Eramuslim.com – Jajaran kepolisian memunculkan kegaduhan baru dengan menangkapi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pasca Aksi Bela Islam II. Apalagi cara-cara penangkapan yang dilakukan aparat kepolisian dilakukan dengan mengedepankan arogansi kekuasaan. Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (8/11).

IPW mengingatkan, aktivis HMI bersama para ustad, habib, ulama, dan ratusan ribu umat Islam lainnya melakukan Aksi Bela Islam II karena Polri dinilai lamban dalam memproses kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Kenapa mereka yang cenderung dikriminalisasi dan langsung ditangkap. Sementara sumber masalahnya, Ahok yang dituduh menistakan agama cenderung dipolemikkan Polri dan kepolisian tidak main tangkap dalam kasus Ahok,” tegas Neta.

Disampaikan, dalam menangani Aksi Bela Islam II sebenarnya Polri sudah bekerja profesional, proporsional, dan elegan. Akan tetapi pasca Aksi Bela Islam II aparat kepolisian justru mempertontonkan arogansi, main tangkap, dan jemput paksa.

“Kenapa Polri cenderung menggunakan cara-cara Orde Baru dalam menghadapi aktivis mahasiswa. Polri harusnya menyadari bahwa peran mahasiswa dan aktivis sangat besar dalam menumbangkan kekuasaan Orde Baru hingga nasib Polri bisa seperti sekarang ini,” jelasnya.

Dalam penilaian IPW, jika Polri benar-benar bekerja profesional tentu tidak ada diskriminasi. Dalam menangani kasus Ahok misalnya, Polri juga harus bekerja secepat menangkapi aktivis HMI.

Selain itu Polri juga harus mengusut rekaman video yang beredar di masyarakat dimana ada pejabat Polri yang memprovokasi massa ormas keagamaan untuk menyerang aktivis HMI.

“Kenapa video ini tidak diusut dan malah aktivis HMI yang dikriminalisasi,” kata Neta.

IPW berharap jajaran Polri bekerja profesional dan proporsional serta tidak mengedepankan arogansi, sehingga tidak akan menimbulkan kegaduhan baru. Jika mengedepankan arogansi, dengan cara menangkapi aktivis HMI, Polri bisa dituding tidak independen dan cenderung mengalihkan perhatian publik dari kasus Ahok.

Dampaknya, bukan mustahil akan muncul masalah baru, yakni mahasiswa dan aktivis akan melakukan aksi demo untuk mengecam Polri, yang ujung ujungnya bisa membenturkan polisi dengan mahasiswa, yang merusak citra Polri.(ts/akt)

https://www.eramuslim.com/ Selasa, 8 Safar 1438 H / 8 November 2016

***

Operasi Tengah Malam, Penangkapan Kader PB HMI oleh Polisi seperti Zaman PKI

hmi-jaksel

Eramuslim.com – Pihak Polda Metro Jaya melakukan penangkapan terhadap sejumlah diduga perusuh aksi damai bela Islam, yang berlangsung di Istana Negara, Jumat (4/11).

Berdasarkan informasi Sekjen PB HMI beserta empat kader HMI lainnya ditangkap polisi pada Senin (7/11) malam dan Selasa (8/11) dini hari.

Wakil Bendahara Umum PB HMI Tegar Putuhena menyebutkan penangkapan yang dilakukan pihak Kepolisian tengah malam seperti zaman PKI.

“Ini udah kayak zaman PKI aja. operasinya tengah malam. Alamat PB HMI kan jelas, mestinya pagi atau siang kan bisa,” kata Tegar ketika dikonfirmasi, Selasa (8/11).

Atas penangkapan kader PB HMI, dia mengaku langsung menyiapkan kuasa hukum untuk mendampingi para kader tersebut selama menjalani proses hukum.

“Selain sekjen ada empat kader lainnya yang ditangkap polisi. Kita lagi menyiapkan tim hukum agar bisa mendampingi. Kami malam ini masih dipersulit oleh penyidik untuk bisa masuk ke dalam.”

Tegar beserta puluhan fungsionaris PB HMI saat ini berada di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.(ts/akt)

https://www.eramuslim.com/ Selasa, 8 Safar 1438 H / 8 November 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.583 kali, 1 untuk hari ini)