Silakan taya kepada orangnya, insya Allah dia akan mengaku bahwa dia pernah “menyembelih” MUI. Mumpung orangnya masih hidup, walau pihak MUI yang “disembelih” kini orangnya sudah wafat.

Di zaman Presiden Soeharto ada pertemuan penting antara sejumlah pejabat negara dari Pejaten, Menteri Agama Munawir Sjadzali, Sekjen Depag dr Tarmizi Taher, Ketua MUI KH Hasan Basri beserta jajarannya, dan tokoh-tokoh yang mungkin dinilai kritis.

Tampaknya pertemuan itu memang lantaran ada peristiwa genting mengenai kondisi masyarakat, kaitannya dengan Umat Islam pula terutama. Sehingga MUI dan Depag pun dipertemukan oleh para pejabat, sekitar 40-an orang di ruangan komplek Masjid Sunda Kelapa Jakarta.

Saat itu dari pihak Depag, Menteri Agama Munawir Sjadzali dan Sekjen Depag dr Tarmizi Taher curhat kepada MUI dan para pejabat yang hadir. Pihak Depag prihatin karena seorang ahli tafsir lulusan Al-Azhar Mesir tahu-tahu diinterupsi oleh orang jalanan dan masuk di koran.

Petinggi Depag (kini Kemenag) itu tidak menjelaskan, maksudnya siapa. Tapi curhatnya itu tentunya mengenai piaraannya yang tahu-tahu dikritik orang. Quraish Shihab yang sedang dipiara (untuk menghembuskan bahwa jilbab tidak wajib?), tahu-tahu dipatol orang, maka disebutnya orang jalanan. Dari sini bisa difahami, ternyata ketika piaraan sedang dielus-elus, kok malah dipatol, maka geger bagi pemiaranya. Hingga sampai pertemuan sangat penting pun membicarakan itu.

Dengan aba-aba dari Menteri Agama semacam itu, tentunya MUI perlu tanggap, dan setidak-tidaknya perlu membela “bossnya” yang mengeluh itu dan mencari jalan keluar.

Pada gilirannya, Ketua Umum MUI Hasan Basri dipersilakan bicara. (Maaf, sayang sekali, memori penulis sama sekali tidak ingat lagi apa yang dikemukakan oleh Kyai Hasan Basri).

Selanjutnya, tiba giliran Emha Ainun Najib yang saat itu tampaknya tulisan-tulisannya cukup galak mengenai kondisi-kondisi genting. Kalau tidak salah ditulisnya di tabloid detik yang beredar saat itu.

Entah benar atau tidak yang diucapkan Emha, tetapi tampaknya Emha memang lihai. Dia katakan, kurang lebihnya, seharusnya Bapak-bapak ini berterimakasih kepada saya. Kalau Bapak-bapak tahu, betapa banyaknya pihak-pihak yang datang ke saya untuk mengajukan protes macam-macam; namun semuanya itu berhasil saya redam. Jadi sekali lagi, seharusnya justru Bapak-bapak ini berterimakasih kepada saya.

Selanjutnya gilran seorang dari Betawi Jakarta berambut putih. Dengan renyahnya dia berkata, langsung perkataannya nerocos “menyembelih” MUI. Diungkapkan serba ketidak beresan MUI. Hampir setengah jam tokoh Betawi berambut putih itu “menyembelih” dan “menguliti” MUI di depan Menteri Agama dan para pejabat.

Ya… sudah beres, saya “sembelih” MUI di depan para pejabat, ujar orang yang disebut budayawan Betawi itu di luaran, menceritakan kepada temannya.

Kalau ingin tahu ceritanya, silakan saja bertanya kepada tokoh itu, mumpung kini MUI sedang disoroti Umat Islam karena bermesraan dengan musuh Islam yaitu pembela-pembela nabi palsu (Moqsith dan Azyumardi Azra), kaum liberal yang telah diharamkan sendiri oleh MUI tapi kini diangkat jadi pengurus MUI, dan masih pula memelihara dengan memasukkan orang dari aliran sesat LDII serta pembela aliran sesat syiah ke jajaran pengurus MUI.

JIL yang pentolannya diangkat jadi pengurus MUI itu adalah salah satu bagian dari kelompok liberal yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005. Demikian pula LDII direkomendasikan oleh MUI 2005 untuk dibubarkan oleh pemerintah, disejajarkan dengan Ahmadiyah yang dinyatakan ajarannya sesat, menyimpang dari ajaran Islam dan meresahkan masyarakat.

MUI kali ini pimpinan Ma’ruf Amin jelas menjilat ludahnya, karena dalam rekomendasinya tahun 2005 jelas tertulis:

Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Apakah MUI tidak malu kepada Allah yang telah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣ [سورة الـصّـف,٢-٣]

  1. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan
  2. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan

[As Saff,2-3]

Walau ayat berikut ini untuk Bani Israel, namun lebih buruk lagi bila pelakunya justru ulama Islam.

{ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ} [البقرة: 44]

  1. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir [Al Baqarah44]

 (sorotan tajam terhadap tingkah MUI itu dapat dilihat di sini https://www.nahimunkar.org/ternyata-mui-angkat-dua-manusia-pembela-nabi-palsu-jadi-pengurus-mui/ ).

Juga link ini https://www.nahimunkar.org/naudzubillah-kini-pentolan-jil-dan-aliran-sesat-ldii-diangkat-jadi-pengurus-mui/

Masih ada lagi ini https://www.nahimunkar.org/menyoal-diangkatnya-moqsith-pentolan-liberal-dan-orang-ldii-jadi-pengurus-mui-2015-2020/

Pengalaman “menyembelih” MUI ternyata sudah pernah dilakukan orang, dan di moment yang cukup penting. Boleh jadi itu jadi catatan tersendiri bagi pelakunya.

Ilustrasi/ slideplayer.info

Jakarta, Jum’at 18 Dzulhijjah 1436H/ 2 Oktober 2015.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.451 kali, 1 untuk hari ini)