بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang tua di suatu desa menderita sakit budeg seketika. Tidak bisa mendengar suara apa-apa. Padahal selama hidupnya tidak pernah mengalami gangguan telinga. Tetapi tiba-tiba sama sekali dua telinganya tidak berfungsi lagi. Diteriaki pun tidak mendengar.

Setiap hari dia berdoa kepada Allah Ta’ala, mohon disembuhkan dari sakit budegnya. Suatu siang, dia ke sawah untuk menyambangi tanamannya. Dia lihat di ujung sana ada seorang anak yang sedang menggembala kambing. Terbersit dihati Pak Tua ini untuk mendekati si penggembala. Begitu sudah dekat, dia bilang ke penggembala: “Le (nak), saya ini sudah 3 bulan tidak bisa mendengar. Tolong kuping saya ini kamu tiup dengan baca Bismillah ya.”

“Ya, Mbah. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Huf… huf… huf…” ucap si penggembala sembari meniup dua telinga Pak Tua.

“Alhamdulillaah… sekarang saya bisa mendengar Le… terimakasih ya…,” ucap Pak Tua sambil bersyukur dan berbinar-binar raut wajahnya.

Kesembuhan itu pun dikhabarkan ke anak-anaknya di kota. Itu untuk bersyukur dan melaksanakan perintah dalam ayat :

 وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١ [سورة الضـحى,١١]

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan [Ad Duha : 11]

***

Terungkap penyebab budegnya setelah beliau wafat

Suatu ketika, anak-anak Pak Tua yang di kota harus pulang, karena ibu mereka sakit. Sang ibu itu sudah jadi janda karena Pak Tua sudah wafat beberapa bulan lalu. Pulanglah anak-anak Pak Tua bersama-sama dalam satu mobil milik salah satu mereka.

Di dalam mobil itu, di antara anak-anak ini bercerita. Dulu Bapak menderita budeg beberapa bulan. Itu gara-gara saya mengadu tentang keadaan.

Mengadu apa? Tanya beberapa suadaranya dalam mobil itu.

Saya mengadu, bahwa kakang tempat kita tinggal di kota tidak lagi membolehkan untuk kita ikut. Kita harus cari kontrakan, untuk pindah ke kontrakan. Dan tidak boleh makan lagi di rumahnya. Dengan diberi jangka waktu sekian, masih boleh makan dan boleh tinggal. Nantinya pada waktunya, tidak boleh lagi. Harus ke kontrakan. Nah, dengan curhatan saya itu ternyata Bapak tiba-tiba tidak bisa mendengar suara apa-apa. Dia menderita itu sampai berbulan-bulan, ungkap seorang anak dalam mobil yang lagi jalan dari kota mau ke desa bersama-sama untuk mengunjungi ibu mereka yang sudah janda dan sedang sakit.

Kakangnya yang sedang kantuk-kantuk dalam mobil itu kaget mendengar cerita itu. “Oooo… jadi Bapak tidak bisa mendengar itu gara-gara curhatmu?”, ucap Kakang.

“Ya …” jawab si adik sambil merem-merem menampakkan rasa bersalah.

Dengan tenang, sang kakang menjelaskan. Itulah di antara bahaya mengadukan penderitaan kepada orang, walau yang dicurhati itu Bapak sendiri.

“Ketahuilah, ini terpaksa harus kakang jelaskan kepada kalian”, ucap si kakang kepada semuanya.   “Seandainya kalian tidak ada satupun yang mengadu ke Bapak, maka bagus sekali, dan tidak ada salah apa-apa kepada siapa-siapa. Karena, sebenarnya kalau kalian tahu, maka justru kalian akan berterimakasih atas perlakuan terhadap kalian yang diharuskan pindah dengan cari kontrakan dan tidak makan serta tinggal di tempat kakang lagi itu.”

Raut muka para adik yang diucapi seperti itu tampak kosong tanda tidak mengerti maksud ucapan si kakang. Lalu kakang melanjutkan bicaranya, “ketahuilah, sejatinya kalian harus pindah itu adalah merupakan pendidikan bagi kalian, latihan bagi kalian, agar kalian mampu mandiri hidup di kota yang keadaannya sama sekali berbeda dengan di desa di tempat orang tua. Walau kakang itu pengganti orang tua, namun kalian harus mampu hidup mandiri dalam kedaan kota yang beda dengan desa.”

“Jadi”, lanjut kakang, “kalian itu ibarat sekumpulan piyik (anak ayam) kampung yang ketika sudah mulai agak gede maka disapih oleh induknya. Lihat ayam-ayam itu, mereka justru disapihnya dengan cara dipatoli oleh induknya, dan bahkan ditladungi, agar menyingkir dari induknya. Itu hanyalah agar anak-anak ayam itu mampu hidup mandiri.”

“Kalian ingat”, lanjut kakang, “ketika kalian baru datang dari desa, selama sebulan kira-kira selalu kakang dampingi untuk ke sana-sini, mencari pekerjaan dan sebagainya. Begitu kalian sedang berdandan dan menyelesaikan untuk pakai sepatu, kakang sudah brabat pergi keluar dan berjalan sangat cepat. Hingga kalian terpontal-pontal mengikutinya. Itu dalam rangka mendidik kalian yang dari desa yang klular klulur serba lembet (lambat) tidak gesit, agar berubah jadi sigap dan gesit.:”

“Jadi, itu semua adalah pendidikan dan latihan yang sejatinya untuk memandirikan kalian. Namun kakang sama sekali tidak bilang bahwa itu hanya pendidikan dan latihan. Karena kalau dibilang begitu, tentu saja kalian tidak menjalaninya dengan sungguh-sungguh.”

“Dari itu semua, kasus ini telah berlalu, dan telah terlanjur, Sayang sekali, Bapak tidak bisa lagi diberi penjelasan karena telah wafat,” pungkas Kakang.

Tampak di situ adik-adik yang dalam mobil itu mingkus pundaknya bagai mengerucut badannya, seperti mengecil saja, karena peristiwa ini benar-benar tidak mereka duga. Sedang yang sempat curhat ke Bapak, tampak ketap-ketip matanya, tidak berani buka suara.

Itulah salah satu akibat suka curhat dengan mengadukan penderitaan kepada manusia, walau itu kepada Bapaknya sendiri sekalipun.

Sebenarnya sudah ada contoh kesedihan yang sangat nyata dan pengaduan yang dilakukan hanya kepada Allah. Itulah yang dilakukan Nabi Ya’qub ayah Nabi Yusuf ‘alaihimassalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ya´qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,… ” [Yusuf: 86]

Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

Sesungguhnya sebenar- benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. An Nasa’i no. 1578, Shahiih).

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 804 kali, 1 untuk hari ini)