Akidah Salaf Vs Ilmu Kalam (Jilid Satu dan Dua)


Judul

:

Akidah Salaf Vs Ilmu Kalam Jilid (2 Jilid)

Penulis

:

Syaikh Abdul Aziz Marzuq Ath – Tharifi

No ISBN

:

978979592856

Kategori

:

 

Cover

:

Hard Cover

Isi

:

434 Halaman (jild 1), 375 Halaman (Jilid 2).

Ukuran

:

UB03 (24.5×16)

Berat

:

600 gr

Harga

:

Rp 98.000,00 (Jilid 1), RP 90.000 (jilid 2)

   

Akidah Salaf Vs Ilmu Kalam Jilid

Buku ini berbicara tentang akar konflik akidah di Khurasan. Khurasan sendiri adalah sebuah kota tua di Persia. Kota ini menjadi pusat dan basis interaksi antara akidah salaf dengan ilmu kala (Filsafat). Akidah salaf diwakili oleh dua Ar-Razi, yaitu Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur’ah Ar Razi yang keduanya menerima akidah dari generasi sebelumnya, yaitu para sahabt, tabi’in, dan ulama-ulama salaf. Sementara ilmu kalam banyak terpengaruh Filsafat Yunani yang diwakili oleh aliran Murji’ah, Jahmiyah, Khawarij, Muktazillah, Rafidhah, dll.

Dalam buku ini, penulis Syaikh Abdul Aziz Marzuq Ath-Tharifi memaparkan dengan gamblang akar konflik penyimpangan akidah di dunia Islam serta debat antara ulama salaf dan ahli kalam dalam beragam tema, seperti: Apakah iman bertambah dan berkurang, apakah Al-Qura’an makhluk, apakah surga dan neraka diciptakan, dimankah posisi surga dan neraka, apakah Allah bersemayam di atas Arasy, apakah Nabi melihat Allah di dunia, apakah Mizan, Shirat, Arasy, Telaga, Syafaat benar adanya. Juga, apakah siksa dan nikmat kubur dan kebangkitan benar adanya, wajibkah Taat kepada ulil amri, lalu bagaimana hukum belajar ilmu Kalam. siapa dan apa dengan paham Jahmiyah, Muktazilah, Murjiah, Khawarij, Rafidhah? serta beragam tema menarik lainnya.

Isyu-isyu akidah dan keislaman yang sering dihembuskan oleh kaum liberal dan sekular masa kini hanyalah merupakan kelanjutan dari apa yang dihembuskan oleh aliran ahli kalam sebelumnya. tak pelak, buku ini layak Anda miliki./kautsr.co.id

***

Islamic Book Fair 2020 di JCC Jakarta, 26 Februari – 1 Maret 2020


Pengunjung Islamic Book Fair 2019 (Foto: Republika)- Sukses Digelar, IBF 2019 Raih Ribuan Pengunjung/ muslimobsession.com

 

Islamic Book Fair 2020 di JCC Jakarta

Tanggal: 26 Februari – 1 Maret 2020

Tempat: Hall A-B, Jakarta Convention Center (JCC)

Waktu: 10.00-21.00 WIB

Harga tiket masuk:

 

Pelajar : Rp5.000,-

Mahasiswa/Umum : Rp10.000,-

Islamic Book Fair 2020

ISLAMIC BOOK FAIR 2020 “LITERASI ISLAM CAHAYA UNTUK NEGERI”

https://www.nahimunkar.org/islamic-book-fair-2020-di-jcc-jakarta-26-februari-1-maret-2020/

 

***

Alhamdulillah, Baru Saja Terbit Lagi Buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’

Posted on 25 September 2019

by Nahimunkar.org

 

Alhamdulillah, Baru Saja Terbit Lagi Buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’



Cover buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’/ foto bklpk

Alhamdulillah Baru Saja Terbit Lagi, buku karya Hartono Ahmad Jaiz berjudul ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Buku ini cetakan ke-delapan, September 2019. Terbit pertama Maret 2005.

