Yang jadi ramai di masyarakat adalah adanya aksi-aksi pembubaran pengajian di sana sini. Mereka mengaku dari ormas berlabel Islam namun ditengarai sering mangganggu pengajian bahkan berupaya membubarkan pengajian di mana-mana. Bahkan acara menghafal Al-Qur’an pun dilabrak untuk dibubarkan. Sebegitunya kebencian mereka terhadap kegiatan Islam.

Kasus memalukan dan memprihatinkan itu sama sekali tidak dianggap sebagai masalah oleh petinggi NU, namun justru sebaliknya, pihaknya menuduh dakwah di Indonesia dipenuhi Ujaran Kebencian.

Di samping suara petinggi NU ini kedengaran aneh, seperti ada bau-bau menyudutkan dakwah Islam.

Kalau memang petinggi NU itu maunya membicarakan masalah Ujaran Kebencian, bukankah yang lagi ramai justru kasus Viktor dari Nasdem yang menuduh komponen-komponen Umat Islam dengan ujaran kebencian?

Salah satu yang lagi ramai adalah kasus viktor. Bahkan sampai ada berita begini.

***

Katanya Ketum PBNU Said Aqil Anti Radikal, Kok Diam Radikalisme Mengerikan Victor NasDem?

Posted on 7 Agustus 2017 – by Nahimunkar.com

Jakarta — Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj belum memberikan pernyataan terkait ancaman radikalisme dan pembunuhan terhadap umat Islam dari politikus Partai NasDem Victor Laiskodat.

“PDIP saja berani salahkan Viktor. Kok @DPP_PKB diam? Kok Ketum PBNU @saidaqil gak bersuara soal Victor?,” kata wartawan senior Edy A Effendi di akun Twitter-nya @eae18.

Kata Edy, ancaman pembunuhan dari Victor NasDem ditujukan kepada umat Islam.

“Jokowers dan ahokers pada kelojotan. Twit saya jelas kok. Sasaran Viktor tak hanya partai kompetitor tapi umat Islam,” kicau Edy.

Edy mempertanyakan  orang- orang yang selalu teriak toleran anti radikal, tetapi diam terhadap radikalisme mengeikan hingga ancamam pembunuhan yang dilakukan Victor Laiskodat ketua parta NasDem.

“Kalau kasus Victor didiamkan, yang goblok siapa? Yang tolol siapa? Yang intoleran siapa? Jangan merasa paling toleran, palng pintar!,” tegasnya.[snc/fatur]

Sumber: kabarsatu.news

(nahimunkar.com)

***

Kenapa ketika yang  jadi sasaran ujaran kebencian itu umat Islam, kemudian sang tokoh ini mingkem? Justru dia bersuara ketika ada kepentingan untuk menyudutkan Islam? Dalam kasus ini adalah dakwah Islam yang sengaja di sudutkan.

Inilah beritanya.

***

KH Said Aqil Nilai Dakwah di Indonesia Dipenuhi Ujaran Kebencian

Dakwah di Indonesia dipenuhi dengan ujaran kebencian dan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 “Ujaran-ujaran kebencian, intoleransi, dan ajakan radikal mewarnai dakwah di negeri kita,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam opininya di Harian Kompas edisi Kamis (29/11/2017) halaman 7 berjudul Dai Kombatan dikutip dari NU Online.

Kata Kiai Said, dai-dai dengan tendensi kebencian tersebut tidak sedikit yang melahirkan atau menetaskan pengikut militan.

Hal ini, menurut kiai kelahiran Cirebon ini, didukung dengan karakter generasi milenial yang begitu mudah terseret arus radikalisme karena sihir dakwah yang berkecenderungan keras.

