• Di tengah hiruk pikuk orang-orang memasalahkan kenaikan harga BBM dan banyaknya koruptor di Indonesia, tahu-tahu FUI mengumumkan akan menyelenggarakan Aksi Sejuta Umat INDONESIA TANPA MAKSIAT.
  • Apakah FUI yang biasanya di barisan depan ketika ada masalah Ummat, kini kurang peka sebagaimana terhadap syiah gaungnya kurang juga, seperti FPI justru adem-adem saja dan malah jadi tanda tanya dari sebagian Ummat?
  • Biarlah tentang syiah itu mereka jawab dengan bukti. Bila memang melempem maka Ummat juga akan tahu. Namun rupanya Aksi Sejuta Umat INDONESIA TANPA MAKSIAT itu mencakup pula masalah kenaikan BBM dan banyaknya koruptor. Walau hal itu baru bisa diserap dari tulisan mereka. Sedang buktinya, merekalah yang akan melaksanakannya.

Berikut ini tulisan mereka tentang itu.

***

Ikutilah Aksi Sejuta Umat INDONESIA TANPA MAKSIAT

syaiful falah | Rabu, 28 Maret 2012 | 14:31:49 WIB

Kepada Yang Terhormat:

Pimpinan organisasi massa Islam, Pesantren, DKM masjid-masjid, majalis-majelis ta’lim, dan lembaga-lembaga Islam lainnya.

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

FORUM UMAT ISLAM (FUI)

Mengajak saudara-saudara sekalian bersama para jamaah dan simpatisan serta umat Islam pada umumnya untuk mengikuti Aksi Sejuta Umat INDONESIA TANPA MAKSIAT, Jum’at 30 Maret 2012, pukul 13.30 Wib s/d selesai dari Bundaran HI Jakarta menuju lapangan monas.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Koordinator Lapangan:

Ust Awit Masyhuri: 0852 2296 1084

Ust. Bernard Abdul Jabbar: 0856 9261 7850

Dihimbau agar berpakaian putih-putih

Forum Umat Islam (FUI):

Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Hidayatullah, Al Washliyyah, YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, KISPA, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Forum Ruju’ Ilal Haq, FOS ARMI (Forum Sillah Ukhuwah Antar Pemuda Muslim), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

***

Menaikkan Harga BBM dan Korupsi adalah Kemaksiatan Besar

Shodiq Ramadhan | Rabu, 28 Maret 2012 | 08:35:19 WIB

Kaum muslimin rahimakumullah,

Demo menolak kenaikan harga BBM telah pecah di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia. Bentrokan pun terjadi antara para mahasiswa sebagai demonstran dengan aparat keamanan yang menjaga jalannya demo. Pemberitaan media massa pun didominasi warna-warni berita demo penolakan kenaikan harga BBM. Dan berita itu pun telah menjadikan isu korupsi hilang bak ditelan bumi.  Apalagi isu kemaksiatan dan aliran sesat.

Oleh karena itu, ketika Forum Umat Islam (FUI) mengajak para pimpinan ormas dan lembaga Islam serta umat secara umum untuk Aksi Sejuta Umat Indonesia Tanpa Maksiat insyaallah Ba’da sholat Jumat 30 Maret, sebagian umat mengatakan lho kok tidak mengangkat isu BBM?  Kok nggak peduli masalah korupsi?  Tentu ini adalah salah persepsi yang harus dikoreksi.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya maksiat dalam pandangan Islam tidaklah terbatas pada perkara molimo yang biasanya dikenal oleh masyarakat, yakni main judi, main perempuan, main candu/narkoba, maling (mencuri), dan minum-minuman keras.

Secara hakiki maksiat adalah perbuatan durhaka (asha) kepada Allah SWT. Perbuatan maksiat bisa berupa menolak melaksanakan perintah Allah SWT atau melanggar  larangan-Nya. Orang yang tidak mau melaksanakan kewajiban sholat, kewajiban shaum Ramadhan, kewajiban membayar zakat, dan kewajiban pergi haji bagi muslim yang punya kemampuan, adalah perbuatan maksiat. Demikian juga perbuatan melanggar larangan Allah SWT seperti perbuatan melanggar larangan mencuri, larangan merampok, larangan berzina, larangan minum-minuman keras dan memakai narkoba, larangan membunuh, larangan memakan riba, larangan mensekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain.