Buku ini telah dibedah di berbagai kota di IAIN, UIN, dan lainnya. Yang banyak mendapatkan perhatian di antaranya ketika dibedah di Islamic Book Fair di Senayan Jakarta saat begitu buku ini baru terbit. Berbicara dalam bedah buku ini penulis buku, Hartono Ahmad Jaiz, dan pembahasnya Dr Roem Rawy alumni Al-Azhar Mesir, dosen Pasca Sarjana IAIN/ UIN Surabaya.

Tahun 2005 terbitlah buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN, dan langsung dibedah di Islamic Book Fair di Senayan Jakarta, Maret 2005, oleh penulis buku dan dosen Pasca Srjana IAIN Surabaya Dr Roem Rowi alumni Al-Azhar Mesir.

Untuk mengetahui masalah-masalah ini, perlu disimak laporan berikut ini, yang ditulis tahun 2005 saat gencar-gencarnya menyoroti tentang pendidikan Islam di perguruan tinggi se-Indonesia. Inilah laporannya:

IAIN Berkiblat ke Barat

Menyebarkan Virus Perusak Iman

IAIN berkiblat ke Barat makanya menyebarkan virus perusak iman. Virus penghancur iman itu telah merata di IAIN, STAIN, STAIS, UIN, dan bahkan sampai ke Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum. Karena memang pendidikan agama Islam di perguruan tinggi di Indonesia ini kurikulumnya, system pengajarannya, dan dosen-dosennya berkiblat ke Barat, bukan ke Islam. Padahal Barat itu sendiri sikapnya terhadap agama adalah merusaknya.

Demikian rangkuman yang bisa diambil dari acara bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz. Acara berlangsung Ahad, 19 Juni 2005/ 12 Jumadil Awwal 1426H di Masjid Pesantren Al-Husnayain pimpinan KH Ahmad Kholil Ridwan alumni Gontor dan Jami’ah/ Universitas Islam Madinah. Pesantren ini di Jl Lapan Pasar Rebo Cibubur Jakarta Timur. Bertindak sebagai pembicara adalah penulis buku, Hartono Ahmad Jaiz, dan dosen pasca sarjana IAIN Bandung Dr Daud Rasyid MA alumni Kairo Mesir. Acara ini dipandu Ust Mustofa Aini alumni Universitas Islam Madinah, dihadiri jama’ah yang memenuhi masjid.

Dr Daud Rasyid mengemukakan, IAIN betul-betul terjadi pembaratan. Bukan saja orang-orang jebolan dari Barat tapi juga asli dari Barat. Kata Daud yang bermarga Sitorus dari Batak ini, tahun 1996 dia masuk IAIN Jakarta, karena di pascasarjana belum ada guru hadits. Daud Rasyid ditanya Harun Nasution, nama saudara siapa? Saya Daud Rasyid.

Ya, nama ini tidak asing di kepala saya, jawab Harun Nasution.

Sampai 3 tahun berturut-turut Daud Rasyid mengajar di IAIN Ciputat Jakarta, tetapi begitu Dr Harun Nasution meninggal, Daud Rasyid pun diusir dari IAIN Ciputat oleh rektornya yang sekarang (Azyumardi Azra). Ketika saya tanyakan, kenapa saya tidak diberi jam kuliah di pascasarjana IAIN? Semua yang ada di sana diam seribu bahasa. Artinya, keberadaan saya di sana tidak mereka senangi, karena menurut mereka, membuat pusing. Karena tadinya murni orientasinya barat, lalu ada orientasi Timur Tengah, ini jadi bingung ini, keluh calon doctor di IAIN Ciputat Jakarta.

Setiap dalam kuliah, Daud Rasyid mematahkan celotehan-celotehan para calon doctor yang berfikirnya model orientalis dan barat, dan mereka tak bisa menjawab. Lalu terjadi kebingungan, yang mana yang harus diikuti, Barat atau Timur Tengah?

