Adakah Dua Khotbah dalam Sholat Ied?

Pertanyaan:

 

Dalam pelaksanaan khotbah ‘ied, sering dijumpai khatib yang berkhotbah dua kali (ada khotbah pertama dan khotbah kedua), dan dua khotbah tersebut dipisahkan dengan duduk sejenak. Ada juga yang dua kali berkhotbah, tetapi di antara dua khotbah tidak dipisahkan dengan duduk. Ada juga yang berkhotbah hanya satu kali, tidak ada pengulangan khotbah. Mohon penjelasannya, mana yang paling shahih dalam syariat Islam?

 

Jawaban:

 

Dalam masalah ini, para ulama berselisih menjadi dua pendapat.

 

Pendapat pertama, khotbah ‘ied dua kali. Di antara para ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Syafi’i dalam al-Umm: I/272, Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, as-Sarakhsi dalam al-Mabsuth, an-Nawawi dalam al-Majmu’, as-Suyuthi dalam Saybah wa Nazhair, dan lain-lain[1]. Mereka mendasarkan pendapat mereka pada sebuah hadits.

 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَخَطَبَ قَائِمًا ثُمَّ قَعَدَ فَعْدَهً ثُمَّ قَامَ

 

Dari Jabir, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Fitri atau Idul Adha, lantas berkhotbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian berdiri.” (Hr. Ibnu Majah: 1289)

 

Alasan kedua, yaitu dianalogikan (qiyas) dengan khotbah jumat.

 

Hanya saja, hadits tersebut dha’if. Al-Bushiri, dalam Misbah Zujajah: 2/276, berkata, “Sanad ini lemah. Kelemahan Ismail bin Muslim telah disepakati, dan Abu Bahr (Abdur Rahman bin Utsman bin Umayyah) juga lemah.”

 

Hadits tersebut juga dinilai lemah oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar: 4/457. Dalam Dhaif Sunan Ibnu Majah: 1305, al-Albani berkata, “Hadits mungkar, baik sanad maupun matannya.”

 

Diriwayatkan juga, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah, dan selainnya, tetapi seluruhnya tidak ada yang shahih. Syekh Sayyid Sabiq berkata, “Semua hadits, tentang dua khotbah ‘ied yang dipisah oleh Imam dengan duduk, adalah dha’if.”

 

An-Nawawi berkata, “Tidak ada satu pun hadits tentang berulangnya khotbah, yang shahih.” (Fikih Sunnah: 2/304)

 

Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya membuat “Bab Berulangnya Khotbah Pada Dua ‘Ied dan Dipisahnya Khotbah Dengan Duduk”, beliau lantas membawakan hadits dari jalan Bisyr bin Mufadhdhal, “Telah diceritakan kepadaku oleh Ubaidullah dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, beliau berkata,

 

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ الْخُطْبَتَيْنِ وَهُوَ قَائِمٌ وَكَانَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوْسٍ

 

‘Rasulullah berkhotbah (sebanyak) dua khotbah dengan berdiri dan memisahkan dua khotbah itu dengan duduk.'” (Hr. Ibnu Khuzaimah: 1446, sanadnya shahih)

 

Syekh al-Albani mengomentari, “Hadits ini adalah pada dua khotbah jumat, (bukan khotbah ‘ied –pen) dengan bukti riwayat Khalid bin Al Harits, dia berkata, ‘Ubaidullah menceritakan hadits tersebut kepadaku (dari Nafi’ dari Ibnu Umar), dengan redaksi,

 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ

 

‘Rasulullah berkhotbah pada hari Jumat dengan berdiri, kemudian duduk….’ (Hr. Muslim: 33)

 

Ucapan Ibnu Umar ‘اَلْخُطْبَتَيْنِ‘ dua khotbah, huruf lamnya adalah lamul ‘ahd (menunjukkan khotbah tertentu, yaitu khotbah Jumat), bukan lam bermakna istighraq (mencakup semua khotbah, termasuk khotbah ‘ied), perhatikanlah!” (Shahih Ibnu Khuzaimah, jilid 2, no. hadits 1446)

 

Pendapat kedua, khotbah hanya sekali, berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata,

“Aku shalat ‘ied bersama Rasulullah. Beliau mengawali shalat sebelum khotbah dengan tanpa azan dan iqamat. Usai shalat, beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal, kemudian memerintahkan agar bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, menasihati manusia, dan mengingatkan mereka. Kemudian, beliau berlalu hingga sampai ke tempat para wanita, menasihati, dan memberi peringatan kepada mereka. Sabdanya, ‘Bersedekahlah kalian, karena mayoritas kalian adalah bahan bakar neraka jahannam’. Lantas ada seorang wanita yang paling cantik berdiri, pipinya kemerah-merahan, dengan berkata, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Jawab beliau, ‘Karena kalian banyak mengeluh dan mengufuri suami.’ Bilal berkata, ‘Mereka lantas menyedekahkan perhiasan mereka dan diletakkan di baju Bilal berupa anting dan gelang.'” (Hr. Bukhari, Muslim, dan lain-lain)*

Zahir (makna yang langsung tampak -ed) dari hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah hanya berkhotbah sekali, tetapi beliau lantas pergi ke tempat jemaah wanita kemudian memberi nasihat. Kalau hadits ini dijadikan dalil untuk dua khotbah, maka pendalilan ini terlalu jauh.

