Ada yang Anggap Bodoh Da’i yang Siarkan Agama soal Bencana Akibat Dosa

Keyakinan umat Islam itu dilandasi dalil yakni ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dalam ayat maupun hadits menegaskan adanya bencana itu akibat dosa manusia, maka Umat Islam tinggal sami’na wa atha’na, walau ada yang marah-marah dan menganggap bodoh keyakinan Umat Islam yang berlandaskan dalil itu.

Berikut Ini di antara penjelasannya.

Maksiat dan Dosa Penyebab Bencana

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”

Hal ini selaras dengan perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, 74)

Itulah ayat Allah Ta’ala dan perkataan seorang khalifah dari KhulaaurRasyidin yang dijelaskan oleh seorang ulama terkemuka. Oleh karena itu, umat Islam pada umumnya, dan da’i pada khususnya, tidak usah menggubris marahnya siapapun yang bertentangan dengan ayat tersebut.

***

 

Menag Fachrul Razi Marah dengan Pendakwah Bodohi Umat

 

Menag Fachrul Razi (Dok. Kemenag)

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi berang kepada pendakwah-pendakwah yang membodohi umat. Dia meminta imam-imam masjid tak menyampaikan dakwah yang membodohi umat.

“Sering saya katakan kadang-kadang kalau umat dibikin bodoh, saya kadang-kadang suka marah. Sebagai contoh, misalnya bencana alam di Aceh, kebetulan saya orang Aceh. Kemudian penceramah-penceramah dengan enaknya mengatakan itu karena orang Aceh banyak dosa, dibalas oleh Tuhan, dibunuh ratusan ribu karena tanam ganja, padahal yang tanam ganja yang di gunung sana segelintir orang, yang mati itu semua di pantai-pantai ahli ibadah semua itu,” kata Menag dalam sambutannya di Lokakarya Peran dan Fungsi Imam Masjid di Hotel Best Western, Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019).

“Kenapa dia ndak cerita Aceh ini memang termasuk yang rawan gempa, karena ada lempeng-lempeng buminya yang tumpang tindih satu sama lain dan sangat mudah berubah, lain dengan misalnya Kalimantan, tidak ada lempeng-lempeng bumi yang dekat dengan pulau sehingga relatif lebih aman. namun demikian, sebagai hamba Tuhan, kita wajib berdoa mudah-mudahan tidak terulang kembali dan bencana ini cepat selesai. Itu artinya mencerdaskan umat, bukan membodohi umat,” sambung mantan Wakil Panglima TNI ini.

Fachrul meminta pendakwah juga mempelajari ilmu lain. Dia tak ingin pendakwah membuat jengkel umat karena menyampaikan materi-materi yang sifatnya pembodohan.

“Atau belakangan ini ada omong tentang kemarau panjang, belum lama ini, sebulan lalu. Penceramahnya bilang gini, ‘ini karena kita banyak membuat maksiat dikasih kemarau berkepanjangan’. Dalam hati saya, dia tau nggak kalau kemarau panjang 5 tahun sekali ada siklusnya? Dan apa yang dilakukan pada era… dia sebut saya lupa salah satu khalifah gitu ya, yang pertama dilakukan mengumpulkan alat musik dan membakar semua alat musik, ini mau ngajarin umat jadi bodoh ya? Dalam hati saya,” tuturnya.

“Mungkin ada kaitannya, mungkin kalian terlalu banyak main musik, lupa ibadah. Kalau dianggap alat musik sebagai pembuat maksiat, Rhoma Irama marah banget. ‘Aku berdakwah pakai alat musik ke mana-mana. Emangnya ada ngomong-ngomong maksiat? Kan nggak. Jadi umat jangan dibodohi lah. Cerita yang betul saja. Tapi tetap kewajiban kita berdoa kepada Allah SWT mudah-mudahan kemarau panjang ini cepat selesai. Itu yang nanti bukan membodohi umat. Saya kira imam bisa membimbing kalau ada yang seperti itu,” imbuhnya.
(tor/fjp)

 

Jefrie Nandy Satria – detikNews, Rabu 30 Oktober 2019, 21:11 WIB

 

 

***

Apakah perkataan itu sesuai dengan keyakinan Umat Islam yang telah ditunjukkan Allah Ta’ala dalam Al-qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Silakan simak ayat ini dan tafsirnya.