Terakhir, menjelang Pak Harun meninggal, lanjut Daud, saya diminta jadi penguji tetap orang yang akan menjadi doctor. Materi ujian komprehensip itu tiga: Al-Qur’an, Hadits, dan Pemikiran Islam. Rupanya Pemikiran Islam ini mata kuliah wajib, untuk menanamkan Mu’tazilah pada mereka. Kurang lebih setahun saya menjadi penguji, siapapun yang akan menjadi doctor harus berhadapan dengan saya, mata kuliahnya hadits. Nah di situ mereka ada yang sport jantung katanya, ada yang keringat dingin kalau menghadapi Pak Daud dalam ujian.

“Pak Harun Nasution ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Mu’tazilah (kepada mahasiswa calon doctor yang sedang diuji) dia melirik saya,” ungkap Daud.

Demikianlah, tetapi begitu beliau (Harun Nasution) meninggal, saya sama sekali tidak diberi jam kuliah untuk mengajar. Katanya saya sudah ditugaskan ke IAIN Bandung. Sekarang di IAIN Bandung pun saya menikmati keterusiran saya. Saya dalam memberikan kuliah hadits, saya katakan, di sini kalau ada yang membawa-bawa faham-faham Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain, silahkan di luar pagar. Ini kuliah hadits. Tidak menerima Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain. Sampai di Universitas Ibnu Chaldun Bogor di pascasarjana, ada alumni IAIN Ciputat Jakarta, ternyata dalam makalahnya dia menyusupkan faham Syi’ah untuk membenci sahabat, asing, aneh, janggal dan bertentangan dengan hadits dengan cara yang halus sekali, tapi racun.

Pemikiran di IAIN Prototipe dari Orientalis Barat

Jadi produk-produk IAIN sana, ungkap Daud Rasyid, pemikirannya terkena percampuran Liberal, Mu’tazilah, kalau tidak ya Syi’ah, Shufiyah/ Tasawuf. Ini semua merupakan prototype dari orientalis di Barat. Orientalis di Barat itu sebagaimana kata Dr Ismail Faruqi, yang dikabarkan mati terbunuh oleh agen-agen Zionis di Amerika, bahwa studi Islam di Barat itu adalah kumpulan dari pemikiran-pemikiran sesat; apakah itu yang namanya Syi’ah, Mu’tazilah, Shufiyah/ Tasawuf, dan sejenisnya, di sana bergabung.

Tahun lalu saya mengunjungi 7 pusat studi Islam di Inggeris. Diantaranya di Brimingham, Manchester, Oxford dll, saya lihat langsung, bagaimana Islamic Studies itu, betul apa yang dinamakan oleh para pendahulu bahwa Islamic Studies di Barat itu di bawah naungan apa yang dinamakan grand design (rancangan besar).

Seorang Kristen Koptik kuliah di Amerika, lalu ditugaskan dalam penelitiannya untuk mencari titik-titik kelemaham Al-Qur’an. Setelah meneliti justru masuk Islam, tetapi resikonya harus menghadapi aneka tekanan yang harus diderita.

Pascasarjana IAIN, lanut Daud Rasyid, ada dua yang jadi sumber virus pemikiran di Indonesia, yaitu IAIN Jakarta dan IAIN Jogjakarta (kedua-duanya jadi UIN –Uinversitas Islam Negeri). Jarang sekali orang kalau sudah masuk ke sana masih terpelihara pemikirannya. Ada tapi jarang sekali. Karena orang-orang yang masuk ke sana (pascasarjana IAIN), begitu studium general (kuliah umum), Prof Harun Nasution berbicara:

“Saudara-saudara, pemikiran pemahaman anda yang ada di S1 (doktorandus atau sarjana agama) itu semuanya harus disingkap hingga lepas. Semua pemahaman Islam yang anda dapatkan di S1 itu semua harus dilepas. Sekarang kita masuk ke mimbar bebas pemikiran.”