Kesimpulannya,
pendapat yang rajih adalah pendapat yang kedua, Allahu a’lam.

 

Dalam kitab al-Qaulul Mubin fi Akhtha’il Mushallin, hlm. 410, Syekh Masyhur Hasan Alu Salman berkata, “Di antara kesalahan mereka adalah menjadikan khotbah ‘ied sebanyak dua kali, dipisah dengan duduk. Semua hadits yang berkaitan dengannya adalah dha’if.” Lantas, beliau menukil ucapan Imam Nawawi seperti yang telah disebutkan di atas.

 

Apakah Khotbah Diawali Dengan Takbir?

 

Imam Syaukani menjelaskan, “Dalam hal ini tidak ada dalil yang shahih yang dapat dijadikan pegangan. Adapun yang diriwayatkan Baihaqi dari’Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dia berkata, ‘Termasuk di antara sunnah khotbah adalah mengawali khotbah dengan sembilan kali takbir secara berurutan, dan pada khotbah yang kedua adalah dengan tujuh kali takbir.’ Jika yang dimaksud sunnah (dalam hadits ini -ed) adalah sunnah Rasulullah, maka hadits ini tergolong hadits mursal[2]. Akan tetapi, jika yang dimaksud adalah sunnah shahabat, maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil, kecuali merupakan kesepakatan mereka.

 

Ibnul Qayyim berkata, ‘Adapun ucapan para fuqaha, bahwa khotbah istisqa’ (minta hujan) diawali dengan istigfar dan (khotbah) shalat ‘ied diawali dengan takbir, maka sama sekali tidak ada sunnah dari Rasulullah berkenaan dengan hal tersebut. Justru, sunnah Rasulullah menyelisihi hal itu. Sunnah Rasulullah adalah bahwa seluruh khotbah diawali dengan (ucapan) ‘alhamdu’.'” (As-Sailur Jarar: I/319)

 

Apakah di Tengah-tengah Khotbah Juga Disyariatkan Adanya Takbir?

 

Ada sebuah hadits dari Sa’id bin ‘A’id, dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُكَبِّرُ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ يُكْثِرُ فِي خُطْبَةِ الْعِيْدَيْنِ

“Rasulullah bertakbir di tengah-tengah khotbah. Beliau memperbanyak takbir pada khotbah ‘Ied.” (Hr. Ibnu Majah: 1287)

 

Akan tetapi, hadits ini dha’if. As-Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah berkata, “Dalam Zawa’id dikatakan bahwa sanadnya dha’if, karena terdapat rawi dha’if, yaitu Abdur Rahman bin Sa’d, dan bapaknya tidak dikenal.” Hadits ini juga dinilai sebagai hadits yang dha’if oleh al-Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah. Allahu a’lam.

 

===

CATATAN KAKI:

 

[1] Lihat: Al-Majmu’ Nawawi: 5/26, al-Mughni Ibnu Qudamah: 3/276, Hasyiyah Ibnu Abidin: 3/54, al-Mudawwanah al-Kubra: I/156.

[2] Hadits mursal: Riwayat dari tabi’in yang langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa melalui perantara. Termasuk golongan hadits dha’if.

 

Disadur dari Majalah Al-Furqon, edisi 3, tahun ke-5, 1426 H/2005.

 

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

By Redaksi KonsultasiSyariah.com -May 10, 20106397

 

Read more https://konsultasisyariah.com/1878-adakah-dua-khotbah-dalam-sholat-ied.html

 

===============

* عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ»، قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

صحيح مسلم (2/ 603)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata: Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hari‘Ied. Shalat dilakasanakan sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamah. Kemudian beliau berdiri dan bersandar kepada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, memotivasi untuk melakukan keta’atan, menasehati manusia, dan mengingatkan mereka.
Nabi pun berlalu menuju jama’ah perempuan, memberi nasehat dan mengingatkan mereka. Nabi berkata,

Bersedekahlah kalian! Karena sesungguhnya kebanyakan/mayoritas kalian adalah bahan baku (neraka) jahannam.
Maka berkatalah seorang perempuan yang berada di tengah-tengah shaf perempuan, yang pipinya terlihat ada bekas hitamnya, “Alasannya apa wahai Rasulullah?

