Ahok Calon ‘Gubernur’ Ibu Kota Baru, Jokowi Sepertinya Sedang Berjudi!


Ilustrasi. Ahok/ foto eramuslim

 

Kronologi, Jakarta – Munculnya nama Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai kandidat Kepala Badan Otoritas Ibukota Negara (IKN) baru menjadi tanda tanya bagi publik. Sebab, Ahok baru beberapa bulan menjadi Komut Pertamina.

“Kualitas kerjanya di Komisaris Pertamina belum nampak ada gebrakan sama sekali,” kata pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago kepada Kronologi.id, di Jakarta, Senin (9/3/2020).

Pangi menyarankan, sebaiknya Presiden Joko Widodo menunjuk orang asli Kalimantan sebagai Kepala IKN. Supaya menjaga kedamaian dan mereka yang mengerti keberagaman di Kalimantan.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini menduga, munculnya nama Ahok sebagai calon Kepala IKN ini, sudah diperhitungkan Presiden Jokowi untuk membuat kegaduhan baru.

“Presiden sendiri yang menjadi pangkal kegaduhan/biang kerok. Bagaimana mungkin selama ini sudah gaduh dan membuat kita terpecah kemudian mau dipilih lagi, saya kehabisan akal sehat untuk membaca fenomena ini, soal Ahok menjadi gubernur ibu kota baru,” tudingnya.

Alasannya, jelas Pangi, Jokowi seoalah semakin mantap dan mengkonfirmasi bahwa Ahok adalah orang istimewa dan dikhususkan.

Tak sampai di situ, Pangi menganggap, munculnya nama Ahok, sepertinya Jokowi sedang “berjudi” membangun IKN tersebut. Karena, belum sepenuhnya mendapat dukungan dari masyarakat Kalimantan.

“Jokowi sedang berjudi membangun ibu kota baru yang sampai sekarang belum mendapat dukungan dari masyarakat terkait ambisi besar dan agenda kepentingan besar apa di balik perpindahan ibu kota,” tukasnya.

Penulis: Tio

 by EDITOR

 
 

/kronologi.id  09/03/2020

***

Berita lawas berikut ini bisa dibaca kembali.

***


Ilustrasi. Ahok/ foto ist

Ahok Munculkan Bibit Konflik SARA di Jakarta


Keberadaan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memunculkan konflik di ibu kota.

“Fakta bahwa Ahok harus dikawal ribuan personil aparat ketika turun kerakyat adalah fakta yang menunjukkan ada yang tidak beres dengan Ahok,” kata Pimpinan Rumah Amanah Rakyat Ferdinand Hutahean dalam keterangan kepada suaranasional, Selasa (6/9).

Kata Ferdinand, ketika Ahok ke daerah Jakarta Utara bukannya disambut tapi malah disambit rakyat dengan lemparan batu bagai gerakan intifada di Palestina. “Sebegitu marahnyakah rakyat kepada Ahok sang Gubernur DKI ini,” ungkap Ferdinand.

Menurut Ferdinand, fakta saat ini bahwa di tengah publik Jakarta khususnya, bibit-bibit konflik berbau SARA meningkat tajam.  “Ada ancaman besar konflik SARA pecah di Jakarta sebagai akibat dari situasi psikologis dan sosiologis masyarakat yang muncul akibat kebijakan Ahok dan sikap arogansi kekuasaan yang ditunjukkan oleh Ahok,” jelas Ferdinand.

Kata Ferdinand, terlalu naif jika mengabaikan fakta-fakta lapangan hanya dengan klaim semu tentang prestasi Ahok. Semua indikator menunjukkan Jakarta menurun disegala lini selama kepemimpinan Ahok. “Ini yang harus dipahami oleh partai pendukung Ahok,” jelas Ferdinand.

Menurut Ferdinand, ada ancaman kondusifitas bagi Jakarta ke depan jika terus memaksakan Ahok menjadi Gubernur.  “Hal ini juga disampaikan Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara,” pungkas Ferdinand.

Sumber: suaranasional.com/06/09/2016

 

 (nahimunkar.org)


 

(Dibaca 325 kali, 1 untuk hari ini)