Apabila umat Islam menolak korupsi, dekadensi moral, mabuk-mabukan, narkoba, kekerasan RT, berdasarkan keyakinan agama, apakah termasuk SARA? Jika tidak, mengapa menolak atau menerima calon gubernur berdasarkan agama dianggap SARA? Sementara, ada pihak lain merasa berhak menolak ajaran Islam berdasarkan demokrasi dan hak asasi.

Apakah sikap kasar, angkuh, menista ajaran Islam, munafik -hanya ngomong tapi nol prestasi- seperti dipertontonkan Ahok selama ini, bagian dari misi Kristen dan budaya Tiongkok? Jika ya, maka demo melengserkan Ahok dapat dibenarkan. Kelas Ahok tidak kompeten memimpin ibu kota Negara. Tapi jika sikap demikian merupakan aib personal, seharusnya Ahok memperbaiki diri. Belajarlah kearifan memimpin pada Khalifah Abu Bakar Shidiq Ra. yang berkata:

“Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kalian, tetapi aku bukanlah orang terbaik di kalangan kalian, maka berilah pertolongan kepadaku. Apabila aku bertindak lurus, maka ikutilah aku. Tetapi apabila aku menyeleweng maka betulkan aku.”

Jadi, Ahok jangan sok hebat!

(arrahmah.com) Dilema Ahok pimpin Jakarta
A. Z. Muttaqin Selasa, 19 Muharram 1436 H / 11 November 2014 20:40

(nahimunkar.com)