ilustrasi foto ist/suaranasnl


Saya jadi ingat teman dr jawa timur yg sekampung dg salah satu pendukung ahok. teman itu bercerita, tokoh itu dulu pernah khutbah di masjid kampung di Jatim tahun 1997-an. lalu teman saya bercerita, komentar dg berani berucap, wong kuwi opo biasa shalat yo, kok wani khutbah barang. (orang itu apa memang biasa shalat ya, kok berani khutbah segala). sindiran itu menunjukkan bhw teman saya belum yakin bhw tokoh (yg sudah hijrah ke Jkt dr kampung Jatim) itu apakah memang biasa shalat, walau bisa berdalil.

Rupanya utk meyakinkan org kampung, kmd tokoh ini waktu nikahan, pengkhutbahnya seorang tokoh nyleneh yg belakangan dikhabarkan bilang, Al-Qur’an kitab suci paling porno.(habis menghina kitab suci itu, sang tokoh nyleneh tersebut, kemudian dijungkalkan ramai2 dari kursi jabatan tingginya, walau dijungkalkannya dlm kasus lain).

Nah, sang tokoh pendukung ahok ini dulu ketika idolanya menghina kitab suci tersebut bisa lolos dr usutan polisi, namun kemudian qadarullah terjengkang dg tanpa hormat krn didongkel ramai2, padahal punya pasukan berani mati segala, apakah sekarang ahok yg didukung tokoh ini, dan dalam posisi menghina Al-Qur’an, hingga mengakibatkan gelombang kemarahan Umat Islam se-Indonesia bahkan lebih luas lagi itu, tidak akan terjungkal? Yang jelas, yang didukung oleh tokoh ini sudah ada yang dijungkalkan oleh masyarakat banyak dari kursi jabatan tingginya, dan dia (yang didukung tersebut) pernah menghina kitab suci.

Tinggal tunggu giliran berikutnya (ahok yg didukung oleh tokoh ini), apa yg akan terjadi kita saksikan saja. Setidaknya, kita tahu ada tokoh dipanggil gus juga biasanya, punya pengalaman, menjadi pendukung lekat dua tokoh penghina kitab suci Al-Qur’an. Yang satu sdh terjungkal, yg satu tunggu waktu.

urip pisan wae nggur kanggo ndukung para penghina Al-qur’an gus gus… opo ra rugi (hidup satu kali saja kok hanya utk mendukung para penghina al-qur’an gus gus, apa ga’ rugi). bertobatlah, sebelum nyawa dicabut ya… (sing crito nyang aku kuwi tanggamu dewe gus, wonge lemu, ireng, kuplukan ireng biasane, yo biso ngaji kitab).

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 33.248 kali, 1 untuk hari ini)