Raport merah Ahok terus bertambah. Jika dulu Ahok pernah menggulirkan wacana untuk mendukung dan mengembangkan lokalisasi prostitusi alias bisnis lendir di Jakarta, kini Ahok lagi-lagi menggagas peredaran miras secara besar-besaran. (Simak langkah negatif Ahok di Forum Ulama Muda Jakarta Menilai Ahok Tidak Patut Menjadi Gubernur)

Dikabarkan ada motif uang di balik itu. Ibaratnya, Ahok ingin mengobarkan kembali amarah masyarakat terhadap marakyna peredaran miras dan upaya pelegalan miras di beberapa daerah di Indonesia. (Baca: Pencabutan Perda Anti Miras, Susupan Agen Liberal yang Sangat Berbahaya)

Ahok yang sudah dinilai tidak pantas memimpin DKI Jakarta akibat sikap arogannya, masih saja berani melawan arus budaya pribumi. Agaknya karena dia adalah etnis pendatang (baca: penjajah) sehingga tidak pake tedeng aling-aling berani mencak-mencak dengan mencoba menyemarakkan produksi minuman setan. (Baca: Dikecam, Ahok yang Pro Miras)

Nampaknya, masyarakat Jakarta, termasuk warga negara Indonesia secara umum, yang masih punya hati nurani, sudah saatnya untuk tidak menganggap remeh ulah Ahok yang selalu meresahkan. Anehnya di media-media sekuler selalu yang diberitakan tentang Ahok adalah prestasinya. Barangkali Ahok hanyalah salah satu aktor diantara puluhan atau bahkan ratusan aktor pejabat lain yang selalu ancang-ancang untuk menyuarakan promiras. (Baca: Pejabat Dibuat Mabuk oleh Fulus Bisnis Miras? dan Pelacuran Didukung, Perda Syariat Diserang)

Apa para pejabat tidak tahu betapa teririsnya hati rakyat mengingat tragedi Tugu Tani 22 Januari 2012 yang menelan 9 korban meninggal akibat pengendara mobil mabuk-mabukan. (Baca: Inilah Kronologi Tabrak Maut 9 Orang Tewas oleh Wanita Mabok Miras dan Ekstasi dan Pemerintah Dinilai Tak Peka terhadap Korban Jiwa Akibat Miras)

Simak khuthbah Jum’at Ustadz Hartono Ahmad Jaiz tentang Bahaya Miras di sini.


Ahok: Soal Miras, Orang Butuh, Turis Juga Butuh

Siti Ruqoyah, Fajar Ginanjar MuktiJum’at, 12 Desember 2014, 10:00 WIB

VIVAnews – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengatakan, bir dan minuman keras merupakan suatu kebutuhan bagi sebagian masyarakat Jakarta.

“Saya katakan ini fakta. Orang butuh, turis-turis juga butuh,” ujar Ahok, sapaan akrab Basuki, di Balai Kota DKI Jakarta, Jum’at, 12 Desember 2014.

Maka dari itu, Ahok menuturkan, Pemprov DKI akan lebih memilih untuk membatasi dan memperketat produksi, distribusi, dan konsumsi minuman keras. Menurutnya hanya pabrik-pabrik resmilah yang diperbolehkan untuk memproduksinya.

Selain itu, hanya tempat-tempat tertentu pula yang diperbolehkan berjualan seperti hotel, bar, atau restoran.

“Yang penting pengawasannya mesti diperkuat. Belinya dibatasi. Anak usia tertentu mau beli ya enggak boleh. Orang di kampung-kampung mau produksi ya enggak bisa,” kata Ahok.

Untuk memperketat pengawasan itu, Ahok mengatakan Pemprov DKI akan mengerahkan kemampuan pengawasan seluruh SKPD-nya, seperti Satpol PP, Dinas KUMKM, termasuk SKPD-SKPD terkecil seperti Lurah, Camat, hingga RT dan RW.

“Kalau ada lurah dan camat yang enggak tahu wilayahnya sendiri, saya stafkan. Masa bisa enggak tahu ada pabrik yang produksi begituan?” ujar Ahok.

 

(br/nahimunkar.com)

(Dibaca 1.597 kali, 1 untuk hari ini)