Oleh : Yusuf Utsman Baisa

Awal bulan Romadhon telah diambang pintu, nuansa di jiwa kaum muslimin telah terbentuk, semua mereka sedang menunggu datangnya bulan yang penuh berkah ini dengan harapan dan semangat yang sangat tinggi.

Sidang itsbat telah menjadi pusat perhatian segenap bangsa ini, ketuk palunya sangat didengar dan sangat menentukan kapan bermula dan berakhirnya bulan yang dinantikan ini.

Siapapun tahu di negeri ini ada dua ormas Islam besar yang sangat berpengaruh bagi dunia dan akhiratnya bangsa ini, karena keduanya memimpin hampir setengah penduduk nusantara dalam hal agama, pendidikan, dakwah dan kehidupan sosial mereka.

Muhammadiyah dari jauh-jauh hari sudah menentukan awal dan akhir bulan Romadhon hanya dengan bersandar kepada hasil hisab mereka yang diyakini akurat dan jauh dari kemungkinan salah, mereka tinggalkan hadits-hadits yang memerintahkan umat Islam untuk bersandar kepada ru’yah.

Disisi lain Nahdhotul-Ulama yang sangat menghormati ru’yah, namun memberikan syarat-syarat berat untuk bisa diterimanya persaksian orang yang melihat hilal, diantaranya ketinggiannya harus dua derajat atau lebih dan harus melihatnya dengan kasat mata, tidak boleh menggunakan peralatan canggih, hal ini sebagaimana selalu dinyatakan oleh Kyai Ghozali pada setiap sidang itsbat.

Perbedaan yang paling menonjol diantara mereka adalah : Muhammadiyah menganggap keberadaan hilal tanggal satu hijriyah cukup dengan “wujud” atau “ada” walaupun ketinggiannya kurang dari satu derajat, sementara kalangan NU menganggap ketinggian hilal minimalnya dua derajat, karena jika kurang dari itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Padahal pada saat ini teropong bintang Boscha telah mampu melihat hilal dengan teropong canggih dibantu dengan komputer yang dilengkapi dengan software yang siap mendukungnya. (baca majalah Tempo edisi 30 mei – 5 juni 2016 hal 64 – 65)

Siapapun tahu bahwa pada saat ini Kementerian Agama dan MUI didominasi oleh kader-kader NU, akibatnya suara ormas-ormas Islam seperti Al-Irsyad, Persis dan lain-lannya tidak terdengar dan tidak berpengaruh sedikitpun, bisa jadi orang yang vokal bersuara lantang dan berani berbeda dengan mereka tidak diundang lagi ke ajang tersebut.

Berikutnya kita saksikan Muhammadiyah tidak mau hadir di sidang yang mulia itu karena menganggap percuma hanya akan jadi bahan cemoohan, akibatnya yang terjadi sebagai eksesnya adalah suara dan keputusan Pemerintah di sidang itsbat adalah suara dan pendapat kalangan NU, karena merekalah yang paling menentukan di ajang tersebut.

Semestinya jika kepentingan golongan bisa dikalahkan karena ada kepentingan bangsa Indonesia yang lebih besar dan lebih utama, mereka semua bisa duduk bermusyawarah dengan niat ikhlash dan ingin beramal sholih.

Sementara persyaratan ketinggian hilal minimal dua derajat dan melihatnya harus dengan kasat mata adalah pendapat manusia bukan ayat Al-Qur’an ataupun Al-Hadits, demikian pula hisab dan teropong yang canggih juga merupakan alat bantu hasil kreasi manusia biasa pula, bukan mukjizat yang tidak terbantahkan.

Jika kita mau masih banyak jalan keluar dari keributan ini diantaranya :

  1. Kita membaca tulisan Syeikh Wahbah Azzuhaily pada kitab Alfiqhul-Islamy wa adillatuhu jilid 2 hal 610, beliau katakan : “Pendapat jumhurul-ulama paling kuat menurutku, demi mempersatukan ibadah muslimin, menghilangkan perbedaan pendapat yang tidak perlu terjadi di zaman ini dan nash yang mewajibkan puasa menyandarkannya kepada ru’yah tanpa membedakan perbedaan daerah. Sementara ilmu falak menguatkan penyatuan awal bulan hijriah pada semua Negara Islam, karena perbedaan waktu terpanjang untuk munculnya bulan diantara negara Islam dengan negara Islam terjauh lainnya hanya kira-kira 9 jam, sehingga seluruh negara Islam bisa bersatu dalam satu malam untuk bisa berpuasa di saat ru’yah hilal bisa dipastikan – malam itu – dan diinformasikan dengan telegram dan telepon”.
  2. Kita bisa menunda sidang itsbat itu menjadi setelah sholat isya’ , agar  persaksian mereka dari daerah yang paling barat dari negeri ini pun juga bisa didengar.
  3. Kita bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga peneropong bintang yang bisa dipercaya seperti Boscha misalnya.
  4. Daerah-daerah pemantau hilal yang awannya lebih minim, jarang mendung dan sangat layak untuk bisa melihat hilal hendaknya bisa dibantu dengan peralatan canggih.
  5. Kerjasama dengan Negara-negara Islam terutama yang tergabung dalam Asean hendaknya dijalin, bukan hanya dalam hal hisab tapi juga dalam hal ru’yah hilal.

Tentunya kalau kita mau kita mesti bisa bersatu, hanya saja kita semua harus mampu membuang gengsi dan bersikap tawadhu’ diantara orang-orang yang beriman. *

(nahimunkar.com)

(Dibaca 140 kali, 1 untuk hari ini)