Lantas kebaikan macam apa yang bisa diharapkan dari Oplosan Aqidah seperti ini, kecuali Kemunkaran dan Pengkhianatan terhadap Agama. Dan apa pula yang bisa diharapkan dari seorang pemimpin yang tidak paham akan agamanya sendiri..?!

 

Ketika badai syubhat kian menerjang, fitnah-pun merajalela, kebenaran kian tersisih, terasing di tengah lautan manusia. Sekat pemisah antara kebenaran dan kebatilan runtuh sudah.

Kehadiran Presiden RI Joko Widodo dalam rangka memimpin Perayaan Natal Nasional di Papua (27/12/2014) adalah salah satu bukti penyimpangan aqidah dan tidak adanya pendirian dalam beragama.

Mencampur adukkan  antara  yang Haq dan Batil ini merupakan tindakan yang nyata-nyata telah melanggar larangan Allah, sekaligus juga bertentangan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa umat Islam di larang mengikuti atau ikut-ikutan merayakan Perayaan agama Nasrani/Non Muslim.

Larangan keras dan tegas ini di keluarkan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH M. Syukri Ghozali dan Sekretaris H. Masudi, pada 7 Maret 1981. Sementara, Fatwa Haram Mengikuti Perayaan Natal Bersama ini juga disampaikan oleh pimpinan tertinggi Ulama se-Indonesia KH. Ma’ruf Amin beberapa waktu lalu.

Maka jelas sudah di mana garis batas toleransi itu. Bahwa toleransi hanyalah dalam hal bermasyarakat, bermuamalah, dimana urusanya hanyalah sebatas duniawi. Bukan dalam hal urusan ibadah.

Namun dalam hal ini Jokowi justru menutup mata, ia nekad menghadiri bahkan memimpin Perayaan Natal di Papua. Mengesampingkan undangan menghadiri peringatan 10 tahun Tsunami Aceh yang sebenarnya justru lebih dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menyentuh seluruh aspek tanpa memandang perbedaan agama apapun.

Alih-alih mengatas namakan toleransi antar umat beragama, padahal sejatinya gamang terhadap agamanya sendiri, alias ‘’mliyar-mliyur’’.  Sehingga berbaur menyatu merayakan Hari Raya Agama lain dianggapnya sepele.

Salah satu kutipan sambutan Jokowi pada Puncak Perayaan Natal di Papua sebagaimana dilansir tribunnews.com pada 27/12/2014, ialah ‘’Jokowi menyampaikan Ucapan Selamat Hari Natal disertai Salam Hormat dan Bahagia kepada seluruh umat Kristiani di Jayapura, Tanah Papua, serta di seluruh pelosok tanah air’’.

Jelas sudah, ini adalah toleransi konyol yang merusak dan menghancurkan Aqidah. Ini adalah hal pokok dan sangat prinsip yang harus diluruskan.  Di mana Jokowi sebagai Kepala Pemerintahan sudah nyata-nyata melanggar Pancasila, sila pertama yaitu : Ketuhahan Yang Maha Esa.

Lantas kebaikan macam apa yang bisa diharapkan dari Oplosan Aqidah seperti ini, kecuali Kemunkaran dan Pengkhianatan terhadap Agama. Dan apa pula yang bisa diharapkan dari seorang pemimpin yang tidak paham akan agamanya sendiri..?!

Bangkit! Muslim sejati harus cerdas, harus berani menunjukkan jati diri agamanya, jangan sampai ikut mengambang, mengalir  terbawa derasnya arus penyimpangan Aqidah. Ingat! Tidak ada toleransi dalam urusan ibadah, dan tidak ada ibadah yang masih di oplos dengan toleransi. Sebab, kebaikan itu relatif sementara kebenaran itu mutlak!
Wallohu’alam bi Showab.

Liesky Rennita
Ketua Divisi Berita & Peliputan Komunitas Penulis Islam (KOPI)

Si online, Senin, 19/01/2015 22:23:15

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 463 kali, 1 untuk hari ini)