Rasulullah menjawab, “Karena kalian adalah (makhluk) yang suka mengeluh dan mengingkari kebaikan (suami).
Maka para perempuan langsung menyedekahkan perhiasan mereka yang berupa kalung dan cincin, dan melemparkannya ke pakaian Bilal. (HR. Muslim)

(nahimunkar.org)

 

***

hutbah Hari Raya Ied itu Dua Kali

By

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

 

Khutbah hari raya ied (Idul Fithri dan Idul Adha) itu ada berapa? Apakah dua kali sebagaimana keumuman masyarakat?

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama menyatakan bahwa khutbah ied itu seperti khutbah Jumat dengan dua kali khutbah. Sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa khutbah ied hanyalah sekali khutbah.

Pendapat pertama: Khutbah ied itu sekali khutbah.

Ulama yang berpendapat seperti ini dari kalangan ulama belakangan adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah.

Dalam penjelasan kitab Zaadul Mustaqni’, beliau berkata, “Dua kali khutbahh itulah yang menjadi pendapat para fuqoha rahimahumullah. Yang menjadi dukungan dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Namun sanadnya menuai kritikan. Secara tekstual, hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dua kali. Akan tetapi, kalau diperhatikan dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim juga selain keduanya, nampak bahwa khutbah ied hanyalah sekali. Di dalam hadits ditunjukkan bahwa setelah selesai khutbah pertama, beliau menuju ke jamaah wanita dan memberikan nasehat khusus kepada mereka. Jika ini yang dijadikan landasan dalam masalah dua khutbah dalam shalat ied, maka itu masih kemungkinan.” (Syarhul Mumthi’, 5: 145)

Ada hadits yang mendukung khutbah ied itu dua kali, namun sayangnya haditsnya itu lemah. Hadits tersebut adalah,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحًى فَخَطَبَ قَائِمًا ثُمَّ قَعَدَ قَعْدَةً ثُمَّ قَامَ

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Fithri atau Idul Adha, beliau berkhutbah sambil berdiri kemudian duduk dan berdiri kembali. (HR. Ibnu Majah no. 1289. Al Hafizh Abu Thohir menilai bahwa hadits ini dhaif. Al Bushiri mengatakan bahwa dalam sanad tersebut terdapat Isma’il bin Muslim Al Makkiy, para ulama sepakat akan kedhaifan perawi ini. Perawi lainnya yaitu Abu Bahr Al Bakrawi juga dhaif. Juga ada cacat lain dari hadits tersebut).

Selain Syaikh Ibnu Utsaimin juga Sayyid Sabiq rahimahullah berpendapat bahwa khutbah ied hanyalah sekali. Beliau rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan bahwa khutbah ied itu dua kali yaitu dipisah dua khutbah tersebut dengan duduk, haditsnya itu dhaif. Imam Nawawi mengatakan bahwa tidak ada hadits yang menunjukkan dua kali khutbah dalam khutbah ied.” (Fiqh Sunnah, 1: 237).

Pendapat kedua: Khutbah ied itu dua kali.

Inilah pendapat kebanyakan ulama dan jadi pendapat para ulama madzhab. Bahkan sampai-sampai Syaikh ‘Abdul Muhsin Al Badr berkata bahwa dalam masalah ini beliau tidak mengetahui ada khilaf di dalamnya.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Hazm rahimahullah adalah di antara ulama yang mengklaim adanya ijma’ (konsensus ulama) bahwa khutbah ied itu dua kali. Beliau rahimahullah berkata,

فإذا سلم الإمام قام فخطب الناس خطبتين يجلس بينهما جلسة فإذا أتمهما افترق الناس، فإن خطب قبل الصلاة فليست خطبة ولا يجب الإنصات له ، كل هذا لا خلاف فيه.

“Ketika salam, imam berdiri untuk memberikan khutbah di hadapan para jamaah dengan dua kali khutbah. Di antara dua khutbah tersebut terdapat duduk. Jika kedua khutbah itu selesai barulah jamaah bubar. Jika imam berkhutbah sebelum shalat, maka itu bukanlah khutbah dan tidak wajib diam ketika itu. Semua ini tidak ada perselisihan ulama di dalamnya.” (Al Muhalla, 5: 82).

