• Apa yang dilakukan Ahok hanyalah akan melahirkan dan menciptakan kebencian, permusuhan, dendam, secara turun-temurun. Karena mereka tinggal di bantaran kali sudah turun-turun temurun, bergenerasi.
  • Orang-orang ‘kere’ di perkotaan yang sudah dendam, akibat penderitaan mereka, suatu saat, keberanian mereka akan muncul. Pasti akan terjadi pemberontakan dan  Sosok Ahok hanyalah akan menciptakan perang rasial di DKI. Ahok  menjadi representasi dari golongan Cina  yang begitu pongah terhadap orang-orang ‘kere’ dan pribumi.
  • … saatya akan tiba orang-orang pribumi yang sudah dendam kusumat akan membasmi golongannya Ahok. Persis seperti yang terjadi di Vietnam.
  • Rakyat Vietnam dendam kepada golongan Cina, yang bukan hanya menjadi ‘parasit’ di negaranya, tapi sudah menjadi ‘predator’ yang memangsa apa saja, dan menjadi ancaman kehidupan rakyat Vietnam. Maka rakyat Vietnam membersihkan orang-orang Cina dari negaranya.

perang rasial

JAKARTA (voa-islam.com) – Sekarang kehidupan rakyat semakin sulit selama 10 bulan Jokowi berkuasa. Kehidupan rakyat kecil benar-benar tercekik. Semua kebutuhan pokok naik. Penghasilan rakyat terpangkas, dan daya beli rakyat tak ada lagi. Krisis ekonomi mengancam kehidupan mereka. Rakyart kecil dan kaum papa di perkotaan DKI Jakarta, berjuang ingin tetap bisa hidup.

Di tengah krisis yang mendera rakyat kecil, dan semakin hancurnya kehidupan mereka, serta tidak tahu sampai (kapan) krisis akan berakhir, dan rakyat kecil bisa lega? Tak ada yang tahu. Tapi, badai krisis ekonomi dan politik ini, terus berlangsung, tanpa henti, seperti sudah takdirnya. Benar-benar menyuramkan bagi kehidupan rakyat di masa depan.

Di tengah kondisi yang serba sulit dan pahit itu, terjadi tindakan yang sangat keji terhadap rakyat kecil. Seperti penggusuran pedagang kaki lima. Di mana-mana. Seakan mereka tidak diberi hak hidup, dan harus disingkirkan. Tidak boleh mencari rezeki dengan cara berjualan di pinggir jalan. Mereka seperti ‘kotoran’ yang harus dibersihkan dari pusat kota Jakarta. Para pedagang kaki lima dikejar-kejar oleh aparat Satpol PP, seperti penjahat dan binatang.

Sekarang, Ahok bukan hanya menghancurkan kehidupan para pedagang kaki lima, tapi sekarang Ahok menghancurkan pemukiman miskin yang dihuni ribuan orang. Dengan berbagai alasan, termasuk di Kampung Pulo. Tujuannya menghindari banjir.

Benarkah kalau Kampung Pulo yang sudah diratakan dengann tanah, banjir akan berakhir? Ini bukan satu-satunya faktor. Rakyat yang tinggal di bantaran kali, bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan timbulnya banjir di Jakarta.

Ahok harus jujur. Daerah-daerah resapan air di Jakarta, sejak Kelapa Gading, Pluit, Pantai Indah Kapuk, dan Tangerang dirubah peruntukannya, dan menjadi hunian elite, yang dihuni oleh bangsanya Ahok, yaitu orang-orang Cina.

Perubahan peruntukan daerah-daerah resapan air itu, tidak ada yang mempersoalkan, sejak zamannya Menteri KLH Emil Salim, sampai sekarang. Karena para pengembang yang kebanyakan Cina itu, sangat mudah menaklukan para pejabat dengan ‘sogok dan suap’, sehingga resapan itu mudah berubah menjadi hunian elite.

Tapi, orang-orang miskin alias ‘kere’ itu, sekarang dihancurkan kehidupannya, tanpa sedikitpun belas kasihan. Orang-orang ‘kere’ yang tinggal dibantaran kali, pinggir danau, dan area-area di berbagai wilayah DKI, sekarang ini dihancurkan, diluluhlantakkan dengan alat-alat bolduzer dan didahului dengan aksi kekerasan oleh aparat. Sungguh sangat menyedihkan kehidupan merereka dinistakan. Sekarang tidak tahu lagi kemana pergi?