Itu doktrin studium general orang baru masuk pasca sarjana IAIN. Setiap tahun pidato Harun Nasution itu dia ulang-ulang terus. Jadi dia ingin mengemukakan apa, kalau dulu masih ada sisa cinta kepada Al-Qur’an, keberpihakan kepada Hadist, itu harus dibuang. Di sini mengkaji Islam secara akademik. Tidak berpihak kepada keimanan atau keyakinan. Artinya, tinggalkan semua akidah dan keimaman, begitu anda masuk kemari, begitulah kira-kira tafsirannya. Jadi ini kalau terus dibiarkan, sangat berbahaya.

Lalu solusinya apa?

Ini Menteri Agama yang baru ini kan orang dari Gontor, yang masih koleganya Ust Kholil Ridwan (Pemimpin Pesantren Husnayain di Cibubur Jakarta Timur, penyelenggara bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN). Perlu ada usul kepada Menteri Agama, masalah kurikulum IAIN, mesti ditinjau ulang, saran Daud.

Kedua, soal pascasarjana. Pascasarjana ini penting, karena merupakan sarang think tank nya umat Islam. Maka perlu diusulkan kepada Menteri Agama, orang yang menjadi direktur pasca sarjana itu hendaknya lulusan Timur Tengah yang pikirannya benar-benar lurus. Sekarang ini direktur pascasarjana UIN Jakarta itu Qomaruddin Hidayat. Rektornya Azyumardi Azra, ya kloplah, jelas Daud.

Menteri Agama sekarang ini keluaran Timur Tengah, mantan Dubes di Arab Saudi, artinya bau-bau Ka’bah itu masih melekatlah sama dia. Jadi keberpihakannya itu masih diharapkan kepada pemikiran Islam yang shahih, tandas Daud dengan nada harap.[1]

Kasus Nasr Hamid Abu Zayd

Daud Rasyid juga menuturkan tokoh pengusung hermeneutika (metode tafsir bible) yang pernah didatangkan ke UIN Jakarta, padahal telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996.

Dr Nasr Hamid Abu Zayd buru-buru kabur dari Mesir, kata Dr Daud Rasyid, karena Faraq Fauda yang belum divonis murtad oleh pengadilan saja sudah jadi bangkai dibunuh orang. Lha Nasr Hamid Abu Zayd yang sudah divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 maka tinggal menunggu hari. Dengan demikian dia buru-buru kabur dari Mesir, lari ke Belanda. Lalu dia diangkat jadi guru besar di Leiden Belanda.

Sebelumnya, tim yang meneliti karya-karya Nasr Hamid Abu Zayd dipimpin oleh Prof Abdus Shobur Shahin telah menemukan bukti-bukti kemurtadan, di antaranya Al-Qur’an diaggap sebagai muntaj tsaqofi, produk budaya. Tim ini tidak meloloskan Nasr Hamid untuk meraih gelar professor, karena hasil karya tulisnya justru menghina dan menyalahi Islam. Tidak lolosnya karya ilmiyah sebenarnya hal biasa, namun oleh kelompok sekuler, hal itu dibesar-besarkan, hingga menjadi berita dunia, sampai hebohnya bergaung hingga di Eropa, kata Daud Rasyid. Lalu Nasr Hamid akhirnya dijadikan guru besar di Leiden Belanda.

Pemurtadan secara sistematis

Sementara itu Hartono Ahmad Jaiz penulis buku Ada Pemurtadan di IAIN mengemukakan bahwa pemurtadan di IAIN sudah merata bahkan seluruh perguruan tinggi Islam, sampai yang swasta bahkan Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum sudah terkena pula, yaitu terkena virus pemurtadan. Karena kurikulumnya, system pengajaran, dan dosen-dosennya mengusung pemikiran yang merusak.

Yang dirusak yaitu:

1. Aqidah Islam, dari tauhid, mengesakan Allah, digeser ke kepercayaan pluralisme agama (menyamakan semua agama). Ini sangat menyelewengkan Islam, baik secara keyakinan maupun keilmuan. Jadi dari penegakan Tauhid justru dialihkan ke pemasaran kemusyrikan, penyaman semua agama.

