densus

Hidayatullah.com – Dalam setiap aksi penanggulangan aksi “terorisme”, selalu berakhir nahas dengan tewasnya terduga. Uniknya, sebagaimana rutin pernyataan petugas, karena ada perlawanan dan ada baku tembak.

Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, menilai, tanpa ada evaluasi terbuka, maka pemberantasan terorisme hanya akan memunculkan kecurigaan akan adanya gerakan terselubung menghabisi aktifis Islam dengan kedok anti terorisme.

Kata Mustofa, kejadian penembakan mati terduga kasus terorisme di Tulungagung beberapa waktu lalu, adalah kejadian paling memalukan sejak proyek pemberantasan terorisme dikumandangkan sejak Bom Bali meledak 2001 silam.

“Selain pengakuan aparat yang dipatahkan saksimata, juga munculnya banyak kejanggalan atas nama-nama terduga yang sudah dimatikan,” kata Mustofa kepada hidayatullah.com, Rabu (24/07/2013).

Mustofa menyebutkan, kejanggalan itu di antaranya disebutkan ada perlawanan dari terduga yang ditembak. Padahal, tegasnya, tanpa status terduga terorisme sekalipun, seseorang tentu akan kaget dan mungkin akan melawan ketika diserang oleh orang-orang berpakaian preman, apalagi bersenjata.

“Masyarakat di tempat kejadian pun banyak yang mengira itu adalah perampokan,” katanya.

Oleh karenanya, kata dia, istilah “ada perlawanan” terkesan sebagai stigma rutin perilaku teroris. Padahal, siapapun akan melakukan hal yang sama jika menghadapi peristiwa serupa. Penyebabnya sepele, karena petugas yang menyerbu warung kopi di TKP ternyata tidak berseragam.

Kejanggalan lain, para terduga yang sudah 3 bulan menginap di TK Aisyiyah milik Muhammadiyah dan dikenal sebagai mubaligh, sangat kecil kemungkinan berstatus buron sungguhan. Seorang buron, jelas Mustofa, tidak mungkin berprofesi menjadi mubaligh, bahkan menjadi guru ngaji di Masjid. Akal sehat akan menolak fenomena itu, ujarnya.

Buron, lanjut Mustofa, siapapun dia, akan bersembunyi, bukan hidup secara terbuka dan menjalani profesi yang wajahnya dikenal oleh masyarakat luas.

“Bahkan, disebut buron yang sudah mati ini selalu membawa ransel isi bom dan senjata api kemanapun berada. Ini tentu sebauh kejanggalan yang tidak lucu,” tandasnya.*

Rep:

Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar
(nahimunkar.com)
(Dibaca 494 kali, 1 untuk hari ini)