 “Kemudian para radikalis mengendus celah dan kesempatan ini sehingga dengan mudah bermain menyalakan bara,” jelas Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Untuk menyikapi derasnya arus ujaran kebencian yang menjadi salah satu faktor timbulnya radikalisme ini, NU dalam perhelatan Munas Alim Ulama dan Konbes di Lombok, NTB pada 23-25 November 2017 lalu membahas secara serius terkait hate speech ini.*/suaranasional.com

***

Dai Kombatan

Bermunculannya banyak dai pertanda bahwa ada kebutuhan di masyarakat untuk mendapatkan guyuran rohani. Masyarakat kita saat ini, dalam banyak amatan menunjukkan gairah spiritualitas dan keagamaan yang tinggi. Sementara fakta lain menunjukkan, masyarakat kita juga sedang dirundung meningkatnya pemahaman, sikap, dan tindakan radikalisme. Peristiwa terorisme yang berkali-kali terjadi, terlebih akibat sihir Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), membuktikan eskalasi radikalisme kerap sulit terbendung. Tampaknya ini juga fenomena mondial atau global yang sedang bergeliat di berbagai belahan dunia. Melahirkan dai yang kompeten telah banyak dilakukan berbagai pihak. Berbagai pelatihan dai digelar secara berkala. Ada dai yang lahir dari pelatihan dan juga ada dai yang lahir secara natural. Munculnya dai yang kemudian masyarakat menyebutnya sebagai ”dai selebritas” menjadi fenomena tak terelakkan akibat ”pasar” yang kian membesar. Seakan tiap dai punya ”ceruk” pasar masing-masing. Tak kaget pula, dengan berkembangnya teknologi digital, semakin pula melahirkan ”dai-dai Youtube” yang tampil dengan segala tausiah bermacam wujud. Yang membuat kita mengelus dada, muncul lagi dai-dai produk ini yang sering tak terkendali. Ujaran-ujaran intoleran, kebencian, dan ajakan radikal mewarnai wajah dakwah di negeri kita. Tak sedikit yang lalu menetaskan pengikut militan. Generasi milenial begitu mudah terseret arus radikalisme karena sihir dakwah ”keras”. Para radikalis mengendus kesempatan dan lalu bermain dengan menyalakan bara.

