Ilustrasi oleh inilah.com

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan:

…وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ إلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ  .

… Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka tak berhukum dengan kitab Allah dan mereka tidak memilih (wahyu) yang Allah turunkan kecuali Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Ancaman di dunia saja sudah di depan mata. Itu belum tanggung jawab yang kelak dipikul di akherat. Apalagi misalnya ditambah dengan memojokkan Ummat Islam dengan aneka cara atau mengarahkannya kepada ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Allah dengan sengaja ngaja ramai-ramai mencontohi untuk berani bergabung dalam upacara agama kemusyrikan, maka lebih dahsyat lagi tentunya.

Di dunia ini saja problem yang dihadapi sudah tampak nyata. Inilah di antara beritanya.

***

Daftar 14 Daerah Berpotensi Konflik Besar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Sekretaris Militer yang kini menjadi politisi PDI-P, Mayor Jendral TNI purnawirawan TB Hasanuddin mengingatkan, adanya 14 daerah yang rawan akan menjadi konflik besar, bila tidak dapat diantisipasi sejak dini. Tahun depan, katanya, bisa saja daerah-daerah yang dimaksudkannya itu akan ‘meledak’ seperti kasus Mesuji di Lampung, juga tragedi di Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Sengketa lahan yang kini masih terjadi, sewaktu-waktu bisa meledak. Bisa meledak seperti di Bima dan Mesuji,” tegas TB Hasanuddin saat ditemui di DPR, Kamis (29/12/2011).

Keempat belas daerah rawan konflik besar yang dimaksud antara lain:

  1. Masalah lahan sawit di  Belitang Hilir kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.
  2. Masalah lahan tanah yang dirampas oleh pemerintah untuk pembangunan wilayah wisata di Gilitrawangan Selatan, Nusa Tenggara Barat.
  3. Masalah  sengketa tanah antara TNI  AU dengan rakyat di  Garut selatan dan Rumpin, Bogor, Jawa Barat.
  4. Sengketa tanah antara rakyat dengan TNI AD di Kebumen, Jawa Tengah.
  5. Sengketa lahan rakyat dengan PT Permata Hijau  Pasaman, di Jorong Maligi,Kanagarian Sasak Ranah Pesisir, Sumatera Barat.
  6. Sengketa lahan sawit PT JMB dengan rakyat di Separi Tenggarong  Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.
  7. Sengketa lahan sawit di Muara Tae  Kutai Barat, Kalimantan Timur.
  8. Sengketa lahan sawit di Wanasalam/Malingping Kabupaten Lebak, Pandeglang, Provinsi Banten.
  9. Sengketa lahan  PT Bintang Delapan Mineral di Tiaka Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
  10. Sengketa di Donggi Sinorak di Kab Luwu,Banggai,  Sulawesi Tengah.
  11. Sengketa Lahan sawit PT Sonokeling di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.
  12. Sengketa lahan PT Citra Palu Mineral di Toli-toli, Sulawesi Tengah.
  13. Sengketa lahan PT CPM di Paboya, Palu, Sulawesi Tengah.
  14. Beberapa daerah di Sumatera Utara.

Penulis: Rachmat Hidayat  |  Editor: Hasiolan Eko P Gultom

Tribunnews.com – Kamis, 29 Desember 2011 17:34 WIB

***

Korban Tewas di Konflik Agraria Kian Meningkat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pada catatan akhir tahun, Serikat Petani Indonesia (SPI) mencatat dari tahun ke tahun mulai 2007 hingga 2011 konflik agraria makin meningkat.

“Dicatatan kami, tahun 2007 ada 76 kasus agraria yang menewaskan delapan orang petani. Tahun 2008 ada 63 kasus menewaskan enam petani. Tahun 2009 ada 24 kasus menewaskan 4 orang, tahun 2010 ada 22 kasus menewaskan lima orang dan 2011 ada 120 kasus menewaskan 18 orang,” terang Ketua SPI, Henry Saragi dalam Konferensi Pers SPI di Jakarta, Kamis (29/12/2011).

Henry menjelaskan penyempitan lahan pertanian dan konflik agraria marak di sepanjang 2011, bahkan kekerasan dan kriminalitas yang dialami petani semakin banyak.

“Permasalahan tanah di Indonesia merupakan persoalan kompleks, mengingat sistem hukum pertanahan Indonesia yang terbagia dua, satu di BPN dan satu lagi di Kemenhut,” ucap Henry.

Penulis: Theresia Felisiani  |  Editor: Hasiolan Eko P Gultom

Tribunnews.com – Kamis, 29 Desember 2011 16:02 WIB

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani

(nahimunkar.com)

(Dibaca 864 kali, 1 untuk hari ini)