• “Kenapa terorisme biasanya marak menjelang datangnya pejabat dari negara donor program penanggulangan terorisme?
  • Kenapa terorisme biasanya marak ketika ada isu atau skandal besar mengguncang pemerintahan, dan sebagainya?”

Jakarta – Lahirnya Detasemen Khusus 88 Antiteror dan kemudian disusul Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT), ternyata tidak membuat aksi ‘terorisme’ habis. Makin hari malah kian menjadi-jadi. Pemberantasan terorisme yang sudah lebih dari 10 tahun tidak membuahkan hasil yang berarti. Banyak kalangan bertanya-tanya, ada apa sesungguhnya.

“Dalam benak saya pun penuh tanya, kenapa terorisme terus ada dan bahkan terkesan berkembang? Sudah lebih dari 10 tahun sejak proyek memerangi terorisme dijalankan, namun terorisme tidak ada habisnya,” ungkap Indra, anggota Komisi III DPR, Sabtu (27/10/2012), seperti dikutip Tribunnews.

Indra meyakini adanya akar persoalan dari terorisme yang selama ini tidak terselesaikan. Menurutnya bila penanggulangan terorisme masih berorientasi proyek dana asing dan terus menyudutkan atau mengkambing-hitamkan salah satu agama atau kelompok, maka terorisme tidak akan hilang di Indonesia.

Politisi PKS itu kemudian meminta kejujuran pemerintah dalam mengungkap dan menganalisa sumber dan latar belakang tindakan terorisme.

“Oleh karena itu pemerintah harus bisa menjawab dan menjelaskan kepada kita semua beberapa gejala dan fakta selama ini. Seperti kenapa terorisme biasanya marak menjelang pemilu?” tegasnya.

“Kenapa terorisme biasanya marak menjelang datangnya pejabat dari negara donor program penanggulangan terorisme? Kenapa terorisme biasanya marak ketika ada isu atau skandal besar menguncang pemerintahan? Dan sebagainya,” katanya lagi.

Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dan dijelaskan, maka menurutnya, jangan salahkan apabila muncul agapan bahwa isu terorisme tidak akan pernah berakhir.

Masyarakat akan makin paham bahwa isu terorisme hanyalah drama yang dipertontonkan Densus 88 dan BNPT untuk meraup dana asing dengan mengorbankan saudara sebangsa.

red: shodiq ramadhan (si online)  Minggu, 28 Oktober 2012 | 11:48:43 WIB |

(nahimunkar.com)

(Dibaca 453 kali, 1 untuk hari ini)