***

Surat Hud Ayat 117

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Arab-Latin: Wa mā kāna rabbuka liyuhlikal-qurā biulmiw wa ahluhā muliụn

Terjemah Arti: Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Dan Tuhanmu wahai Rasul, sekali-kali tidak akan membinasakan suatu negri dari negri-negri yang ada, sedang para penduduknya melakukan perbaikan di muka bumi lagi menjauhi perbuatan kerusakan dan kezhaliman, Sesungguhnya Dia hanya menghancurkan disebabkan oleh tindakan kezhaliman dan kerusakan mereka.

 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

117. Dan tidaklah Tuhanmu -wahai Rasul- membinasakan suatu negeri apabila penduduknya melakukan perbaikan di muka bumi. Dia akan membinasakannya hanya apabila penduduknya melakukan perusakan melalui perbuatan-perbuatan yang tergolong kafir, zalim dan maksiat.

https://tafsirweb.com/3609-surat-hud-ayat-117.html

 

***

Tidaklah Bencana Turun Melainkan karena Dosa


Posted on 29 September 2016

by Nahimunkar.com

 

Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan semoga keselamatan dan Rahmat-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat, serta seluruh pengikutnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Jelang akhir tahun 2014, indonesia kembali berduka. Musibah tanah longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah menelan banyak korban jiwa.

Dari 108 korban yang hilang tertimbun longsor, baru sekitar 39 orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Semua orang dibuat sibuk akan bencana ini, dari relawan, sampai pemerintahan, tak ketinggalan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya telah melakukan analisis penyebab longsor bekerja sama dengan Ikatan Ahli Bencana Indonesia dan sejumlah ahli asal Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ya, mereka sibuk mencari dan meneliti faktor ilmiah atau kauni kenapa terjadi bencana, dan banyak manusia ketika terjadi bencana hanya terfokus untuk meniliti factor penyebab bencana dari sisi ilmu pengetahuan, namun mereka lupa factor penyebab bencana dari sisi syar’i, sehingga dengan bencana itu mereka tidak semakin taqarrub namun malah semkain jauh dari Syariat Allah Ta’ala. (Baca:  Astaghfirullah, Ternyata ini Kisah di Balik Bencana Tanah Longsor Dusun Jemblung Banjarnegara)

Allah memutuskan perkara-perkara yang berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, Dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 43:76)

Maksiat dan Dosa Penyebab Bencana

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”

Hal ini selaras dengan perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, 74)

Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am- 82)

Jika kita telusuri kisah-kisah umat terdahulu yang jatuh ke dalam kehancuran, maka kitakan dapati mereka adalah orang-orang yang telah berbuat syirik kepada Allah. Mereka menyekutukan Allah dengan selain-Nya dan mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dari beriman kepada Allah Ta’ala.

Lihatlah kehancuran kaum Nabi Nuh yang disebabkan karena kesyirikan dan keangkuhan mereka. Allah berfirman , “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)”. (QS. Al A’raf:64)

Lihat pula kehancuran kaum Nabi Hud yang juga disebabkan kesyirikan dan kufur nikmat mereka. Allah mengisahkan perdebatan antara Nabi Hud ‘alaihissalam dengan kaumnya dalam firman-Nya surat Al A’raf ayat 70-71,

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?, maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Ia (Hud) berkata, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabb-mu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu”.

Dalam ayat yang lain, Allah telah mengabarkan kehancuran mereka. Allah berfirman (yang artinya), “Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.(Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa” (QS. Al Ahqaf:24-25)

Maka Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika meminta keberkahan dan keamanan untuk kota Mekah, beliau barengi dengan doa berlindung dari kesyirikin,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35). */[AH] panjimas.com, Senin, 22 Shafar 1436H / December 15, 2014

***

{ وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [Hud117]

https://www.facebook.com/Akka4Ever/videos/385816698245465/

{وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ } [هود: 67]

Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya [Hud:67]

(nahimunkar.com)

***

Ada perkataan Ulama yang perlu direnungkan sebagai berikut:

قال الذهبي: الجاهل لا يعلمُ رُتبةَ نفسِه، فكيفَ يعرفُ رتبةَ غيره؟
«
سير أعلام النبلاء» (11/ 321)

Orang jahil itu tidak tahu posisinya sendiri, jadi bagaimana dia tahu posisi orang lain? (Siyar A’Lam An-Nubala’, Az-Zahabi, 11/321).

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.829 kali, 1 untuk hari ini)