Suasana Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Yogyakarta

Hidayatullah.com- Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI, Bactiar Nasir mengatakan ada yang tidak jujur dalam tim editor hasil keputusan komisi D rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia ke-VI.

“Ada tim editor yang tidak jujur ini,” tegas Bachtiar dengan nada protes saat usai pembacaan hasil keputusan Komisi D Rekomendasi KUII ke-VI di Ruang Borobudur Hotel Inna Garuda Yokyakarta, Rabu (11/02/2015).

Bachtiar mangajukan keberatan terhadap salah satu hasil dari komisi D rekomendasi. Dimana lanjutnya, akhir dari sidang rapat Komisi D Rekomendasi kemarin disebutkan bahwa dalam salah satu poin hasil sidang mengatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

Sementara itu, lanjut Bachtiar setelah naskah hasil putusan Komisi D Rekomendasi dibaca dan ditampilkan dalam slide di depan seluruh peserta KUII, kalimat tersebut diubah dengan kalimat NKRI yang berdasarkan Pancasila.

“Ini merupakan pelecehan secara intelektual namanya. Ini masalah serius terkait dengan fundamental dalam Berketuhanan yang Maha Esa,” tegas Bachtiar.

Senada dengan itu, sebelum Bachtiar mengajukan protes, delegasi perwakilan dari MUI Makasar, Muhammad Somad juga memberikan masukan kepada tim Komisi D Rekomendasi untuk mengubah kalimat tersebut.

“Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 disebutkan jika NKRI berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa tetapi kenapa dalam naskah hasil komisi D rekomendasi berubah,” kata Somad memberikan kritikan.*

Rep: Ibnu Sumari

Editor: Cholis Akbar, Rabu, 11 Februari 2015 – 13:40 WIB

***

Hadis Tentang Pemimpin Yang Menipu Rakyat

صحيح مسلم – كِتَاب الْإِيمَانِ – باب اسْتِحْقَاقِ الْوَالِي الْغَاشِّ لِرَعِيَّتِهِ النَّارَ

203 بَاب اسْتِحْقَاقِ الْوَالِي الْغَاشِّ لِرَعِيَّتِهِ النَّارَ

142 حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Diriwayatkan dari Al-Hasan: ‘ Ubaidillah bin Ziyad pernah menjenguk Ma’qil bin Yasar Al-Muzanni pada waktu sakit menjelang wafatnya. Lalu Ma’qil berkata, “Aku akan menceritakan sebuah hadis yang aku dengar dari Rasulullah saw. Kalau aku tahu bahawa aku masih akan hidup, tentu aku tidak mau menceritakannya kepada mu. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati ketika sedang MENIPU rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya syurga.”
(6:9 Shahih Muslim)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 588 kali, 1 untuk hari ini)