Ahok di pengadilan (IST)


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menganggap warga yang digusur seperti sampah yang tidak ada gunanya.

“Penggusuran yang dilakukan Ahok pada 300 lebih kk di Aguarium (kalau kita melihat mereka dengan duduk di samping mereka) adalah Membuang mereka seperti sampah,” ungkap aktivis kemanusian Ratna Sarumpaet kepada suaranasional, Selasa (12/4).

Kata Ratna, dalam setiap penggusuran Ahok selalu menyalahkan rakyat dengan alasan yang ditempati itu tanah negara.

“Kenapa tiba-tiba mereka TIDAK berhak atas ganti rugi? Apa kalau tiap kali menggusur rakyat Ahok teriak “Tanah Negara” maka keputusannya menolak ganti rugi buat mereka Sah? Sadar nggak Ahok kalau Negara yang dia maksud itu adalah negaranya Rakyat Indonesia, negaranya warga di Akuarium yang kemarin meratap meminta penangguhan agar Pemda lebih dulu memperbaiki proses?” ungkap Ratna.

Selain itu, Ratna mengatakan, konsep pembangunan Ahok lebih mengepung wilayah Cagar Budaya di Penjaringan dengan plaza, mall, apartemen dan hotel mewah.

“Ini menunjukkan bagaimana Ahok sama sekali tidak menghormati sejarah dan tidak paham apa cagar budaya,” jelas Ratna.

Ratna mengatakan, Ahok tidak paham, menggusur nelayan sebagai bagian budaya Pasar Ikan, atau menggusur ummat Islam (yang menjadi bagian budaya Masjid Jami’) adalah sebuah kesalahan fatal.

“Dan dia mengabaikan kewajibannya mendapatkan rekomendasi TSP (Tim Sidang Pemugaran) dan BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya),” pungkas Ratna.

Sumber: suaranasional.com/ 13/04/2016

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 21.664 kali, 1 untuk hari ini)