Memilih pemimpin yang tidak seiman lebih banyak mudhorot/kejelekannya. Lagipula, ajakan memilih pemimpin berdasarkan agama bukan SARA. SARA hanya taktik untuk memenangkan calon nonmuslim di tengah mayoritas muslim. Berikut pendapat para ulama.

***

Ajakan Pilih Pemimpin Seiman Bukan SARA

JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai ajakan para pendakwah atau penceramah yang menyampaikan ajakan untuk memilih pemimpin seiman dalam putaran kedua Pemilukada DKI Jakarta merupakan kewajaran. Sebab, dalam Alquran ditegaskan Allah telah menyerukan setiap muslim untuk memilih pemimpin yang seagama. Menurut Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin, penceramah dalam shalat Jumat atau kegiatan keagamaan Islam lainnya yang menyampaikan ajakan dan imbauan untuk memilih salah satu dari pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI merupakan hal yang sangat wajar. Sebab, sudah selayaknya alim ulama atau pemimpin umat memberitahukan jamaahnya untuk memilih yang terbaik.
“Kalau da’i dan da’iyah, khotib maupun pendakwah lainnya melakukan itu masih dalam tahap kewajaran. Karena mereka memberitahu saja. Mengajak murid-muridnya. Seorang ustadz mengajak murid-muridnya memilih salah satu pasangan calon ya tidak apa-apa. Murid-muridnya kan boleh mau atau tidak, terserah murid-murid sendiri. Kalau cuma sampai di situ sih tidak apa-apa,” kata Ma’ruf.
Hal senada diungkapkan tokoh agama Habib Idrus Alatas. Menurutnya, dalam Alquran sudah dijelaskan dari berbagai surat bahwa, setiap muslim harus mencari pemimpin yang seiman. “Allah sudah menegaskan bahwa setiap muslim melarang pemimpin non muslim,” kata Habib Idrus, Minggu (29/7).
Habib Idrus menambahkan ayat-ayat Alquran yang melarang memilih non Muslim menjadi pemimpin, seperti dalam Q.S. Ali Imran: 28, Q.S. Al-Nisa: 138-139, Q.S. Al-Nisa: 144, dan Q.S. Al-Ma’idah: 51.
Menurutnya, ajakan untuk memilih atau membukakan jatidiri calon pemimpin kota Jakarta yang tidak sesuai dengan kaidah ajaran Islam bukan merupakan kampanye berbaru SARA (suku, agama, ras, antar golongan), melainkan merupakan pembukaan wawasan agar umat Islam memilih pemimpin yang tepat dengan melihat agamanya.

***
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “sesungguhnya petunjuk allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu,maka allah tidak lagi menjadi penolong dan pelindung bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)
Dahulu dimasa Rasulullah, Kaum Yahudi berkolaborasi dan saling tolong-menolong dengan kafir Quraisy dan Musyrik Madinah untuk memerangi Rasulullah saw dan umat Islam. Sehingga pada puncaknya menyebabkan peperangan antara kubu Islam dengan kubu kafir yang diwakili Yahudi, Musyrik Madinah dan Kafir Quraisy. Sehingga persekongkolan dalam memerangi Islam ini berujung pada perang Khandaq, peristiwa ini terjadi pada tahun kelima Hijriyah. (Mukhtasar Sirtur Rasul, Muhammad bin Abdul Wahab)

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) allah, dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat allah orang-orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.”. (QS. Ali imran: 103)
Abu Ja’far Ath-Thobari meriwayatkan hadits ‘Athiyyah bin Abi Sa’id, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:

كَتَبَ اللهُ هُوَ حَبْلُ اللهُ المَمْدُودُ مِنَ السَّـمَاءِ اِلَى الآَرْضِ

(“Kitab Allah itu adalah tali Allah yang di ulurkan dari langit ke bumi “) Tafsir Ibnu Katsir I/388-389.
Menurut Ibnu Mas’ud, yang dimaksud “tali Allah” adalah Al-Jama’ah, Al-Qurthubi menyatakan, sesungguhnya Allah memerintahkan supaya bersatu padu dan melarang berpecah belah, karena perpecahan itu adalah kerusakan dan persatuan (Al-Jama’ah) itu adalah keselamatan. (Tafsir Qurthubi IV/159)
Sebagian Ulama ada yang mengatakan bahwa “tali Allah” itu adalah Dinnullah, menurut sebagian Ulama yang lain; Taat kepada Allah, Ikhlas dalam bertaubat, janji Allah. Al-Imaam Fakhrur Razi menyimpulkan bahwa seluruh penafsiran tersebut pada hakekatnya saling melengkapi, karena Al-Qur’an, janji Allah, Dinnullah, taat kepada Allah dan Al-Jama’ah dapat menyelamatkan orang yang berpegang teguh dengannya supaya tidak terjatuh kedalam dasar Neraka Jahannam, maka hal-hal tersebut dijadikan sebagai tali Allah agar mereka berpegang teguh dengannya (Tafsir Al-Kabir VIII/162-163).
Apabila dikatakan kepada mereka,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang allah telah turunkan dan kepada hukum rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisaa’: 61)

Simak kajian tafsir QS. Al-Baqarah: 120 bersama Dr. Mu’inudinillah Basri, MA., direktur PPTQ Ibnu ‘Abbas Klaten.

(br/nahimunkar.com)

(Dibaca 371 kali, 1 untuk hari ini)