Orang-orang yang ‘kere’ itu, tak lain, warga negara Indonesia, orang-orang pribumi asli, bukan keturunan. Sekarang dihancurkan oleh Ahok. Dibersihakan dari Jakarta, persis seperti membersihkan kotoran.

Tak ada sedikitpun empati terhadap mereka. Tidak ada sedikitpun nurani bagi mereka. Mereka bukanlah orang-orang kaya, dan langsung bisa pergi dan mendapatkan tempat tinggal baru. Sungguh sangat menyedihkan nasib mereka.

Betapa. Ketika bolduzer merobohkan rumah-rumah penduduk di Kampung Pulo, Pinangsia, dan tempat-tempat lainnya, rakyat menyaksikannya. Anak-anak yang kehilangan tempat berteduh, menyaksikan rumah-rumah mereka diratakan.

Mereka hanya termangu melihat kehancuran demi kehancuran. Tanpa bisa melakukan perlawanan. Ahok menggunakan aparat keamanan, bukan hanya Satpol PP saja, menggusur rakyat yang tinggal dibantaran kali.

Apa yang dilakukan Ahok hanyalah akan melahirkan dan menciptakan kebencian, permusuhan, dendam, secara turun-temurun. Karena mereka tinggal di bantaran kali sudah turun-turun temurun, bergenerasi.

Orang-orang ‘kere’ diperkotaan yang sudah dendam, akibat penderitaan mereka, suatu saat, keberanian mereka akan muncul. Pasti akan terjadi pemberontakan dan perlawanan. Sosok Ahok hanyalah akan menciptakan perang rasial di DKI. Ahok  menjadi representasi dari golongan Cina  yang begitu pongah terhadap orang-orang ‘kere’ dan pribumi.

Hanya soal waktu saja. Akibat kebencian, permusuahn, dendam yang terus menumpuk, pasti akan meledak, dan perang terbuka antara kaum pribumi melawan Cina, pasti akan terjadi.

Apalagi, Cina yang ssekarang sudah menguasai jaringan ekonomi, bisnis, dan merambah kepada kekuasaan, justru keberadaan orang-orang Cina  bukan membuat kehidupan rakyat semakin baik, tapi semakin sulit dan mencekik. Pasti saatya akan tiba orang-orang pribumi yang sudah dendam kusumat akan membasmi golongannya Ahok. Persis seperti yang terjadi di Vietnam.

Rakyat Vietnam dendam kepada golongan Cina, yang bukan hanya menjadi ‘parasit’ di negaranya, tapi sudah menjadi ‘predator’ yang memangsa apa saja, dan menjadi ancaman kehidupan rakyat Vietnam. Maka rakyat Vietnam membersihkan orang-orang Cina dari negaranya.

JIka mau melihat perspektif sejarah di masa lalu, peristiwa ‘Madiun Affairs’ tahun l948, di mana PKI membantai umat Islam, dan mayat-mayatnya dimasukan ke dalam sumur. Sebagian dimasukan  ke dalam  gerbong kereta, kemudian membakar kereta yang sudah penuh dengan para kiai  dan orang Islam itu.

Tahun l965, dendam kusumat itu, lahir akibat peristiwa tahun l948, dan orang-orang Islam membunuhi orang-orang PKI, bengawan Solo menjadi saksi sejarah, di mana bengawan yang muaranya dari Solo itu penuh dengan mayat orang PKI.

Ahok menggusur pedagang kaki lima, menggusur rumah-rumah orang-orang miskin, dan dibiarkan tanpa masa depan. Sama dengan membunuhi mereka hidup-hidup.

Orang-orang miskin tetap mempunyai hak hidup, dan negara harusnya memberikan ‘sandang, pangan dan papan’. Dengan cara itu , negara memberikan hak-hak hidup bagi mereka, tapi malah rakyat miskin  dihancurkan oleh Ahok. Sungguh ini keji.(dita/voa-islam.com) Senin, 11 Zulqaidah 1436 H / 24 Agutus 2015 09:16 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.042 kali, 1 untuk hari ini)