euang subur

Eyang Subur, nama tokoh spiritual yang kini santer terdengar akibat kasus dugaan penipuan yang dilaporkan oleh Adi Bing Slamet. Kasus ini terus memanas dengan seiringnya nama-nama lain yang melapor karena pernah menjadi korban. Diantaranya adalah Ibu Subangun, Arya Wiguna, dan banyak masyarakat lainnya, yang kemudian berkumpul untuk bahu membahu bersama Adi untuk melaporkan dan menuntut Eyang Subur atas penipuan dan penistaan agama.

Kasus Eyang Subur ini telah masuk pada ranah sensitif, yaitu agama. Syariat Islam, menurut para ulama adalah apa yang Allah SWT wahyukan dan apa yang Nabi Muhammad sabdakan, sedangkan manusia bahkan para ulama pun tak boleh membuat aturan atau syariat lain, selain yang sudah diwariskan. Namun, menurut keterangan beberapa artis yang menyatakan bahwa Eyang Subur mempunyai aturan atau syariat yang tak sesuai dengan syariat.

Ibu Subangun dalam keterangannya saat diwawancarai wartawan, (mengaku) pernah ditegur oleh Eyang Subur karena membaca surat Yasiin, Eyang Subur mengatakan kalau di dalam surat Yasiin itu terdapat kesalahan.

Dorce Gamalama yang juga pernah bergabung menjadi jamaah Eyang Subur juga mengatakan bahwa ada ritual yang harus dilakukan saat masuk dan mengikuti aktifitas dirumah Eyang Subur, yaitu ketika baru datang meminum kopi manis, kopi pahit, dan air garam, lalu saat pukul 02.00 ia disuruh mandi.

Arya Wiguna juga memberikan keterangan, bahwa Eyang Subur mengajarkan untuk menginjak bumi sebanyak 3 kali jika sedang menghadapi suatu masalah.

Demikian kasakusuk.com memberitakan.

***

Ciri-ciri dukun dan larangan mendatangi, bertanya, apalagi mempercainya

Syeikh Wahid Abdussalam Bali menyebutkan beberapa ciri khas dan perilaku dukun. Jika ciri-ciri tersebut ada pada seorang tabib, maka dia adalah dukun. Meskipun beberapa ciri yang beliau sebutkan di bawah ini ada yang khas timur tengah, tapi tidak sedikit memiliki modus sama. Atau hanya berbeda sedikit coraknya dengan dukun di negeri ini.

Diantara cirinya adalah :

  1. Bertanya kepada pasien tentang namanya dan nama ibunya (kecuali data pasien untuk keperluan administrasi, atau yang terkait dengan riwayat penyakit-pen)
  2. Mengambil salah satu benda bekas pakai penderita, seperti kain, tutup kepala, sapu tangan dan semisalnya.
  3. Kadang-kadang meminta binatang dengan ciri-ciri khusus untuk disembelih tanpa menyebut nama ALLAH. Kadang-kadang juga mengoleskan darah ke bagian tubuh yang sakit, atau melemparkannya ke tempat yang sepi (dukun di Jawa biasanya meletakkan sembelihan sesaji itu di bawah jembatan, di bawah pohon besar, di perempatan jalan dan tempat-tempat yang dianggap angker-pen)
  4. Menulis rajah-rajah tertentu.
  5. Membaca mantera-mantera yang (sebagian atau seluruhnya) tidak bisa dipahami maknanya.
  6. Memberi rajah berupa segi empat yang di sana tertulis beberapa huruf atau angka.
  7. Menyuruh penderita untuk menyepi selama masa tertentu di kamar yang tidak terkena sinar matahari ( di sini dikenal dengan puasa pati geni)
  8. Kadang-kadang melarang pasien menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari.
  9. Membekali pasien dengan benda-benda yang harus dikubur di tanah.
  10. Membekali penderita kertas-kertas untuk dibakar supaya berasap.
  11. Berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak dipahami maknanya. (

Sumber: thibbun.com

Larangan

Larangan bagi setiap muslim untuk pergi atau bertanya atau percaya kepada tukang ramal, siapapun dia dan apapun profesinya di tengah masyarakat.

عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً».ه

Artinya: “Shafiyyah meriwayatkan dari beberapa istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mendatangi ‘ARRAF, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya sebuah shalatpun selama 40 hari”. HR. Muslim.

عَن أَبِى هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ »..ه

Artinya: “Abu Hurairah dan Al Hasan radhiyallahu ‘anhum meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang telah mendatangi Kahin atau ‘Arraf, lalu dia mempercayainya, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam)”. HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhi wa Tarhib, no. 3047. (sumber artikel Ahmad Zainuddin tentang Waspadailah Ciri-Ciri Dukun atau Tukang Ramal!).

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.725 kali, 1 untuk hari ini)