (mayoritas mereka adalah pengungsi Petobo yang rumahnya tenggalam ditelan bumi) yaitu adanya kesadaran langsung dari para korban bahwa musibah yang terjadi ini adalah azab sebagai dampak dari dosa dan maksiat, khususnya dosa kesyirikan. Kemudian, mereka pun insyaallah bertekad tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama”.

Bagi kami ini peluang besar untuk semakin bersemangat menyisipkan dakwah tauhid dan sunnah ke masyarakat sambil tetap menjalankan program tanggap darurat.

Semoga dengan kesadaran masyarakat terhadap ajaran agamanya, Allah segera angkat bencana ini. Amin.

~ Palu, 3/10/2018

Via fb Faqih Hamzah

***

Sebelum Datangnya Tsunami di Palu, Warga Sudah Hadir di Pantai untuk Saksikan Pembukaan Festival Tradisi Syirik Balia yang Dihidupkan Kembali

Sesajen (persembahan untuk sesembahan selain Allah, suatu kemusyrikan,dosa paling besar, menurut Islam, red NM) dilarungkan bersama seekor anak ayam ke sungai untuk menandai “pelepasan” penyakit, sebagai rangkaian akhir upacara Balia, di Palu,  (BeritaBenar/Basri Marzuki).

Upacara kemusyrikan yang disebut Balia ini sudah lama hilang, tapi dihidupkan kembali sejak 2016, sejak terpilihnya walikota Palu, pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha),  dan akan lebih dibesarkan lagi dalam festival (tahunan) Kebudayaan Palu Nomoni di pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah, 28-30 September 2018.

Sesaat sore hari sebelum malamnya diadakan pembukaan upacara pembangkitan kembali kemusyrikan itu, ternyata Allah kirimkan bala’ bencana, gempa tsunami, hingga menghancurkan bangunan-bangunan yang baru saja dibangun di pantai itu yang didanai pemerintah Palu 4,3 miliar rupiah, demi menghidupkan kmbali sesajen kemusyrikan. Banguna-bangunan yang ditargetkan untuk 10 tahun penggunaan itu ternyata hancur porak poranda seketika diterjang tsunami. Korban pun bergelimpangan, mayat-mayat berserakan, paling banyak di pantai yang sebentar lagi digelar upacara pembangkitan kembali kemusyrikan yang paling didimurkai Allah Ta’ala itu. (Jumlah korban jiwa 1.407 orang, per 3 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB).  Hingga pembukaan upacara pembangkitan kembali kemusyrikan itupun gagal total. Lihat https://www.nahimunkar.org/bencana-tsunami-porak-porandakan-pantai-talise-palu-tepat-menjelang-upacara-pembukaan-festival-pembangkitan-kembali-sesajen-kemusyrikan/.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 18.338 kali, 22 untuk hari ini)