Oleh karena itu, prinsip dari perbuatan dikatakan maksiat dalam ajaran Islam adalah tindakan menyalahi syariat Allah, atau mengambil alternatif selain keputusan Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab 36).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sebab turunnya ayat di atas adalah keengganan seorang wanita bangsawan Quraisy yang bernama Zainab bin Jahsy dan saudara lelakinya yang bernama Abdullah bin Jahsy terhadap pinangan yang disampaikan Rasulullah saw. Kepada wanita tersebut lantaran pinangan itu untuk putra angkat beliau, yakni Zaid bin Haritsah. Namun karena Allah SWT telah menetapkan bahwa wanita itu harus menikah dengan Zaid untuk tujuan tasyri’, maka turunlah ayat tersebut yang meminta kepada wanita itu dan saudara lelakinya untuk tidak menolak pinangan tersebut. Dan keumuman ayat di atas berlaku bagi berbagai perkara yang telah ditetapkan syariat agar setiap mukmin maupun mukminah wajib mengikutinya tanpa syarat. Menolaknya atau memiliki alternatif yang lain dianggap sebagai tindakan kemasiatan kepada Allah dan Rasul-nya dan haram hukumnya bagi umat Islam.Na’udzubilah min dzalik!

Kaum juslimin rahimakumullah, 

Tindakan pemerintah menaikkan harga BBM dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang adalah tindakan maksiat, sebab kebijakan tersebut melanggar larangan berbuat zalim, melanggar larangan menyulitkan rakyat.

Kalau alasan pemerintah adalah karena subsidi BBM tidak tepat sasaran, sehingga banyak orang miskin tidak merasakan subsidi APBN tersebut, maka dengan menaikkan harga BBM secara pasti pemerintah telah menyulitkan bukan saja orang-orang miskin yang tambah miskin lantaran daya belinya semakin anjlok akibat kenaikan harga-harga barang dan jasa sebagai dampak langsung kenaikan harga BBM, juga orang-orang yang hidupnya sedikit di atas garis kemiskinan pun ikut jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Kalau alasan pencabutan “subsidi” BBM adalah untuk mempertahankan kebijakan neraca APBN yang berimbang, kenapa yang dicabut subsidi BBM yang dampaknya pasti menaikkan harga-harga barang dan jasa dan menurunkan daya beli masyarakat alias memperbesar angka kemiskinan?  Kenapa yang dicabut bukan pos utang luar negeri dan bunganya yang setiap tahun dikeluarkan tidak kurang dari 100T, sedangkan pengurangan subsdidi BBM yang harus ditebus dengan penderitaan rakyat itu diperkirakan hanya sekitar 40 T.

Bahkan Ketua Banggar DPR Melchias Markus Mekeng mengatakan, APBN 2012 tetap aman meski tanpa kenaikan harga BBM. Tanpa kenaikan harga, subsidi BBM membengkak hingga Rp 178,67 triliun. Namun, beban ini bisa ditutup oleh penghematan belanja barang pemerintah, penggunaan dana sisa anggaran lebih (SAL), dan peningkatan pendapatan minyak mentah.

Belum lagi rumor yang telah beredar di masyarakat bahwa subsidi BBM selama ini terlalu banyak dikorupsi, demikian juga permainan korup dan kotor dari perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di Indonesia yang melibatkan parata hingga istana. Lebih-lebih bila ditinjau keberadaan BBM sebagai barang milik umum rakyat Indonesia sebagaimana disebut dalam teks hadits Nabi saw bahwa kaum muslimin berserikat dalam tiga barang di antaranya adalah api, bukan milik Negara atau pemerintah apalagi swasta asing, maka seharusnya BBM tiak diswastanisasi apalagi diserahkan kepada investor asing.  Sungguh ini pelanggaran  syariat yang merupakan kemaskiatan yang besar. Wallahu a’lam!

Kaum mslimin rahimakumullah,   

Demikian juga korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara adalah tindakan maksiat yang  besar. Apalagi korupsi itu sudah diatur sedemikian rupa sehingga semua pihak yang terkait ikut mengambil peran dalam suatu kasus korupsi. Maka nilai kemaksiatannya jauh lebih besar lagi.

Korupsi pejabat jelas perbuatan maksiat karena melanggar firman Allah SWT berfirman: Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran 161).

Kaum muslimin rahimakumulah, 

Lebih jauh dari itu, tindakan menaikkan harga BBM yang berefek semakin mencekik rakyat adalah karena pemerintah ini sadar atau tidak, telah mengikuti arahan dari sistem ekonomi liberal yang didasari oleh sekularisme. Yakni paham yang mengunci agama di dalam gereja atau tempat-tempat ibadah, sehingga mereka yang mempercayai ideologi tersebut membatasi agama Islam hanya rukun Islam yang lima. Selainnya harus menggunakan selain Isalm yang hari ini diterapkam Negara. Padahal sekuarisme  adalah paham yang sesat dan menjadikan orang yang meyakininya atau mengamalkannya akan dikenai kehinaaan di dunia (QS. Al Baqarah 85).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, menaikkan harga BBM, memback-up para koruptor adalah tindakan maksiat dan kezaiman yang nyata. Haram bagi umat Islam mengikuti dan mendukung pemerintah yang zalim. Allah SWT berfirman: Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Huud 113).

Baarakallahu lii walakum (si online)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 499 kali, 1 untuk hari ini)