Diskusi “Jakarta Tanpa Ahok” di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (11/3/2016). FOTO Tribunnews.com/Amriyono Prakoso


Dari diskusi “Jakarta Tanpa Ahok”, muncul penilaian, Ahok bukan pemimpin yang baik. Karena Ahok maju menjadi pemimpin Ibukota tanpa Assalamu’alaikum, dan bahkan berkata-kata kasar.

Inilah beritanya.

***

Pengamat Minta Warga Jakarta Lawan Ahok di Pilgub DKI Jakarta

Beritaempat-redaksi 2 days ago Pilkada

Jakarta, Beritaempat – Pengamat politik, Geisz Chalifah meminta kepada warga DKI Jakarta untuk bersama-sama melawan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang disapa Ahok dalam pertarungan di pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Ia menyebut Ahok bukanlah pemimpin yang baik untuk umat Islam melanjutkan tampuk kepemimpinan di DKI Jakarta.

“Maju menjadi pemimpin ibukota tanpa Assalamualaikum dan mengajarkan anak-anak kita kata-kata yang kasar. Makanya umat islam harus bersatu melawan Ahok,” kata Geisz dalam diskusi “Jakarta Tanpa Ahok” di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (11/3/2016)

Geisz juga menanyakan kaderisasi yang dilakukan oleh partai Islam dan gerakan mahasiswa Islam seperti HMI, PMII dan organisasi mahasiswa lainnya. Pasalnya, Ahok dilantik menjadi gubernur, tidak ada perlawanan sama sekali dari organisasi berbasis Islam.

“Kemana parpol Islam dan gerakan mahasiswa Islam? HMI, PMII dan yang lain. Ketika ada Ahok, baru semua bicara. Sebelumnya pada kemana?” tanyanya.

Tidak hanya itu, dia menilai bahwa opini yang ada saat ini seolah-olah sangat mendiskriminasi umat Islam yang memilih pemimpin berdasarkan agama. Menurutnya, tidak ada rasisme dalam menentukan pilihan politik.

“Penentuan politik itu kan hak masing-masing dan dijamin undang-undang. Kenapa kalau mau milih orang yang beragama sama terus dibilangnya rasis?” jelasnya. (Imam M Top)/ beritaempat.com

***

Empat ‘Dosa’ ini Seharusnya Bisa Membuat Ahok Dicopot dari Gubernur DKI Jakarta

– Jumat, 11 Maret 2016

 Perjalanan Ahok memimpin Jakarta hingga hari ini memunculkan banyak hal kontroversial. Mulai dari umpatan kasar hingga kebijakan kontroversial dilakukan oleh pria bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu.

Selama kepemimpinannya, ada empat ‘dosa’ yang bisa membuat Ahok bisa diturunkan dari jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta, demikian diungkapkan Ketua DPP bidang Advokasi Gerindra Habiburokhman dalam diskusi bertajuk Jakarta Tanpa Ahok .

“Yang pertama, Ahok melakukan fitnah dengan menyebut rakyatnya maling,” ujarnya, dikutip dariMerdeka, Jumat (11/3).

Ahok menyebut maling saat seorang ibu bernama Yusri yang menanyakan soal KJP anaknya. Padahal kata dia dalam Pasal 363 KUHP, pencurian didefinisikan dengan tindakan mengambil barang sesuatu yag seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. Sementara itu, ibu Yusri hanya menanyakan soal pencairan KJP yang dipersulit dengan alasan sistem offline.

“Kedua, Ahok diduga melakukan kebijakan diskriminatif dengan melarang pedagang hewan kurban menjelang Idul Adha di trotoar tetapi mengizinkan pedagang ikan bandeng menjelang Imlek berdagang di tempat yang sama,” ungkap dia.

Yang ketiga, Ahok kerap kali berbicara tidak senonoh saat diwawancarai secara live oleh salah satu televisi swasta pada 23 Maret 2015. Ahok juga serampangan menyebutkan soal sabotase kulit kabel yang ada di gorong-gorong sekitaran Istana. Namun belakangan itu diralat dengan adanya pencurian kabel.

“Belakangan ia sendiri meralat bahwa yang terjadi adalah pencurian kabel, meskipun sampai saat ini belum juga terbukti siapa yang mencuri kabel dan siapa yang kabelnya dicuri,” kata dia. [merdeka/islamedia] http://islamedia.id/

***

Politisi Gerindra: Mulut Ahok Lebih Cepat Ketimbang Otaknya

Jumat, 11 Maret 2016 17:58 WIB

 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra Habiburokhman mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mempunyai omongan yang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu sebelum diucapkan sehingga tidak jarang terlontar bahasa kasar dan buruk.

“Mulut Ahok itu lebih cepat ketimbang otaknya. Berapa kali dia malah keluarin kata-kata kasar. Seorang ibu-ibu juga jadi korban dikatain maling sama dia. Ini pemimpin macam apa?” ujar Habiburokhman saat diskusi “Jakarta Tanpa Ahok” di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (11/3/2016)

Habiburokhman menjelaskan bahwa ada masalah baru terkait pernyataan Ahok yang mengatakan bahwa ada surga di Alexis.

Namun dia menilai bahwa hal tersebut tidak akan diselesaikan oleh Ahok karena mantan bupati Belitung Timur tersebut setuju adanya pelegalan prostitusi.

“Tidak akan selesai. Orang gubernurnya saja setuju dengan prostitusi yang teroganisir dan tidak ada anggota DPRD yang menyentuh itu,” jelas Habiburokhman.

Padahal, kata dia, dari pengetahuan Ahok tersebut DPRD bisa saja menggunakan haknya sebagaimana tercantum dalam pasal 76 UU Nomor 23 tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah yang tertulis, seorang kepala daerah bisa diberhentikan jika melakukan keresahan kepada sekelompok masyarakat.

Selain itu, pernyataan Ahok yang tidak pantas saat wawancara di Kompas TV, namun KPI hanya memberikan peringatan keras kepada stasiun TV dan tidak memberikan peringatan kepada Ahok.

“Ini ironi bagi saya. KPI bahkan tidak memanggil Ahok yang sudah berkomentar tidak pantas di televisi nasional,” jelasnya.

Penulis: Amriyono Prakoso

Editor: Hasanudin Aco/trbn

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 2.405 kali, 1 untuk hari ini)