Eramuslim.com – Para advokat yang tergaabung dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) melaporkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dugaan rasis dan menghina Agama Islam. Laporan dengan Nomor :11/B/ACTA/lX/2016 ACTA diterima oleh Bawaslu DKI sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa (27/9/2016).

Wakil Ketua ACTA, Agustiar menjelaskan, ACTA menaruh perhatian serius atas sikap Ahok yang beberapa hari lalu secara terbuka di depan umum mengatakan jangan menggunakan Al Quran Surat Al Maidah ayat 51 yang melarang memilih kafir. Pernyataan tersebut sangat memprihatinkan karena diduga melangggar beberapa ketentuan hukum.

Pertama, kata Agus, Ahok telah  melanggar Pasal 15 UU Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Secara garis besar pasal tersebut mengatur larangan pembatasan berdasarkan ras dan etnis yang mengakibatkan pengurangan pengakuan hak asasi manusia.

muslim-tidak-milih-ahok

Sebagaimana diketahui bahwa menjalankan perintah Alquran termasuk mematuhi Surat AI Maidah ayat 51 merupakan bagian hak asasi umat muslim untuk menjalankan perintah agama.

“Jadi Ahok jangan hanya bisa menuduh orang lain rasis, dia harus introspeksi apa yang dia lakukan rasis atau tidak,” tegas Agustiar di kantor Bawaslu DKI Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Agus melanjutkan, Ahok juga melanggar Pasal 156 KUHP junto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 UU ITE tentang penghinaan terhadap agama.

“Sebagai orang yang tidak beragama Islam. Ahok tidak memiliki kapasitas untuk mengarahkan makna Surat Al Maidah 51 bagi umat Islam. Lagipula Surat Al Maidah 51 sudah sangat jelas artinya yaitu larangan bagi umat Islam untuk mengambil orang-orang yahudi dan nasrani untuk menjadi pemimpin,” kata Agus.

Pihaknya  berharap agar Bawaslu DKI Jakarta bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Apa yang disampaikan Ahok tersebut sangat sensitif dan bisa memicu kemarahan umat Islam.

“Bawaslu harua bergerak cepat merespon pernyataan Ahok tersebut dengan memanggil Ahok dan memberikan peringatan,” terangnya.

Ahok Berkilah

Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menjelaskan mengapa ia mengutip surat Al Maidah ayat 51, menurut Ahok, surat itu sering dipakai melakukan kampanye negatif kepadanya.

Bahkan Ahok menegaskan tidak ada hal yang salah dengan dirinya yang beragama Kristen Protestan, mengutip kalimat dalam Alquran.

“Semua firman Tuhan bisa dikutip kok. Kenapa aku enggak boleh ngutip firman Tuhan?” ujar Ahok di sela-sela kunjungan ke Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016), seperti dikutip Sindonews.

Seperti diberitakan, Calon Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) mengajak untuk mengabaikan surat Al Maidah ayat 51 dalam memilih pemimpin.

“Jangan tak pilih saya karena Almaidah 51,” ujar Ahok dalam jumpa pers bersama wakilnya, Djarot S Hidayat, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, serta ketua tim pemenangannya, Nusron Wahid di Jakarta, Rabu (21/9), seperti dikutip JPNN.

Surat Almaidah ayat 51 adalah ayat dalam Alquran yang melarang umat Islam memilih calon pemimpin dari kalangan Nasrani dan Yahudi.

Bunyinya:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(ts/pm)eramuslim.com – Rabu, 26 Zulhijjah 1437 H / 28 September 2016

***

Menyiarkan Bolehnya Memilih Pemimpin Kafir bagi Muslim Itu Menodai Agama Islam

Posted on Agu 28th, 2016 – by nahimunkar.com

pemimpin-kafir

Sumber Foto : www.adhinbusro.com/Ilustrasi

Orang Muslim berpedoman kepada Al-Qur’an kitab suci. Secara kenegaraan, meyakini isi kitab suci Al-Qur’an itu dijamin oleh konstitusi, undang-undang tertinggi di negeri ini, tercantum dalam Pasal 29 Ayat 1-2 UUD 1945

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya

Jaminan itu apa artinya, ketika ada orang yang menyiarkan faham atas nama Islam namun bertentangan dengan ayat suci Al-Qur’an yang diyakini sebagai pedoman agamanya, tetapi tidak diapa-apakan? Apakah berarti jaminan itu justru bagi yang menyelewengkan kandungan ayat suci? Tentu saja tidak. Apalagi sudah ada pasal tentang penodaan agama.

  • Pasal 156a KUHP menyatakan :
    “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun (5 tahun) barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

  • Pasal 4 UU Pencegahan Penodaan Agama menyatakan :
    “Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut :
    Pasal 156a Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun (5 tahun) barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

Menyalah gunakan agama (contohnya kasus menyebarkan pemahaman bolehnya memilih pemimpin kafir bagi orang Islam , padahal jelas dilarang dalam kitab suci Al-Quran) itu jelas melanggar pasal 156a tersebut. Makanya Kyai Ahmad Cholil Ridwan dari MUI pun langsung membeberkan sebuah dalil yang diambil dari QS. Ali Imran, ayat 28, yang jadi dasar untuk umat Islam memilih pemimpin dari umat Islam sendiri, bukan dari golongan kafir. “Begini ya, untuk apa ada ayat yang berfirman :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil dari orang-orang kafir jadi seorang auliya (pemimpin) dengan meninggalkan orang mukmin’” (QS Ali ‘Imran: 28).

Sudah jelaskan jika ayat ini ada pengharaman bagi kita pilih pimpinan orang kafir, apalagi Indonesia mayorits adalah muslim” tegas Kyai Cholil. https://www.nahimunkar.org/inilah-pernyataan-ustad-maulana-menurut-mui-sangat-menyesatkan/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.697 kali, 1 untuk hari ini)