2. Pemahaman Islam dirusak secara sistematis. Tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan metode yang benar, tetapi merujuk metode Barat yang diprogram untuk mencela Islam dan merusak pemahaman Islam.

3. Penggeseran pembelajaran Islam, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta aqidah Islamiyah (Tauhid) ke Sejarah Pemikiran Islam (SPI) dan Sejarah Peradaban/ Kebudayaan Islam (SKI). Bahkan SPI dan SKI itu dijadikan matakuliah dasar umum (MKDU) untuk semua fakultas dan jurusan di seluruh perguruan tinggi Islam, bahkan sampai ke Fakultas Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Dari situlah (dari dua mata kuliah dasar umum) yang diwajibkan kepada seluruh mahasiswa dan waktu smesternya bersambung-sambung itulah perusakan pemikiran dan pemahaman Islam dilancarkan secara sistematis oleh dosen-dosen yang sudah dirancang untuk mengusung faham model kafir Barat yang pada intinya adalah anti agama, dengan menghancurkan agama pakai faham pluralisme agama, menyamakan semua agama. Di antara alat untuk menghancurkan agama yaitu apa yang mereka sebut metode hermeneutic yaitu metode tafsir bible, yang telah mampu merusak agama Yahudi dan Kristen. Kini metode hermeneutika itu telah diajarkan di IAIN/ UIN Jakarta dan Jogjakarta.

4. Penggeseran pembelajaran Islam dari ahlinya, yaitu para ulama dan perguruan Islam di Timur Tengah dialihkan ke belajar Islam kepada orang kafir Yahudi, Nasrani ataupun mengaku Islam tetapi secular dan berfaham aneh-aneg alias nyeleneh di perguruan-perguruan tinggi di Barat. Padahal para pendiri studi Islam di Barat sudah dikenal kebanayakan adalah para orientalis yang tujuannya: penjajahan, kristenisasi, dan pembaratan.

5. Pembelajaran Islam yang sebenarnya untuk membentuk generasi Islam yang faham Islam dialihkan menjadi sarang-sarang dan pabrik pembaratan, perusakan Islam secara sitematis, menggantikan pabrik-pabrik perusakan Islam di Barat. Jadi perusakan Islam di Indonesia sudah ada pabriknya-pabriknya, yaitu IAIN-IAIN atau perguruan tinggi Islam se-Indonesia untuk meliberalkan dan mempluralismekan agama umat Islam alias memusyrikkan. Sedang para pengasongnya atau pengetengnya adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) pimpinan Ulil Abshar Abdalla dan 44 lembaga lainnya yang mengusung faham liberal dan pluralisme agama yang merusak Islam. Dana untuk perusakan Islam itu didapat dari lembaga-lembaga swasta kafir dan negara. Di antaranya satu lembaga kafir swasta saja membiayai 44 lembaga, dan untuk satu lembaga seperti JIL saja mendapatkan Rp1,4 miliar per tahun dari The Asia Foundation, lembaga kafir swasta yang berpusat di Amerika. Ulil Abshar Abdalla mengaku kepada Majalah Hidayatullah Desember 2004 bahwa dana Rp1,4 miliar yang dia terima per tahun dari The Asia Foundation itu kecil dibanding yang diterima oleh lembaga-lembaga lainnya (dari 44 lembaga di antaranya lembaga-lembaga di lingkungan NU, Muhammadiyah, IAIN, UIN, perguruan tinggi Islam swasta dan lain-lain). Satu lembaga swasta kafir saja sudah bisa membiayai 44 lembaga berfaham liberal yang memecundangi Islam. Padahal di Indonesia ini ada 48 lembaga swasta internasional.
Dari 48 lembaga swasta internasional itu yang lembaga kafir 47, sedang yang Islam hanya satu, namun yang satu Islam yaitu Al-Haramain Foundation sudah dibredel oleh Amerika. Jadi yang 47 lembaga swasta kafir dibiarkan hidup, bahkan satu lembaga kafir saja membiayai 44 lembaga perusak Islam, sedang satu lembaga Islam dibredel paksa. Inilah Indonesia di bawah Amerika.

