Oleh : Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

“Bila dunia terasa sempit dan musibah datang tak kenal henti, sementara kawan dan kerabat seolah berpaling, maka yakinilah saat itu Allah ingin engkau hanya berharap kepada-Nya. Allah membuat manusia berpaling darimu supaya engkau sadar bahwa Dia yang telah menciptakanmu, sanggup membuatmu bahagia tanpa mereka.

Dialah Allah….

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ

وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakaku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku.

Dialah yang memberi makan dan minum kepadaku.

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.

Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkanku (kembali).

Dan Dialah (Tuhan) yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS asy-Syu’arâ’ 26: 78-82)

Keyakinan itu tertancap kuat dalam jiwa para utusan Allah dan orang-orang sholeh. Keyakinan itulah yang mengilhami hati Nabiyullah Ayyub alaihissalam saat dihadapkan pada pahit getirnya ujian.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ .

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS al-Anbiyâ’, 21: 83-84)

Renungkanlah. Seorang nabi harus kehilangan harta dan anak-anaknya. Seluruh organ tubuhnya tak lagi berfungsi, hanya hati dan lidahnya yang tidak tertimpa penyakit. Allah membiarkan kedua organ itu tetap berfungsi supaya Ayyub tetap bisa berdzikir dan memohon kepada Allah. Setelah berlalu masa pengujian itu, akhirnya Nabi Ayyub alaihissalam sembuh dari sakit yang di deritanya, tidak hanya itu Allah bahkan mengembalikan harta dan keluarganya.

Kisah diatas mengajari kita untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah, tidak berputus asa akan rahmat Allah serta bersabar dalam menerima takdir Allah. Agar kita tetap bahagia disaat musibah menerpa, disaat manusia menjauh, berpaling, atau bahkan menghinakan kita.

(Terinspirasi dari nasehat Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar As-Syinqity)

Catt:

Saat membaca pengantar kitab sabil arrasyad karya Allamah Taqiyyuddin Al Hilali Al Maghriby -rahimahullah-, pada bagian yang mengisahkan biografi beliau sang muhaqqiq mengatakan, “Syaikh rahimahullah terkenal sangat keras dan sensitif dalam persoalan aqidah. Suatu ketika ada seorang wanita paroh baya mendatanginya dan berkata, “Wahai syaikh… doakan kesembuhan untuk anakku yang sedang sakit, dialah satu-satunya harapanku, aku tak bisa hidup tanpanya”. Wajah syaikh tiba-tiba berubah, dengan suara rendah sambil menahan emosi Syaikhpun menjawab, “Bahkan aku berharap Allah mewafatkan anakmu, agar tak ada lagi tempatmu bergantung selain kepada-Nya”

Via FB Diatas Manhaj Salafus Shalih

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.505 kali, 1 untuk hari ini)