Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga saya dan teman-teman pembaca sekalian dari memakan harta haram, baik dzat yang dimakan adalah haram dalam hukum Islam, maupun cara mendapatkannya yang haram. Ada doa penting yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ: مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah, saya berlindung pada Engkau dari 4 hal ini: dari Ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak kunjung khusyu’, dari jiwa yang tak kunjung kenyang, dan dari doa yang tak didengar.[H.R. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i dan lainnya]

Perhatikan kembali, 4 hal yang Rasulullah meminta perlindungan darinya:

[1] Ilmu yang tak bermanfaat
[2] Hati yang tak khusyu
[3] Jiwa yang tak puas
[4] Doa yang tak terjawab

Pertama, ilmu yang tak bermanfaat. Saya cerita sedikit, bahwa ada seorang manager di suatu bank ribawi, yang rajin mengundang pemateri (ustadz) untuk mengisi kajian, entah di kantor atau di rumahnya. Tapi beliau -semoga Allah beri hidayah pada kita dan beliau- punya daftar ustadz-ustadz yang telah beliau blacklist. Bukan masalah manhaj. Tetapi mereka adalah asatidzah yang pernah atau berpotensi membicarakan masalah riba dan harta haram. Beliau takkan pernah mengundang asatidzah semacam ini. Jika ada ustadz undangan yang menyinggung masalah harta haram di kajian, pasti takkan beliau undang lagi. Ini menujukkan, beliau sangat tahu bahwa pekerjaan dan penghasilan beliau adalah haram dalam Islam. Ilmu yang tak bermanfaat. Dan memang sudah diingatkan. Tetapi hati belum terketuk. Ilmu yang tak bermanfaat.

Kedua, hati yang tak khusyu’. Sulit menjadikan hati khusyu’ bagi orang yang memakan harta haram. Ustadz Erwandi berkata dalam kitabnya: “Sangat erat hubungan antara mengkonsumsi makanan yang halal dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila jasad tersebut tumbuh dan berkembang dari makanan yang haram. Dan jasad yang malas beramal shalih tidak akan merasakan kenikmatan beribadah dan taqarrub kepada Allah yang pada gilirannya mengantarkan jiwa-ruhaninya kepada gundah-gulana hingga sampai titik hampa dan nestapa.” [HHMK, hal. 4]

Maka, jika hati tak kunjung khusyu’, ingatlah perihal makanan dan minuman. Juga ingat kezaliman yang sudah dilakukan.

Ketiga, jiwa yang tak puas. Tak kunjung kenyang. Anda akan melihat orang-orang kemaruk dan rakus akan dunia, normalnya adalah orang-orang yang tak memikirkan cara syar’i dalam berpenghasilan. Dicabut qana’ah dari hati mereka. Ketika kekhusyu’an tidak ada, lalu sifat qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah) juga hilang, terlebih tidak menerima ilmu, maka itu adalah kematian sebelum kematian. Perlahan akan semakin menyakiti diri sendiri.

Keempat, doa yang tak dijawab oleh Allah. Perhatikan kata Rasulullah:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Kemudian beliau (Rasulullah) menyebutkan seorang lelaki yang mengadakan perjalanan jauh, berambur kusut dan berdebu, menadahkan tangannya ke langir, “Ya Rabb Ya Rabb” (berdoa), padahal makanannya berasal dari yang haram, minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya berasal dari yang haram dan makan dari yang haram. Maka bagaimana (mungkin) doanya akan dikabulkan?” [H.R. Muslim]

Dikonsentrasikan di tulisan ini ke masalah harta haram, meskipun doa di atas tidak hanya berkaitan dengan itu. Sebagai nasihat saja. 4 penyakit di atas perlu terapi berkelanjutkan. Perlu hati yang lapang untuk menyembuhkannya. Banyak orang sangat tidak suka jika masalah pekerjaan dan penghasilan disinggung. Bahkan yang berposisi sebagai dai saja, bisa berang jika dikhawatirkan penghasilannya terganggu akibat kedatangan dai lain yang akan mengurangi kadarnya.

Harta benar-benar bisa menjadi fitnah. Karena itulah, baiknya jangan bercita-cita kaya, tetapi cukup bercita-cita berkah saja penghasilannya. Kalaupun memang bercita-cita kaya, jangan mentok di sana, melainkan cita-citakan kekayaan Anda menjadi wasilah untuk membantu kaum Muslimin. Semoga Allah beri hidayah dan taufiq.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 856 kali, 1 untuk hari ini)