6. Dunia ini ada kekuatan yang menghancurkan Islam dengan dua cara. Pertama dengan cara membunuhi secara fisik, misalnya yang terjadi di Irak, Afghanistan, Palestina, Tailand dan sebagainya. Kedua, pembunuhan keimanan seperti yang dilakukan di Indonesia yaitu mencabuti keimanan, dari tauhid ke pluralisme agama alias kemusyrikan, lewat pendidikan terutama IAIN/ UIN dan lain-lain di antaranya 44 lembaga yang dibiayai swasta kafir. Semuanya itu dengan dana sangat besar. Dan bahkan sudah merambah ke pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah untuk diubah kurikulumnya dengan didanai Amerika (negara, belum lagi yang swasta) 157 juta dolar. Sedangkan untuk perusakan kurikulum pendidikan Islam di dunia Islam maka didanai Amerika satu miliar dolar pertahun. Jadi umat Islam ini dibunuhi fisiknya, dan dibunuhi keimanannya. Pembunuhan keimanan ini lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau hanya pembunuhan fisik, maka ketika umat Islam dibunuh sedang iman di dadanya masih utuh, insya Allah masuk surga. Tetapi pembunuhan keimanan dengan melalui pendidikan yang pada dasarnya mencabuti keimanan, maka walaupun fisiknya masih hidup namun imannya mati, lalu ketika fisiknya mati maka masuk neraka. Itulah yang di dalam Al-Qur’an dinyatakan:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191).

Tekanan bahkan penggeseran keimanan itu lebih dahsyat dibanding pembunuhan.

Dengan kenyataan yang sangat membahayakan bagi umat Islam ini maka tidak ada jalan lain kecuali membela agama Islam, dan berupaya menyingkirkan segala gangguan yang sistematis dan dibiayai besar-besaran itu. Apabila ini dibiarkan maka keadaan akan semakin rusak dan sangat membahayakan.

https://www.nahimunkar.org/alhamdulillah-baru-saja-terbit-lagi-buku-ada-pemurtadan-di-iain/

***

Apa Saja Buku yang Telah Ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz

Posted on 13 Mei 2018

by Nahimunkarcom

 


(Menjawab Pertanyaan tentang Daftar Buku-Buku Karya Hartono Ahmad Jaiz)

Banyak pertanyaan tentang apa saja buku yang telah ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz.

Berikut ini jawabannya, berupa daftar Buku-Buku Karya Hartono Ahmad Jaiz.

Bila Mau Pesan Buku Hartono Ahmad Jaiz Silakan Hubungi Ini
Silakan hubungi:


Toko Buku Fithrah Bekasi HP. 081319510114, Surabaya 08123125427
Buku Hartono Ahmad Jaiz dkk terbitan Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta/ Bekasi Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).

Buku hartono Ahmad Jaiz terbitan Putaka Al-Kautsar:
Pustaka al kautsar Jakarta Layanan Konsumen: Telepon: 021- 8507590 / (021) 850-6702 SMS: 0819-52380191 | Fax: 021 – 85912403 E-mail: marketing@kautsar.co.id









Foto goodreads.com

 

***

Buku-buku Karya Hartono Ahmad Jaiz 

1. Solidaritas Islam, Darul Haq Jakarta, 1993 M/1414 H, ditulis bersama Farid Achmad Okbah.

2. Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1994.

3. Ragam Berkeluarga –Serasi tapi Sesat, ditulis bersama isteri, Mulyawati Yasin, diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1994.

4. Meluruskan Da’wah dan Fikrah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1996.

5. Rukun Iman Digoncang, Azmy Press, Jakarta, 1997.

6. Kematian Lady Diana Menggoncang Akidah Umat, ditulis bersama Ainul Haris Umar Thayib Lc dan Al-Chaidar, Darul Falah, Jakarta, 1418 H.