Meniti dakwah moderat

Belum lama berselang, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan kegiatan yang terasa menohok. Tak seperti biasanya dengan kegiatan yang ” monoton”, tampaknya BNPT ingin melempar ”jurus” inovatifnya yang tentu saja berdasar dari hasil penelitian secara saksama. Ada kebutuhan yang mendesak diwujudkan sehingga meniscayakan perlunya aksi yang lebih jitu. Apa gerangan? BNPT menyelenggarakan ”Pelatihan Public Speaking” yang ditujukan pada peserta khusus dari para mantan napi teroris (napiter). Ada 30 napiter dari berbagai daerah, termasuk daerah-daerah berzona ”merah”. Mereka dikumpulkan di sebuah resor di Bogor selama empat hari dan digodok oleh para pelatih kampiun. Materi yang diajarkan mulai dari pelatihan motivasi, hingga bagaimana mampu berbicara terampil, ditambah pelatihan bagaimana tampil memesona di depan layar kamera. Dari sejumlah informasi, pelatihan itu menuai sukses. Para peserta merasa mendapat ”sesuatu” yang baru. Peserta ”binaan” BNPT ini berharap kegiatan yang seperti itu bisa rutin diadakan. Dan, yang terpenting, bagi peserta ada tindak lanjut. Karena bagi mereka, kegiatan berdakwah sudah menjadi panggilan. Hanya mereka perlu diberikan wadah yang pasti. Mereka butuh ”panggung” untuk mementaskan pengalaman ”tragis” mereka saat berada dalam jeratan radikalisme. Ternyata, pelatihan ini sedari awal dirancang berkesinambungan dan peserta nantinya akan disalurkan BNPT melalui kegiatan berkala Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan tangan BNPT di daerah. Kegiatan pelatihan itu sejatinya sepadan dengan istilah ”pelatihan dai” yang umum dilaksanakan. Kedahsyatan pelatihan model BNPT bisa dilihat dari pesertanya yang semua mantan napiter. Semua mantan kombatan yang pernah melakukan aksi teror dan terlibat jaringan teroris. Semua adalah sosok-sosok gaek dan terlatih. Tidak ada satupun yang ”unyu-unyu”. Dan, mereka sekarang sudah ”tobat” serta berikrar kembali ke NKRI. Para eks kombatan ini tepat diberi pelatihan dakwah. Pertama, mereka sudah memiliki ”modal” dari sisi pengetahuan keagamaan maupun keterampilan berkomunikasi. Mereka ada yang memang berasal pendidikan keagamaan dan berprofesi menjadi ”ustaz”. Dengan kepiawaiannya, terbukti mereka terampil menarik pengikut yang militan. Dari sinilah, perlu pelatihan kembali untuk menyatukan visi dan misi dalam bingkai kebangsaan dan keindonesiaan. Mereka harus diajak menyuarakan dakwah yang damai dan menangkal kampanye radikal. Kedua, para eks kombatan ini mempunyai banyak pengalaman di dunia radikalisme. Bagaimana proses mereka awal terpengaruh dan lalu masuk jaringan radikal hingga kemudian melakukan amaliyat teror. Pengalaman mereka penting untuk disampaikan kepada masyarakat dalam rangka menjadi ibroh (pelajaran berharga) sehingga meresap sebagai hikmah (wisdom) bagi masyarakat untuk bersigap menghindar dari pesona radikalisme. Dengan kata lain, ini mampu menjadi daya tangkal masyarakat dari radikalisme dan terorisme. Ketiga, dari segi kebutuhan dan momentum pelatihan ini sangat tepat diadakannya di saat menjamurnya ”dai-dai kalap” yang melempar kebencian dan mengajak pada jalan radikal. Sudah banyak generasi bangsa ini jadi korban dengan tiba-tiba menghujat keluarganya dan mengumpat NKRI serta aparaturnya dengan ungkapan thoghut, kafir, bidah atau sirik? Begitu juga anak muda yang menghunus pisau melawan aparat. Atau pelemparan bom molotov ke kantor polisi dan bahkan pembakaran kantor polisi seperti yang terjadi di Sumatera Barat. Mereka menjadi lone wolf yang begitu liar dan ganas karena berlebihan (ghuluw) dalam sikap keagamaannya akibat tebaran dakwah picik baik dari saluran ”manual” maupun ”dunia maya”.

Saatnya ”dai kombatan”

Nah, jelaslah manfaat pelatihan dai kombatan. Ini menjadi bukti betapa pentingnya melahirkan dai dari mantan napiter. Selama ini mungkin kita lebih terperangah oleh dai-dai dari habitat ”normal” saja. Nyatanya, tak jarang mereka membuat masyarakat jenuh dan bukan tak mungkin melahirkan sikap apatis terhadap model, sosok atau juga ”menu-menu” dakwah yang begitu-begitu saja. Masyarakat perlu mendapatkan curahan kerohanian baru agar bisa meraih cara pandang luas serta mampu menjadikan pelajaran berharga. Kini, kita perlu lebih menoleh pada mereka yang pernah berada di ”jalan yang salah” karena gairah keagamaan yang menyala-nyala tanpa sikap kritis atau akibat ”kecanggihan” komunikasi para mentor radikal. Kita tak bisa menepis fakta bahwa menjadi radikal atau moderat adalah buah dari pelatihan. Sebagai tandingan, karena itu pelatihan dakwah yang membawa pada sikap moderasi, toleransi dan inklusif perlu digencarkan dengan sasaran utama mereka yang punya pengalaman di jejaring radikalisme. Pendekatan lunak sebagai strategi utama deradikalisasi terorisme yang telah dijalankan selama ini memerlukan langkah-langkah lebih inovatif. Negara kita sudah mendapat acungan jempol dari negara lain karena dipandang berhasil menanggulangi terorisme. Kita tentu bangga. Namun, kita akan lebih bangga bila mampu melahirkan sosok-sosok ”dai kombatan” yang dulunya mereka mendakwahkan kekerasan dan anti-NKRI, sekarang beralih mendakwahkan kedamaian dan cinta NKRI.

https://kompas.id/baca/opini/2017/11/29/dai-kombatan/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.083 kali, 1 untuk hari ini)