Syaikh Khalid Al Musyaiqih hafizhahullah -salah satu murid senior Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin- ditanya di websitenya, apakah beliau tahu ada khilaf yang bisa membatalkan ijma’ (kesepakatan ulama) tersebut. Beliau jawab, “Tidak bisa. Bahkan yang aku ketahui yang mesti diterapkan adalah ketetapan imam madzhab yang empat dan selain mereka, yaitu khutbah ied hendaknya dua kali khutbah.” (Alwasta.Com)

Syaikh Khalid Al Mushlih hafizhahullah -menantu sekaligus murid senior Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin- berkata, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa khutbah ied itu dua kali. Bahkan klaim ijma’ (kesepakatan ulama) telah ada, yaitu khutbah itu tidak hanya satu. Yang menyuarakan di antaranya adalah Ibnu Hazm dalam Al Muhalla (3: 293). Aku sendiri tidak mendapati ada ulama yang mengatakan bahwa khutbah ied itu sekali khutbah saja, baik dari ulama terdahulu, ulama madzhab, dan ulama lainnya kecuali ada pernyataan dari Ash Shon’ani. Ia mengatakan dalam Subulus Salam (2: 140) mengenai hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إلَى الْمُصَلَّى وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ – وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ – فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Fithri dan Idul Adha menuju tanah lapang. Perkara yang dilakukan pertama kali adalah shalat ied, kemudian menghadap para jamaah yang dalam keadaan masih di shaf mereka, beliau memberikan nasehat dan memerintah mereka dalam kebaikan.” (Muttafaqun ‘alaih). Kata Ash Shon’ani bahwa hadits ini menunjukkan khutbah ied bukanlah dua khutbah seperti shalat Jumat. Yaitu ada dua khutbah dan ada duduk di antara keduanya. Dua kali khutbah tidaklah ditetapkan dari hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang ada hanyalah dilakukan oleh kaum muslimin karena diqiyaskan dengan khutbah Jumat.” (Alwasta.Com)

Adapun klaim ijma’ (kesepakatan ulama) mesti diperhatikan karena mereka bukan berdalil dengan qiyas saja.

Cara Dua Kali Khutbah

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika imam telah selesai dari shalat ied, maka ia naik mimbar lalu menghadap para jamaah, kemudian mengucapkan salam. Apakah ada duduk sebelum khutbah? Di sini ada dua pandangan. Yang tepat, ada duduk sebelum khutbah seperti khutbah Jumat. Lalu ada dua kali khutbah di dalamnya. Rukun khutbah ied sama dengan rukun pada khutbah jumat. Nantinya imam berdiri dan ada duduk di antara dua khutbah, sama seperti khutbah jumat.” (Roudhotuth Tholibin, 1: 324).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Dua kali khutbah pada shalat ied dihukumi sunnah. Namun tidak wajib dihadiri dan tidak wajib pula mendengarnya.” (Al Mughni, 3: 279).

Ibnu Qudamah rahimahullah juga berkata, “Disunnahkan berkhutbah sambil berdiri. … Khutbah ied itu semisal khutbah Jumat. Jika khutbhah disampaikan dengan cara duduk, tidaklah masalah karena sambil berdiri tidaklah wajib, sama halnya seperti shalat sunnah (boleh dilakukan sambil duduk meskipun mampu berdiri). Kalau ingin menyampaikan khutbah di atas hewan tunggangan pun baik.” (Al Mughni, 3: 280).

Kesimpulan

Klaim ijma’ dari Ibnu Hazm di atas layak diperhatikan karena ijma’ itu salah satu sumber hukum Islam. Yang kami sarankan, khutbah ied itu dilakukan dengan dua kali khutbah seperti khutbah Jumat. Walaupun jika ada yang melakukan sekali khutbah tak ada masalah karena tidak ada dalil tegas dalam hal ini.

Yang mesti diperhatikan bahwa di tengah masyarakat kita lazimnya mengikuti pendapat jumhur atau mayoritas ulama, jadi patut disadari jika memang menimbulkan konflik besar, baiknya mengikuti pendapat kebanyakan ulama dengan dua kali khutbah. Sekali lagi, perselisihan dalam masalah ini tidak ada dalil tegas yang mendukung. Kalau ada dalil tegas pun, dalilnya itu dhaif (lemah).

Semoga bermanfaat dan semakin membuka cakrawala kita akan perbedaan pendapat di antara para ulama. Semoga kita bisa pandai menghargai perbedaan yang masih bisa ditolerir. Hanya Allah yang memberi taufik.

 
 

Referensi:

  1. Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.
  2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan ketiga, tahun 1430 H.
  3. Roudhotuth Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Al Maktabah Al ‘Ashriyyah, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  4. Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1423 H.
  5. Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid bin Majah Al Qozwiniy, takhrij: Al Hafizh Abu Thohir, terbitan Darus Salam, cetakan tahun 1430 H.
  6. http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=122812
  7. http://www.alwsta.com/vb/archive/index.php/t-24508.html


Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 12 Dzulhijjah 1435 H (hari tasyrik)

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

 –

 October 7, 2014 

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/9023-khutbah-hari-raya-ied-dua-kali.html

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 134 kali, 1 untuk hari ini)