7. Kekeliruan Logika Amien Rais, Darul Falah, Jakarta, 1998.

8. Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Desember 1998.

9. Bahaya Islam Jama’ah-Lemkari-LDII, (sebagai editor), LPPI, Jakarta, Syawal 1419 H/Januari 1999 M.

10. Di Bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto; Tragedi Politik Islam di Indonesia, Darul Falah, Jakarta, Dzulqa’dah 1419 H.

11. Bahaya Pemikiran Gus Dur, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, April 1999.

12. Ambon Bersimbah Darah, Ekspresi Ketakutan Ekstrimis Nasrani, Dea Press, Jakarta, 1999.

13. Mendudukkan Tasawuf, Gus Dur Wali? Darul Falah, Jakarta, Ramadhan 1420 H/Desember 1999M.

14. Bahaya Pemikiran Gus Dur II: Menyakiti Hati Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Mei 2000 M.

15. Rukun Iman Diguncang, Edisi kedua (revisi), diperbaiki dengan berbagai penambahan pada cetakan kedua, Pustaka An-Naba’ Jakarta, 1421 H/ 2000 M.

16. Tasawuf Belitan Iblis, (cetakan ke-3 edisi revisi dari “Mendudukkan Tasawuf, Gus Dur Wali?” April 2001, Darul Falah, Jakarta.

17. Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, ditulis bersama Abduh Zulfidar Akaha, Pustaka Al-Kautsar, 2001 M.

18. Tasawuf, Plurlisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001M.

19. Bahaya Islam Liberal, Pustaka Al-Kautsar, 2002 M.

20. Aliran & Faham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, 2002 M/1422 H..

21. Gus Dur Menjual Bapaknya, Bantahan Pengantar Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI, Darul Falah, Jakarta, 2003.

22. Kursi Panas Pencalonan Nurcholish Madjid sebagai Presiden, Darul falah, Jakarta, 2003

23. Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2004.

24. Apa Itu Salafi, Darul Falah, Jakarta, Mei 2004.

25. Menangkal Bahaya JIL & FLA, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juni 2004.

26. Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Darul Falah, Jakarta, Juni 2004.

27. Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2005.

28. Al-Qur’an Dihina Gus Dur, Hujjah Press, Jakarta, 2006.

29. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan WIP/ Wacana Ilmiah Press, Solo, Juli 2006.

30. Wanita antara Poligami dan Perselingkuhan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007.

31. Bunga Rampai penyimpangan Agama, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juni 2007.

32. Nabi-Nabi Palsu dan Para penyesat Ummat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008/ 1429H.

33. Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal CS (singkatan dari Cum Suis
Bahasa latin yang berarti dan kawan kawan -dkk ), Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Februari 2010.

34. Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah (Di Balik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok), ditulis bersama Hamzah Tede, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juni 2010.

35. Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara, ditulis bersama Hamzah Tede, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Februari 2011.

36. Kyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, Agustus 2008.

37. Islam dan Al-Qur’an Pun Diserang, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, Muharram 1430/ Januari 2009.

38. Rekayasa Pembusukan Islam Terseret Syahwat Menyusupkan Syubhat, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, Februari 2009/ Shafar 1430H.

39. Ummat Dikepung Maksiat, Politik Kotor dan Sesat, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, Juni 2009/ Rajab 1430H.

40. Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta,2009/1430H.

41. Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, Januari 2010.

42. Lingkar Pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya/ Jakarta, 2011.

Buku-Buku Hartono Ahmad Jaiz InsyaAllah Dapat Dipesan
Silakan buka link ini, cari yang di pusatnya, Surabaya atau Bekasi.
https://www.nahimunkar.org/buku-buku-pustaka-nahi-munkar-d…/
Juga bisa ditanyakan (yang terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, di link ini:http://kautsar.co.id/
Terimakasih.

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

https://www.nahimunkar.org/apa-saja-buku-yang-telah-ditulis-oleh-hartono-ahmad-jaiz/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 431 kali, 1 untuk hari ini)